<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Keadilan Sahabat</title>
	<atom:link href="http://keadilansahabat.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://keadilansahabat.wordpress.com</link>
	<description>Mengkaji Sisi Lain Sahabat Nabi Saw.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 07 Oct 2011 15:33:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='keadilansahabat.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Keadilan Sahabat</title>
		<link>http://keadilansahabat.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://keadilansahabat.wordpress.com/osd.xml" title="Keadilan Sahabat" />
	<atom:link rel='hub' href='http://keadilansahabat.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Studi Kritis Hadis Dua Belas Orang Munafik</title>
		<link>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/10/07/studi-kritis-hadis-dua-belas-orang-munafik/</link>
		<comments>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/10/07/studi-kritis-hadis-dua-belas-orang-munafik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2011 15:25:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>keadilansahabat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Jarah & Ta'dil]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Perawi Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Munafiq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keadilansahabat.wordpress.com/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[Studi Kritis Hadis Dua Belas Orang Munafik SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran Oleh J Algar Di zaman sekarang virus salafy nashibi telah menyebar kemana-mana bahkan menjangkiti mereka yang tidak mengaku salafy. Hal ini disebabkan mereka sering membaca tulisan-tulisan salafy yang tampak ilmiah dipenuhi hadis-hadis yang ditafsirkan secara bathil. Terdapat hadis yang menjadi salah satu korban [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keadilansahabat.wordpress.com&amp;blog=22466259&amp;post=249&amp;subd=keadilansahabat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Studi Kritis Hadis Dua Belas Orang Munafik</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>SUMBER</strong>:</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2011/09/20/studi-kritis-hadis-dua-belas-orang-munafik/" target="_blank"><strong>Blog Analisis Pencari Kebenaran</strong></a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"><strong>Oleh J Algar</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Di zaman sekarang virus salafy nashibi telah menyebar kemana-mana bahkan menjangkiti <em>mereka yang tidak mengaku salafy</em>. Hal ini disebabkan mereka sering membaca tulisan-tulisan salafy yang tampak ilmiah dipenuhi <em>hadis-hadis yang ditafsirkan secara bathil</em>. Terdapat hadis yang menjadi salah satu korban kebatilan kaum salafy dan pengikutnya yaitu hadis dua belas orang munafik diantara sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim maka tak ada jalan lain bagi nashibi melemahkannya selain membuat tafsir-tafsir bathil demi membela doktrin yang mereka anut yaitu <em>“keadilan sahabat ala nashibi”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Yang kami maksud dengan <em>“keadilan sahabat ala nashibi”</em> adalah mereka menampakkan dalam perkataan mereka kalau semua sahabat itu adil tidak maksum tetapi dalam hati mereka, sahabat adalah maksum, tidak boleh dikritik, disalahkan dan dicela apapun maksiat yang mereka perbuat. Setiap maksiat dan kesalahan harus dinyatakan ijtihad yang mendapatkan pahala. <span id="more-249"></span></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Terkait dengan hadis dua belas orang munafik terdapat salafy nashibi yang membuat tulisan khusus dengan tujuan membela doktrin mereka dan mencela orang yang ia tuduh Syiah. Kami ingatkan wahai pembaca budiman, hadis ini tidak ada kaitannya dengan Syiah. Kami akan membahas tulisan mereka secara objektif dan menunjukkan apapun tafsiran yang mereka perbuat mereka tidak akan bisa mempertahankan doktrin <em>“keadilan sahabat ala nashibi”</em>.</p>
<h2 style="text-align:right;" align="right">حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أسود بن عامر حدثنا شعبة بن الحجاج عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس قال قلت لعمار أرأيتم صنيعكم هذا الذي صنعتم في أمر علي أرأيا رأيتموه أو شيئا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة ولكن حذيفة أخبرني عن النبي صلى الله عليه و سلم قال قال النبي صلى الله عليه و سلم في أصحابي اثنا عشر منافقا فيهم ثمانية لا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة وأربعة لم أحفظ ما قال شعبة فيهم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Hajjaj dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais yang berkata “saya pernah bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang terhadap Ali? Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami suatu pesan yang tidak Beliau sampaikan juga kepada orang-orang”. Saya diberitahu oleh Huzaifah dari Nabi SAW yang bersabda <span style="color:#000080;">“Di kalangan SahabatKu ada dua belas orang munafik. Di antara mereka ada delapan orang yang tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum”. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah, sedangkan empat lainnya aku tidak hafal yang dikatakan Syu’bah tentang mereka.</span> <strong>[Shahih Muslim </strong><strong>4/2143 no 2779 (9) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;" align="right">حدثنا محمد بن المثنى ومحمد بن بشار ( واللفظ لابن المثنى ) قالا حدثنا محمد بن جعفر حدثنا شعبة عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس بن عباد قال قلنا لعمار أرأيت قتالكم أرأيا رأيتموه ؟ فإن الرأي يخطئ ويصيب أو عهدا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة وقال إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال إن في أمتي قال شعبة وأحسبه قال حدثني حذيفة وقال غندر أراه قال في أمتي اثنا عشر منافقا لا يدخلون الجنة ولا يجدون ريحها حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة سراج من النار يظهر في أكتافهم حتى ينجم من صدورهم <strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basyaar [dan lafaz ini adalah lafaz Ibnu Mutsanna] keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Abu Nadhrah dari Qais bin ‘Abbad yang berkata saya pernah bertanya kepada ‘Ammar, bagaimana pendapatmu tentang peperperanganmu? Sesungguhnya pendapat itu bisa salah dan bisa pula benar atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kepadamu?. ‘Ammar berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami yang tidak Beliau sampaikan kepada orang-orang. ‘Ammar berkata sesungguhnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “sesungguhnya di kalangan umatku. [Syu’bah berkata menurut saya] ‘Ammar berkata “Huzaifah telah menceritakan kepadaku” dan [Ghundar berkata] aku melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda <span style="color:#000080;">“di kalangan umatku ada dua belas orang munafik yang tidak akan masuk surga, bahkan mereka tidak akan dapat mencium harumnya surga sampai unta masuk ke lubang jarum. Delapan orang diantara mereka pasti akan tertimpa Dubailah yaitu pijaran api yang menyengat bagian belakang pundak sehingga tembus ke dada merek</span>a <strong>[Shahih Muslim 4/2143 no 2779-(10) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"> Kedua hadis ini adalah hadis yang sama, perbedaan lafaz yang ada tidaklah bertentangan melainkan saling melengkapi. Lafaz <em>“ada dua belas orang munafik di kalangan sahabat”</em> dan lafaz <em>“ada dua belas orang munafik di kalangan umatku</em>” tidak bertentangan karena sahabat adalah umat Nabi juga.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Pada hadis pertama riwayat ‘Aswad bin ‘Aamir dari Syu’bah disebutkan bahwa dari dua belas orang munafik delapan diantaranya tidak akan masuk surga dan akan terkena dubailah</em></li>
<li><em>Pada hadis kedua riwayat Ghundar dari Syu’bah disebutkan bahwa dari dua belas orang munafik semuanya tidak akan masuk surga dan delapan terkena dubailah.</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Perbedaan lafaz ini pun tidak bertentangan melainkan saling melengkapi riwayat Ghundar juga menyebutkan bahwa empat orang yang tidak disebutkan dalam riwayat ‘Aswad juga tidak akan masuk surga. Riwayat Ghundar melengkapi riwayat ‘Aswad karena pada hadis ‘Aswad ia berkata <em>“tidak hafal apa yang dikatakan Syu’bah tentang empat lainnya”</em>. Yang hafal menjadi hujjah bagi yang tidak hafal.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka sangat salah sekali pernyataan salafy nashibi yang berkata<span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#000080;"> <em>“maka mafhum mukhalafah-nya adalah empat orang sisanya masuk surga-dimana hal ini menunjukkan taubat”</em></span></span>. Empat orang sisanya berdasarkan riwayat shahih juga tidak akan masuk surga. Sangat jelas penarikan kesimpulan nashibi itu ngawur, ‘Aswad sendiri mengatakan ia tidak hafal apa yang dikatakan Syu’bah tentang empat orang lainnya sedangkan riwayat Ghundar menyebutkan bahwa empat sisanya juga tidak akan masuk surga. Pendalilan nashibi itu yang menyatakan empat orang munafik itu akan masuk surga adalah dalil kosong tanpa faedah yang berasal dari orang yang patut diduga punya penyakit kronis kenifakan dalam hatinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak hanya itu, salafy nashibi juga menunjukkan kelemahan akalnya dalam menarik kesimpulan. Ia membawakan hadis Hudzaifah kemudian menafsirkan sekehendak hatinya yaitu hadis berikut</p>
<h2 style="text-align:right;" align="right">حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى ، حَدَّثَنَا يَحْيَى ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ وَهْبٍ ، قَالَ : كُنَّا عِنْدَ حُذَيْفَةَ ، فَقَالَ : ” مَا بَقِيَ مِنْ أَصْحَابِ هَذِهِ الْآيَةِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ ، وَلَا مِنَ الْمُنَافِقِينَ إِلَّا أَرْبَعَةٌ ، فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ : إِنَّكُمْ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُخْبِرُونَا فَلَا نَدْرِي ، فَمَا بَالُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَبْقُرُونَ بُيُوتَنَا ، وَيَسْرِقُونَ أَعْلَاقَنَا ، قَالَ أُولَئِكَ الْفُسَّاقُ ، أَجَلْ لَمْ يَبْقَ مِنْهُمْ إِلَّا أَرْبَعَةٌ ، أَحَدُهُمْ شَيْخٌ كَبِيرٌ ، لَوْ شَرِبَ الْمَاءَ الْبَارِدَ لَمَا وَجَدَ بَرْدَهُ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahyaa yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Wahb, ia berkata Kami pernah berada di sisi Hudzaifah, lalu ia berkata “Tidaklah tersisa orang yang dimaksud dalam ayat ini [yaitu QS. At-Taubah : 12] kecuali tiga orang, dan tidak pula tersisa orang-orang munafik kecuali hanya empat orang saja”. Seorang A’rabiy berkata “Sesungguhnya kalian adalah shahabat-shahabat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kalian mengkhabarkan kepada kami, lalu kami tidak mengetahuinya. Lantas, bagaimana dengan mereka yang telah merusak rumah-rumah kami dan mencuri perhiasan-perhiasan kami ?”