Nabi Saw Mengusir Sahabat Munafiq Dari Masjidnya
SUMBER: jakfari.wordpress.com
Oleh Ibnu Jakfari
.
Demi Kemantapan Akidahmu, Jangan Baca Hadis Ini!
Seorang santri aktif nun lugu datang menemui sang Kyai dengan perasaan gundah bingung dan diliputi perasaan ingin tau… ia datang tidak seperti biasanya… setelah mencium tangan penuh berkah sang Kyai, ia pun duduk bersimpuh di hadapannya seakan di atas kepalanya ada seokor burung…. Sang Kyai bertanya, anakku, gerangan apa yang sedang kamu alami, sepertinya ada yang mengguncang jiwamu? Coba jelaskan, pasti Kyaimu ini akan menenagkan kegaduhan jiwamu itu!
Benar, Kyai, ada sesuatu yang benar-benar telah membuat jiwaku guncang, pikiranku gaduh dan yang lebih mengerikan lagi, tambahanya, akidahku yang telah Romo Kyai tanamkan seakan hendak tercabut sampai ke akar-akarnya!
Sepontan sang Kyai duduk tegak mendengarnya! Ada apa ini le?! Bukankah akidah yang telah kita warisi dari Para Salafus Shaleh, dari para imam Ahli hadis, seperti Imam Ahmad dll. dan para ahli tafsir seperti Imam ath Thabari, Imam Ibnu Katsir dkk. sudah cukup mantap?! Lalu apakah yang harus kau risaukan? Mantapkan akidahmu dengan menjadikan mereka sebagai panutan! Jangan dengan bisikan setan-setan jahat dan para dedemit perampok agama!
Le, usirlah bisikan setan itu dengan memperbanyak istighfar dan isti’adzah!
Tapi, Kyai… belum juga selesai melanjutkan omongannya, sang Kyai memotong dan berkata, Tapi, tapi apa?! Tapi Kyai, itu lho, para imam besar kita yang selama ini Romo Kyia anjurkan saya untuk membacanya… justeru mereka mulai merusak akidah saya!
Apa? Tidak! Tidak mungkin… Coba, apa yang kamu baca?!
Itu Kyai, hadis-hadis shahih yang diriwayatkan para ulama dan imam kita itu sepertinya kurang ASWAJA… padahal sejak dulu Pak Kyai kan menanamkan kepada kami bahwa semua sabahat itu ‘udûl/baik dan shaleh… tidak ada yang munafik… jiwa mereka semua, ajma’în telah menyatu dengan sunnah dan didikan Nabi saw.! Mana mungkin ada yang munafik?! Lah wong mereka itu langsung dididik kanjeng Nabi Muhammad! Semua mereka itu radhiallah ‘anhum wa radhû ‘anhum!
Ya, benar! Mereka semua tidak ada yang munafik! Mereka semua radhiallah ‘anhum wa radhû ‘anhum! Dan jangan pernah ragu mengambil ajaran agama dari mereka! Mereka penyambung lidah suci Kanjeng Nabi saw.!
Jadi, coba baca aja apa yang kamu temukan itu!
Sang santri mulai membacanya, Bismillahir rahmanir rahim, qala kyai mushannif–rahimahullah- lalu ia mulailah membacakan beberapa hadis koleksi para Imam agung Ahlusunnah seperti di bawah ini.
Ibnu Jakfari berpesan:
Dan demi kemantapan akidah ASWAJA kamu, jangan baca hadis-hadis shahih di bawah ini! Itu saran saya.
Terkait dengan tafsir ayat 101 surah at Taubah:
.
وَ مِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرابِ مُنافِقُونَ وَ مِنْ أَهْلِ الْمَدينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفاقِ لا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلى عَذابٍ عَظيمٍ
“Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan) juga (di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu) Muhammad (tidak mengetahui mereka,) tetapi (Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.”