. Hudzaifah menjawab “Mereka itu orang-orang fasik. Ya, tidaklah tersisa dari mereka [kaum munafik] kecuali empat orang, yang salah seorang dari mereka adalah seorang yang telah tua. Seandainya ia meminum air yang dingin, tentu ia tidak akan mendapati rasa dingin air itu” <strong>[Shahih Bukhari no 4658]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"> Setelah membawakan hadis ini, nashibi itu mengatakan Hudzaifah wafat tahun 36 H sedangkan perang Jamal terjadi tahun 36 H dan perang Shiffin terjadi tahun 37 H maka empat orang munafik yang tersisa hidup di zaman Ali radiallahu ‘anhu dan masuk dalam konsekuensi mafhum mukhaalafah yang disebutkan sebelumnya. Maksud perkataan nashibi ini adalah empat orang munafik yang tersisa dan hidup di zaman Ali radiallahu ‘anhu adalah empat orang munafik yang kata nashibi itu telah bertaubat dan akhirnya masuk surga.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi orang yang paham “logika” maka sudah jelas penarikan kesimpulan nashibi itu ngawur atau mengada-ada. Sebelumnya kami telah tunjukkan bahwa dalil <em>“mafhum mukhaalafah”</em> nashibi itu omong kososng. Dua belas orang munafik itu telah disebutkan semuanya masuk neraka dan kedua belas ini adalah orang yang berniat membunuh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Aqabah dimana Nabi [shalallahu ‘alaihi wasallam] berkata bahwa mereka adalah musuh Allah dan Rasul-Nya di dunia dan akhirat. Bagimana bisa musuh Allah dan Rasul-Nya dunia dan akhirat dikatakan masuk surga. Jadi pernyataan empat orang dari mereka bertaubat dan masuk surga hanya waham yang lahir dari orang yang memiliki sifat nifaq di hatinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Seandainya pun kami mengikuti waham nashibi soal <em>“empat orang munafik yang bertaubat”</em> maka apa alasan nashibi menyatakan bahwa empat orang tersebut adalah empat orang yang tersisa dalam hadis di atas. Perhatikan, menurut nashibi itu ada dua belas orang munafik</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Delapan dari mereka masuk neraka dan terkena dubailah</em></li>
<li><em>Empat dari mereka dikatakan nashibi itu bertaubat dan akhirnya masuk surga</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Kemudian lihat hadis Hudzaifah [sahih Bukhari di atas], apakah disebutkan disana<span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#000080;text-decoration:underline;"> <em>kalau empat orang yang tersisa adalah empat orang yang katanya bertaubat dan masuk surga</em>.</span></span> Bukankah sangat mungkin kalau empat orang yang dimaksud termasuk delapan orang yang terkena dubailah?. Apa dalil nashibi itu sekehendak hatinya menyatakan empat orang yang tersisa adalah empat orang yang katanya bertaubat dan masuk surga. Tidak lain hanya waham semata. Nashibi itu berhujjah dengan waham kemudian waham itu ia jadikan hujjah lagi untuk menegakkan waham lainnya. Hasilnya hanya waham di atas waham yang tidak ada nilai kebenarannya. Nashibi itu tidak mengerti cara menarik kesimpulan dengan benar.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya kami akan menunjukkan kebodohan salafy nashibi dalam pembelaan mereka terhadap kata <em>“sahabat”</em>. Jika dikatakan kata <em>“sahabat”</em> memiliki banyak arti bisa secara ashl dalam bahasa bisa juga secara <em>“ishthilahiy”</em> maka itu memang benar. Sayangnya nashibi itu tidak membahas apa yang ia maksud dengan definisi sahabat secara ishthilahiy. Bagi mereka yang mempelajari ilmu hadis terdapat banyak definisi soal sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Diantaranya Imam Nawawi berkata</p>
<h2 style="text-align:right;" align="right">فأما الصحابي فكل مسلم رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم ولو لحظة هذا هو الصحيح في حده وهو مذهب أحمد بن حنبل وأبي عبد الله البخاري في صحيحه والمحدثين كافة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Sahabat adalah setiap muslim yang melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] walaupun hanya sekilas. Pendapat ini yang shahih mengenai batasan sahabat dan ini adalah mazhab Ahmad bin Hanbal, Abu Abdullah Al Bukhari dalam shahihnya dan seluruh ulama ahli hadis <strong>[Syarh Shahih Muslim 1/35]</strong></em></p>
<h2 style="text-align:right;">الصحابي من رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم في حال إسلام الرائي, وإن لم تطل صحبته له, وإن لم يروِ عنه شيئاً. هذا قول جمهور العلماء, خلفاً وسلفاً</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Sahabat adalah orang yang melihat Rasulullah dalam keadaan islam ketika melihatnya walaupun tidak lama dan tidak meriwayatkan satu hadispun. Ini adalah perkataan jumhur ulama baik khalaf maupun salaf <strong>[Al Ba’its Al Hatsits Ibnu Katsir 2/491]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang dikatakan An Nawawi dan Ibnu Katsir itu bersesuaian dan sepertinya batasan sahabat menurut jumhur adalah <em>“melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam keadaan islam”</em>. Dan dengan definisi ini maaf tidak mengeluarkan kaum munafik dari batasan sahabat karena mereka melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan mereka mengaku islam. Kemudian datanglah Ibnu Hajar yang menyampaikan definisi baru yang menurutnya lebih shahih</p>
<h2 style="text-align:right;" align="right">أصح ما وقفت عليه من ذلك أن الصحابي من لقي النبي صلى الله عليه وآله وسلم ـ مؤمناً به ومات على الإسلام, فيدخل فيمن لقيه من طالت مجالسته أو قصرت, ومن روى عنه أو لم يروِ, ومن غزا معه أو لم يغزُ, ومن رآه رؤية ولو لم يجالسه, ومن لم يره لعارض كالعمى</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Yang paling shahih menurut penelitianku tentang hal ini, sahabat adalah orang yang bertemu Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam keadaan iman kepadanya dan wafat dalam keadaan islam. Termasuk sahabat adalah orang yang bertemu beliau baik sebentar ataupun lama, yang meriwayatkan darinya ataupun yang tidak meriwayatkan darinya, yang berperang bersamanya dan yang tidak berperang, yang melihatnya walaupun belum pernah menemaninya dan orang yang tidak melihat Beliau karena sesuatu hal seperti buta <strong>[Al Ishabah 1/7]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"> Definisi Ibnu Hajar memang lebih detail dan justru mengundang banyak hal musykil, yang anehnya tidak terpikirkan oleh salafy nashibi. Apa yang dimaksud dengan<em> “iman kepadanya”</em> apakah pengakuan mereka kalau mereka beriman atau iman sebenarnya yang ada dalam hati mereka?. Kalau iman yang dimaksud adalah berdasarkan pengakuan mereka maka definisi ini pun tidak mengeluarkan kaum munafik dari lingkup sahabat Nabi. Kalau yang dimaksud iman sebenarnya maka memang benar munafik bukan sahabat Nabi karena mereka tidak beriman, tapi tolong kasih tahu bagaimana menilai <em>“iman sebenarnya”</em> di dalam hati orang yang sudah wafat ratusan tahun.</p>
<p style="text-align:justify;"> Apa yang dimaksud <em>“wafat dalam keadaan islam”?</em>. Apakah setiap orang yang dinyatakan sahabat oleh Ibnu Hajar [dalam Al Ishabah] memiliki data riwayat bahwa mereka wafat dalam keadaan islam. Definisi ini seolah mau mengatakan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#000080;text-decoration:underline;"><em>sahabat hanya bisa ditentukan mereka sahabat atau bukan setelah ia wafat karena setelah wafat baru diketahui kalau ia wafatnya dalam keadaan islam atau bukan</em>.</span></span> Definisi yang ini hanya bersifat teoretis dan tidak memiliki implementasi praktis.</p>
<p style="text-align:justify;"> Ada sejenis orang aneh pernah berkata ketika kami tanya <em>“apa buktinya salah seorang sahabat wafat dalam keadaan islam?”</em>. Ia jawab, saya yakin mereka wafat dalam keadaan islam justru anda yang ragu yang harus membawakan bukti. Ini kan lucu, apa gunanya definisi kalau tidak digunakan sebagai pembatas, apa gunanya definisi kalau ujung-ujungnya cuma <em>“saya yakin”</em>. Sejak kapan perkataan gampangan seperti itu menjadi bukti.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mengartikan sahabat seperti itu. Sahabat yang tertera dalam hadis-hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menunjukkan orang-orang islam yang mengikuti Beliau terlepas dari kenyataan apakah mereka berpura-pura atau bersungguh-sungguh, ini alasannya mengapa Abdullah bin Ubay dan kaum munafik lainnya tetap masuk dalam lingkup sahabat. Dan terkadang ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menggunakan kata sahabat bukan berarti tertuju untuk semua sahabatnya. Ada contoh hadis yang anehnya tidak dimengerti oleh salafy nashibi, Ia pikir lafaz <em>“sahabat”</em> dalam hadis ini adalah lafaz <em>“sahabat”</em> secara ishthilah</p>
<h2 style="text-align:right;" align="right">عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Abu Sa’id Al Khudri RA yang berkata Rasulullah SAW bersabda <span style="color:#000080;">“Janganlah Kalian mencela para SahabatKu. Seandainya salah seorang dari Kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud tidak akan menyamai satu mud infaq salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya”</span> [ Shahih Bukhari 5/8 no 3673, Shahih Muslim 4/1067 no 221 (2540), Sunan Tirmidzi 5/695 no 3861, Sunan Abu Dawud 2/626 no 4658, Sunan Ibnu Majah 1/57 no 161 dan Musnad Ahmad 3/11 no 11094]</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kami sudah membahas secara khusus dalam <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/09/09/studi-kritis-hadis-larangan-mencela-sahabat-nabi-saw/">tulisan yang ini</a><span style="text-decoration:underline;"> bahwa sahabat dalam hadis di atas bukan sahabat secara ishthilah yang masyhur dalam ilmu hadis.</span> Karena jika memang begitu maka semua orang yang diajak bicara oleh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] saat itu semuanya adalah sahabat Nabi tetapi mengapa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan<span style="text-decoration:underline;"> jika mereka berinfaq tidak akan menyamai infaq salah seorang sahabat Nabi</span>. Sebab munculnya hadis ini disebutkan bahwa Khalid bin Walid mencaci ‘Abdurrahman bin ‘Auf maka disini terdapat isyarat bahwa Khalid bin Walid tidak termasuk sahabat dalam lafaz di atas dan infaqnya walau sebesar gunung uhud tidak akan menyamai infaq satu mud ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Semua ulama menyatakan Khalid bin Walid adalah sahabat Nabi tetapi Khalid bin Walid tidak termasuk sahabat yang dimaksud dalam hadis di atas karena Khalid justru termasuk orang yang dinyatakan dengan kata <em>“kalian”</em> dimana infaknya sebesar gunung uhud tidak akan menyamai infaq salah seorang dari sahabat Nabi.</p>
<p style="text-align:justify;"> Hal ini menguatkan apa yang kami katakan bahwa Ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengucapkan lafaz “sahabat” dalam hadisnya tidak selalu memiliki makna yang sama dengan “sahabat” yang dimaksud dalam ilmu hadis [secara ishthilah]. Disini salafy nashibi menunjukkan sifat kecurangan mereka</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Ketika ada hadis dengan lafaz sahabat yang menyebutkan bahwa mereka “munafik” atau “murtad” maka salafy nashibi mengatakan sahabat yang dimaksud bukan secara isthilah</em></li>