Imam ath Thabari meriwayatkan sebuah hadis dari sahabat Ibnu Abbas –radhiyallah ‘anhu- bahwa Rasulullah saw. berpidato pada hari Jum’at lalu di antaranya beliau bersabda:
“Hai fulan, bangun dan keluarlah kamu dari masjid! Kamu munafik! Hai fulan, bangun dan keluarlah kamu dari masjid! Kamu munafik! Beliau mengusir banyak orang dari kalangan kaum munafik dan mempermalukan mereka. Ketika mereka keluar dari masjid, mereka kepergok Umar, melihat mereka, Umar pun bersembunyi, ia malu karena mbolos tidak hadir shalat Jum’at. Umar mengira bahwa orang-orang sudah usai shalat Jum’at… sementara mereka pun bersembunyi, mereka menyangka Umar sudah tau urusan mereka… .”[1]
Imam Ibnu Katsir meriwayatkan sebuah hadis dari riwayat Imam Ahmad dari sahabat Uqbah bin Âmir, ia berkata,
“Rasulullah saw. berpidato di hadapan kami dengan sebuah khuthbah, beliau memuji Allah kemudian berkata, “Sesungguhnya di antara kalian banyak orang munafik! Maka siapa yang aku sebutkan namanya hendaknya ia berdiri! Lalu beliau bersabda, “Berdiri hai fulan! Berdiri hai fulan! Sehingga Nabi saw. mengusir tiga puluh enam orang… .[2]
Hadis serupa juga telah dikoleksi oleh Imam ath Thabari dalam al Mu’jam al Ausath-nya,1/242. Ibnu Hazm juga mengabadikannya dalam kitab al Muhallâ-nya,11/221.
Romo Kyai, bukankah hadis-hadis ini bertentangan dengan akidah ASWAJA kita yang selama ini Panjenengan sampaikan?!
Apanya yang bertentangan? Tidak ada! Semua beres tidak ada masalah!
Lho itu, Romo. Orang-orang munafik yang diusir Kanjeng Nabi dari masjidnya… mereka itu kan orang-orang munafik! Malah “nemen” (baca keterlaluan) dalam kemunafikan mereka, sampai-sampai Kanjeng Nabi saw. mengusir mereka dan mempermalukan di hadapan umum… di hadapan para sahabat lain!
Tole anakku, kowe kudhu ngerti nak, seng diusir itu bukan sahabat… tapi orang-orang munafik! Bantah sang Kyai.
Penasaran mendengar jawaban sang Kyia, santri berbalik bertanya, ‘Kalau begitu, sahabat Nabi saw. itu siapa dan yang bagaimana?
Sahabat itu ya yang ndak munafik! Yang munafik itu ya bukan sahabat! Mana mungkin ada sahabat yang munafik! Iku kan omongannya kaum zindiq yang mau meruntuhkan agama kita dengan menuduh Nabi saw. punya sahabat munafik! Hati-hati lho kuwe, itu bisikan setan seperti itu! Begitu tegas sang Kyai.
Mendengar jawaban itu sang santri menjadi bingung tidak ketulung. Benar juga ya apa yang di sampaikan Romo Kyai… mana mungkin sabahat ada yang munafik dan mana mungkin kaum munafik itu termasuk sahabat Nabi saw.
Tapi yen dipikir-pikir, orang-orang munafik itu juga Muslim dan mengucapkan dua kalimat syahadat, ikut shalat di belakang Nabi saw. di masjidnya. Lalu apa yang membedakan sahabat yang munafik dari sahabat yang tidak munafik? Bingung juga ya! Pikiran sang santri mulai mudeng bingung orah karuan…!
Romo, ma’af, saya masih bingung atas keterangan yang Romo sampaikan tadi. Bolehkah saya bertanya untuk mengusir kebingungan pikiran saya?
Monggo, silahkan tanya aja… nanti Romo jawab… pasti mantap jawabannya.
Romo, bagaimana caranya membedakan orang-orang yang munafik di zaman Nabi saw. dengan sahabat terpuji Nabi saw.? Biar kita tidak salah pilih dan salah puji?! Tanya santri
Oh, itu yang ingin kowe tanyakan? Yo gampang le! Pokoknya yang diusir Nabi saw. dari masjid berarti dia yang munafik! Gampang kan? Gitu aja kok repot!
Mereka itu siapa Kyai? Siapa nama-nama ketiga puluh enam orang munafik yang diusir Nabi itu, biar kita tidak keliru! Jangan-jangan nanti kita sû’udzdzan, yang baik kita anggap munafik! Atau sebaliknya, yang munafik kita percayai sebagai penyambung lidah Nabi saw,? Yang bahaya Romo?!