<li><em>Ketika ada hadis dengan lafaz sahabat yang menyebutkan keutamaan maka salafy nashibi memukul rata bahwa lafaz itu untuk semua sahabat secara ishthilah</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Padahal bisa jadi keutamaan itu tidak berlaku untuk semua sahabat secara ishthilah tetapi untuk sahabat-sahabat yang memang setia mengikuti Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sahabat yang fasiq dan durhaka walaupun muslim mungkin tidak layak mendapatkan keutamaan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali ke hadis dua belas orang munafik di atas, kami tidak pernah menyatakan dengan jelas <span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em>siapa kedua belas orang tersebut</em></span>. Yang jelas mereka berasal dari kalangan sahabat Nabi yaitu orang-orang yang mengikuti Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Apakah maksud hadis di atas adalah orang munafik di zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya dua belas orang?. Hal ini dikatakan oleh salafy nashibi yang <em>“suka basa basi”</em>. Tentu saja ini ngawur sejak kapan jumlah orang munafik cuma dua belas orang</p>
<p style="text-align:justify;"> Dua belas orang munafik yang dimaksud tidak lain adalah dua belas orang yang ikut bersama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam perang tabuk yang ketika perjalanan pulang mereka berencana membunuh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di bukit ‘Aqabah. Mereka adalah orang yang mengaku islam dan beriman kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan ikut dalam perang bersama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi pada hakekatnya mereka adalah munafik. Siapa kedua belas orang itu tidaklah diketahui kecuali oleh Allah SWT dan Rasul-Nya dan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberitahu kepada Hudzaifah siapa saja mereka dan berkata <em>“mereka musuh Allah dan Rasul-Nya di dunia dan akhirat”</em>. Sangat tidak mungkin kalau jumlah orang munafik hanya mereka berdua belas karena faktanya masih banyak kaum munafik yang tidak ikut saat perang Tabuk dan tinggal di Madinah. Bukankah ada diantara mereka yang menyebarkan syubhat merendahkan Imam Ali yang ditunjuk sebagai pengganti Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Madinah.</p>
<p style="text-align:justify;">Faktanya tidak ada riwayat shahih dari Hudzaifah yang menyebutkan nama dua belas orang munafik ini. Bahkan sahabat lain tidak mengetahui siapa mereka. Pernah suatu ketika Umar ingin menshalatkan salah seorang sahabat Nabi tetapi ia tidak jadi menshalatkannya karena Hudzaifah tidak menshalatkannya dan ketika Umar bertanya kepada Hudzaifah, ternyata orang itu adalah salah seorang dari kaum munafik. Hal ini membuktikan bahwa bahkan sampai orang munafik itu wafat sahabat lain masih menganggap mereka muslim dan harus dishalatkan jenazahnya. Dalam riwayat tersebut, ketika Hudzaifah menyebutkan kepada Umar maka ia berjanji tidak akan memberitahukan hal itu lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau sahabat di masa itu saja [Umar] tidak mengetahui dua belas orang munafik tersebut maka bagaimana caranya orang-orang setelah masa sahabat bisa mengetahui dua belas orang munafik tersebut. Yang patut kita permasalahkan adalah bagaimana bisa para ulama dengan mengandalkan definisi <em>“sahabat”</em> secara ishthilah bisa sok yakin sudah memisahkan antara sahabat [secara istilah] dan <em>“munafik”</em>. Apa dalilnya? Apa mereka dapat mimpi atau wangsit ketemu Hudzaifah radiallahu ‘anhu dan Hudzaifah memberitahu kepada mereka?.</p>
<p style="text-align:justify;">Salafy nashibi berkata bahwa kaum munafik yang hidup di zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah masyhur diketahui siapakah mereka ini. Orang munafik bukan sahabat dan sahabat bukan orang munafik. Mari kita tanyakan pada nashibi itu, jika memang telah masyhur maka adakah anda mampu menyebutkan nama-nama mereka, selain Abdullah bin Ubay tentunya?. Bukankah anda mengaku, siapa mereka itu telah jelas. Orang munafik bukan sahabat, ya jelas kalau sahabat yang dimaksud adalah sahabat yang benar-benar beriman dan setia kepada Allah dan Rasul-Nya maka sudah jelas mereka bukan orang munafik.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak usah jauh-jauh cukup dua belas orang munafik yang disebutkan Hudzaifah, kalau memang menurut nashibi itu telah masyhur diketahui siapa mereka. Maka silakan sebutkan nama-nama mereka?. Kalau memang telah masyhur siapa mereka maka apa artinya Huzaifah dikenal sebagai yang menjaga rahasia Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam], sesuatu yang masyhur dikenal tidak layak disebut rahasia. Kalau memang telah masyhur diketahui siapa mereka maka mengapa Umar tidak mengenalnya dan berniat menshalatkan jenazahnya sampai akhirnya ia dicegah oleh Huzaifah.</p>
<p style="text-align:justify;"> Hal ini tidaklah seperti yang dikatakan nashibi itu, diantara <em>kaum munafik itu ada yang memang masyhur siapa dirinya</em> yaitu Abdullah bin Ubay dan diantara <em>kaum munafik juga ada yang tidak dikenal siapa saja mereka</em> seperti halnya dua belas orang munafik yang diketahui oleh Huzaifah tetapi tidak diketahui oleh sahabat lainnya. Kaum munafik itu adalah orang yang hidup bersama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mereka mengaku kalau mereka beriman dan memeluk islam maka dari sisi ini mereka termasuk dalam kelompok sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Jika mereka dikenal seperti Abdullah bin Ubay maka akan mudah dikatakan kalau pada hakikatnya ia bukan sahabat Nabi yang benar-benar beriman tetapi bagaimana dengan kaum munafik yang tidak dikenal seperti kedua belas munafik [dalam hadis shahih Muslim]. Jika Huzaifah sendiri merahasiakannya maka mengapa ada <em>“ulama”</em> atau <em>“yang ngaku ngaku ulama”</em> mengklaim mengenal siapa mereka dan memastikan bahwa mereka bukan sahabat.</p>
<p style="text-align:justify;">Perdebatan ini memang terlihat hanya karena perbedaan definisi atau batasan yang digunakan soal kata <em>“sahabat”</em> tetapi pada hakikatnya kedudukan nashibi disini kayak orang ngeyel. Kami akan berikan analogi yang cukup memberikan gambaran. Di suatu negara ada pasukan yang telah berjasa besar bagi negara itu. Dalam pasukan tersebut ternyata ada pengkhianat atau mata-mata, tetapi tidak diketahui siapa ia. Kemudian sejarah menyebutkan karena jasa-jasa pasukan tersebut maka semua yang ikut dalam pasukan ini layak disebut pahlawan dan dianugerahkan medali kehormatan. Dengan berlalunya waktu, orang-orang yang hidup di zaman kemudian [di negara tersebut] ribut soal mata-mata dalam pasukan tersebut.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Orang yang kritis akan berkata “diantara semua pasukan yang disebut pahlawan itu ternyata ada pengkhianat atau mata-mata”. </em></li>
<li><em>Orang yang bodoh malah ngeyel berkata “tidak ada pengkhianat dalam pasukan tersebut, pahlawan bukan pengkhianat dan pengkhianat bukanlah pahlawan”.</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya orang yang kritis juga paham kalau pengkhianat bukanlah pahlawan tetapi kalau telah jelas siapa pengkhianat itu maka orang-orang akan menyingkirkannya dan tidak akan menyebutnya pahlawan tetapi jika tidak jelas siapa pengkhianat atau mata-mata tersebut maka orang-orang hanya melihat bahwa semua yang ikut dalam pasukan tersebut adalah pahlawan [termasuk pengkhianat itu]. Dan si bodoh bin pandir beranggapan karena semuanya telah disebut pahlawan maka tidak ada pengkhianat dalam pasukan tersebut, secara istilah pengkhianat bukan pahlawan dan pahlawan bukan pengkhianat. Si bodoh itu ribut soal definisi istilah tetapi tidak mengerti hakikat permasalahannya. Kami yakin para pembaca akan mengerti maksud dari analogi yang kami sampaikan, uups selain nashibi tentunya karena mereka adalah kaum yang hampir-hampir tidak mengerti pembicaraan. <strong>Salam Damai</strong></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">***********************</span></p>
<p>.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;color:#800000;">ARTIKEL TERKAT SAHABAT NABI SAW YANG MUNAFIQ</span><br />
</strong></p>
<ol>
<li><a href="../2011/10/07/2011/10/07/2011/08/28/nabi-saw-mengusir-sahabat-munafiq-dari-masjidnya/" target="_blank">Nabi Saw Mengusir Sahabat Munafiq Dari Masjidnya</a></li>
<li><a href="../2011/10/07/2011/10/07/2011/08/29/sahabat-nabi-yang-dikatakan-munafik-dalam-shahih-muslim/" target="_blank">Sahabat Nabi Yang Dikatakan Munafik Dalam Shahih Muslim?</a></li>
<li><a href="../2011/10/07/siapa-bilang-kaum-munafik-bukan-sahabat-nabi-saw/" target="_blank">Siapa Bilang Kaum Munafik Bukan Sahabat Nabi Saw.?!</a></li>
<li><a href="../2011/10/07/sahabat-nabi-yang-ingin-membunuh-beliau-saw/" target="_blank">Sahabat Nabi Yang Ingin Membunuh Beliau saw.</a></li>
<li><a href="http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/10/07/studi-kritis-hadis-dua-belas-orang-munafik/" target="_blank">Studi Kritis Hadis Dua Belas Orang Munafik</a></li>
</ol>
<p style="text-align:center;">_________________________________________________________________________</p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#ff0000;">Untuk berkomentar dan berinteraksi dengan penulis silahkan </span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2011/09/20/studi-kritis-hadis-dua-belas-orang-munafik/" target="_blank">KLIK DISINI</a></strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/ilmu-hadis/'>Ilmu Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/jarah-tadil/'>Jarah &amp; Ta'dil</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/kajian-hadis/'>Kajian Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/kajian-keadilan-sahabat/'>Kajian Keadilan Sahabat</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/perawi-hadis/'>Perawi Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/sahabat-munafiq/'>Sahabat Munafiq</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/keadilansahabat.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/keadilansahabat.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/keadilansahabat.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/keadilansahabat.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/keadilansahabat.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/keadilansahabat.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/keadilansahabat.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/keadilansahabat.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/keadilansahabat.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/keadilansahabat.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/keadilansahabat.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/keadilansahabat.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/keadilansahabat.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/keadilansahabat.wordpress.com/249/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keadilansahabat.wordpress.com&amp;blog=22466259&amp;post=249&amp;subd=keadilansahabat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/10/07/studi-kritis-hadis-dua-belas-orang-munafik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a69d94340a8a0712ab444967fe7a9106?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">keadilansahabat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sahabat Nabi Yang Ingin Membunuh Beliau saw.</title>