Itulah masalahnya, mengapa dahulu para imam kita tidak menyebutkan nama-nama mereka yang diusir Nabi saw., biar kita bisa mengetahuninya! Tapi sudahlah jangan terlalu dirisaukan, yakini dan jalani aja yang sudah ada! Manut aja kepada para salaf kang shaleh, biar selamat! Lanjut Romo Kyai.
Tapi… belum usai sang santri bicara, Pak Kyai memotongnya lagi…
Tapi apa le? Kamu bingung gara-gara baca hadis-hadis tadi? Makanya jangan suka baca yang begituan… buat bingung… Romo sendiri ya bingung… tapi sudah lah jalankan yang ada saja!
Mendengar omangan sang Romo Kyai, santri itu menggerundal dalam hatinya… kalau mereka yang munafik itu belum ketahuan nama-nama mereka, lalu bagaimana kalau ternyata di antara mereka itu termasuk yang selama ini kita anggap sahabat baik dan mulai Nabi saw. atau yang dikenal dekat persahabatannya dengan Nabi saw.!
Selain itu, sepertinya, Romo Kyai mungkin belum membaca hadis riwayat Imam Muslim,8/122 dari sahabat Ammar bin Yasir –radhiallah ‘anhu- bahwa Nabi saw. bersabda:
.
في أصحابي إثنا عشر منافقا…
“Di antara para sahabatku ada dua belas orang munafik …”
Romo, Tanya sang santri, dalam hadis Imam Muslim di atas, Nabi saw. justeru mengatakan bahwa orang-orang munafik itu dari golongan sahabat beliau! Tapi Romo kok bilang, kaum munafik bukan dari golongan sahabat Nabi?!
Anakku, Romo sudah baca hadis shahih Imam Muslim yang kamu baca tadi… tapi pokoknya, kaum munafik itu bukan sahabat Nabi saw. (TITIK!). Kamu, jangan sering baca hadis-hadis seperti itu! Tidak baik. Nanti dapat merusak akidahmu! Pesan sang Romo Kyai.
Bukankan akidah kita harus dibangun di atas nash-nash shahihah, Romo?! Tegas sang santri.
Ya, benar, le. Tapi kalau ada hadis shahih yang merusak akidah, ya harus dita’wil… kalau repot, ya jangan dihiraukan… tutup saja.. jangan dibacakan kepada umum! Itu harus tetap disimpan rapat sebagai rahasia dapur kita… nanti kalau kamu sudah menjadi Kyai seperti Romo ini, kamu pasti ngerti betapa pentingnya merahasiakan sebagian hadis shahih demi kemantapan akidah kita!
Mendengar apa yang disampaikan sang Kyai, santri itu teringat ayat Al Qur’an yang berbunyi:
.
يا أَهْلَ الْكِتابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْباطِلِ وَ تَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَ أَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang hak dengan yang batil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui.” (QS. Âlu Imran;71)
Romo, bukankah Al Qur’an telah mengecam ulama yang menyembunyikan kebenaran/al haq!
Anakku, ayat itu untuk para pendeta Yahudi dan Nashrani, bukan untuk kami. Kami ini ulama pawaris para nabi as.! Jadi jangan sembarangan menuduh Romo!
.
Jadi, kalau ulama Islam merahasiakan kebenaran dan menjual al haq dengan al bathil boleh, Romo?
Hus, diam kamu, mengapa kamu menjadi cerewet sekarang!
[1] Tafsir Jâmi’ al Bayân; ath Thabari,11/10. Hadis di atas juga dapat Anda baca dalam tafsir Ibnu Katsir, 2/399.
[2] Tafsir Ibnu Katsir,2/399.
_______________________________________________________________________________
UNTUK BERKOMENTAR DAN BERINTERAKSI DENGAN PENULIS SILAHKAN KLIK DISINI
Filed under: Ilmu Hadis, Jarah & Ta'dil, Kajian Keadilan Sahabat, Perawi Hadis, Sahabat Munafiq, Sisi Lain Sahabat Nabi Saw