		<link>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/10/07/sahabat-nabi-yang-ingin-membunuh-beliau-saw/</link>
		<comments>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/10/07/sahabat-nabi-yang-ingin-membunuh-beliau-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2011 14:36:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>keadilansahabat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jarah & Ta'dil]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Munafiq]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Yang Kejam dan Sadis]]></category>
		<category><![CDATA[Sisi Lain Sahabat Nabi Saw]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keadilansahabat.wordpress.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat Nabi Yang Ingin Membunuh Beliau saw. SUMBER:Jakfari.Wordpress.Com Oleh Ibnu Jakfari . Ada sebuah dokumen yang rasa-rasanya agak rahasia terlanjur ditulis oleh sebagian ulama Ahluusunnah… dokumen rahasia tentang persekongkolan sebagian sahabat (tentunya yang munafik) untuk membunuh Nabi Muhammad saw. dengan menggelincirkan kendaraan yang beliau tunggangi dari atas tebing tajam yang sangat tinggi sepulang beliau dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keadilansahabat.wordpress.com&amp;blog=22466259&amp;post=244&amp;subd=keadilansahabat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Sahabat Nabi Yang Ingin Membunuh Beliau saw.</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span><a href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/04/ulama-ahlusunnah-menuduh-para-sahabat-berencana-membunuh-nabi-muhammad-saw/" target="_blank">Jakfari.Wordpress.Com</a></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>Oleh Ibnu Jakfari</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada sebuah dokumen yang rasa-rasanya agak rahasia terlanjur ditulis oleh sebagian ulama Ahluusunnah… dokumen rahasia tentang persekongkolan sebagian sahabat (tentunya<a href="http://jakfari.wordpress.com/2010/01/26/siapa-bilang-kaum-munafik-bukan-sahabat-nabi-saw/" target="_blank"> yang munafik</a>) untuk membunuh Nabi Muhammad saw. dengan menggelincirkan kendaraan yang beliau tunggangi dari atas tebing tajam yang sangat tinggi sepulang beliau dari perang Tabûk. Dokumen kejahatan itu mereka sebutkan terkait dengan tafsir ayat 74 surah at Taubah [9]: <span id="more-244"></span></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ ما قالُوا وَ لَقَدْ قالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَ كَفَرُوا بَعْدَ إِسْلامِهِمْ </strong><strong>وَ هَمُّوا بِما لَمْ يَنالُوا</strong><strong> وَ ما نَقَمُوا إِلاَّ أَنْ أَغْناهُمُ اللَّهُ وَ رَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْراً لَهُمْ وَ إِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذاباً أَليماً فِي الدُّنْيا وَ الْآخِرَةِ وَ ما لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَ لا نَصيرٍ </strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;">“<em>Mereka (</em><em>o</em><em>rang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, <strong>dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya</strong>; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali- kali tidak mempunyai pelindung dan tidak</em><em> </em><em>(pula)</em><em> </em><em>penolong di muka bumi.</em><em>”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika menerangkan ayat di atas, khususnya:<em> , <strong>dan (mereka) mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya</strong>, </em>para mufassir Ahlusunnah begitu serius &#8220;melansirkan isu itu&#8221;… mereka benar-benar telah &#8220;menuduh&#8221; ada sekelompok sahabat (<em>yang namanya dirahasiakan)</em> telah berencana dan bermakar jahat hendak mengbahisi nyawa Junjungan kita Nabi Muhammad saw.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentang ayat di atas,<strong> Ibnu Katsir</strong> berkata:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>و قد ورد أن نفرا من المنافقين هموا بالفتك بالنبي صلى اللّه عليه و سلم و هو في غزوة تبوك، في بعض تلك الليالي في حال السير، و كانوا بضعة عشر رجلا، قال الضحاك: ففيهم نزلت هذه الآية</strong><strong>  </strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan telah datang riwayat bahwa <span style="color:#0000ff;">ada sekelompk orang munafik bermaksud membunuh Nabi saw</span><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">.</span></span> ketika dalam peperangan tabuk pada salah satu malam dalam perjalanan pulang beliau. Mereka berjumlah belasan orang. Adh- Dhahhâk berkata, ‘Untuk merekalah ayat ini turun.’”</em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian <strong><em>Ibnu Katsir</em></strong> menyebutkan bukti kebenaran pendapat ini dengan mengutip beberapa riwayat para ulama dalam masalah ini, seperti riwayat<em> al Baihaqi</em> yang telah lewat, riwayat <em>Imam Ahmad, Imam Muslim</em> dan lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sebagian riwayat dikatakan bahwa yang bermaksud membunuh Nabi saw. itu adalah seorang dari suku Quraisy!</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam<em> tafsir al Jalâlain</em> (tafsir yang paling merakyat di kalangan pesantren-pesantren tradisional di bumi Indonesia) juga dijelaskan demikian ayat tersebut:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>وَ هَمُّوا بِما لَمْ يَنالُوا من الفتك بالنبي ليلة العقبة عند عوده من تبوك وهم بضعة عشر رجلا فضرب عمار بن ياسر وجوه الرواحل لما غشوه فردوا</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“dan (mereka) mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya yaitu <span style="color:#0000ff;">untuk membunuh Nabi  di malam ‘Aqabah (tebing) sepulang beliau dari Taubuk</span>. Mereka berjumlah belasan orang. Ammâr bin Yâsir memuluk wajah-wajah kendaraan mereka dan menghalaunya ketika mereka hendak mengerumuni Nabi saw.”</em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ibnu Jauzi</em></strong> juga menyebutnya dalam tafsir<strong><em> Zâdul Masîr</em></strong>-nya. Ia berkata:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>و الثاني: أنّها نزلت فيهم حين همّوا بقتل رسول اللّه صلى اللّه عليه و سلم، رواه مجاهد عن ابن عباس، قال: و الذي همّ رجل يقال له: الأسود. و قال مقاتل: هم خمسة عشر رجلا، همّوا بقتله ليلة العقبة</strong><strong>.</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Pendapat kedua: <span style="text-decoration:underline;color:#800000;">Ayat ini turun tentang mereka yang berniat membunuh Rasulullah saw</span>.. demikian diriwayatkan Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata, ‘Yang berniat membunuh adalah seorang bernama Aswad. Muqatil berkata, <span style="color:#0000ff;">‘Mereka berjumlah lima belas orang. Mereka berniat membunuh Nabi saw. di malam ‘Aqabah.”</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Al Alûsi</em></strong> dalam tafsir<em><strong> Rûh al Ma’âni</strong>-</em>nya juga menegaskan adanya <em><span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">persekongkolan para sahabat untuk membunuh Nabi saw</span></em>. itu sepulang dari pertempuran Tabûk itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Serta masih banya lagi kutipan para ulama Ahlusunnah yang &#8220;menuduh&#8221; para sahabat itu telah berencana membunuh Nabi Muhammad saw.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sekilas Peristiwa Makar Itu</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bersama sahabat kepercayaan beliau;<span style="color:#0000ff;"> Hudzaifah</span> dan <span style="color:#0000ff;">Ammâr bin Yâsir</span>, Nabi saw. menempuh jalan pintas dengan melalui tebing sebuah gunung yang tajam, dan meminta sabahat beliau berjalan melewati jalan biasa. Tetapi <span style="color:#0000ff;"><em>ada belasan sabahat munafik membuntuti beliau. Mereka mengenakan penutup wajah. Dengan tujuan sesampainya di atas tebing, mereka akan mendorong kendaraan beliau agar terjungkir jatuh ke dalam jurang.</em></span> Nabi saw. mengetahui rencana jahat mereka yang membuntuti beliau menaiki tebing itu. Nabi meminta Hudzaifah untuk mengusir mereka! Ia pun bergegas mengusir mereka. Sekembalinya, <span style="color:#0000ff;"><em>Nabi saw. bertanya kepadanya, ‘Tahukan engkau siapa mereka? Dan apa rencana mereka? Hudzaifah menjawab, aku tidak kenali wajah-wajah mereka karena mereka menggunakan penutup wajah. Tetapi aku kenali kendaraan-kendaraan milik mereka.</em> <em>Kemudian <span style="color:#800000;">Nabi saw. memberitahukan kepada Hudzaifah nama-nama mereka dan bahwa mereka itu berencana membunuh beliau</span></em></span> dengan menggelindingkan kendaraan tunggangan beliau ke dalam jurang! Hudziafah berkata, <span style="color:#0000ff;"><em>‘Mengapa tidak Anda perintahkan saja agar mereka dibunuh?</em> </span><em><span style="color:#0000ff;">Nabi saw. mengatakan, <span style="color:#800000;">bahwa beliau tidak mau nanti orang-orang berkata bahwa Muhammad membunuh sabahatnya sendiri</span></span><span style="color:#800000;">!</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Untuk menyingkap waktu perhatikan rincian dokumen rahasia ini dalam riwayat para ulama Ahlusunnah!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:justify;">و أخرج البيهقي في الدلائل عن عروة رضى الله عنه قال رجع رسول الله صلى الله عليه و سلم قافلا من تبوك إلى المدينة حتى إذا كان ببعض الطريق مكر برسول الله صلى الله عليه و سلم <strong>ناس من أصحابه</strong> فتآمروا أن يطرحوه من عقبة في الطريق فلما بلغوا العقبة أرادوا أن يسلكوها معه فلما غشيهم رسول الله صلى الله عليه و سلم أخبر خبرهم فقال من شاء منكم أن يأخذ بطن الوادي فانه أوسع لكم و اخذ رسول الله صلى الله عليه و سلم العقبة و اخذ الناس ببطن الوادي الا النفر الذين مكروا برسول الله صلى الله عليه و سلم لما سمعوا ذلك استعدوا و تلثموا و قد هموا بأمر عظيم و أمر رسول الله صلى الله عليه و سلم حذيفة بن اليمان رضى الله عنه و عمار بن ياسر رضى الله عنه فمشيا معه مشيا فأمر عمارا أن يأخذ بزمام الناقة و أمر حذيفة يسوقها فبينما هم يسيرون إذ سمعوا وكزة القوم من ورائهم قد غشوه فغضب رسول الله صلى الله عليه و سلم و أمر حذيفة أن يردهم و أبصر حذيفة رضى الله عنه غضب رسول الله صلى الله عليه و سلم فرجع و معه محجن فاستقبل وجوه رواحلهم فضربها ضربا بالمحجن و أبصر القوم وهم متلثمون لا يشعروا انما ذلك فعل المسافر فرعبهم الله حين أبصروا حذيفة رضى الله عنه و ظنوا ان مكرهم قد ظهر عليه فاسرعوا حتى خالطوا الناس و أقبل حذيفة رضى الله عنه حتى أدرك رسول الله صلى الله عليه و سلم فلما أدركه قال اضرب الراحلة يا حذيفة و امش أنت يا عمار فاسرعوا حتى استووا بأعلاها فخرجوا من العقبة ينتظرون الناس فقال النبي صلى الله عليه و سلم لحذيفة هل عرفت يا حذيفة من هؤلاء الرهط أحدا قال حذيفة عرفت راحلة فلان و فلان و قال كانت ظلمة الليل و غشيتهم وهم متلثمون فقال النبي صلى الله عليه و سلم هل علمتم ما كان شأنهم و ما أرادوا قالوا لا و الله يا رسول الله قال فإنهم مكروا ليسيروا معى حتى إذا طلعت في العقبة طرحوني منها قال أفلا تامر بهم يا رسول الله فنضرب أعناقهم قال أكره أن يتحدث الناس و يقولوا ان محمدا وضع يده في أصحابه فسماهم لهما و قال اكتماهم‏</h2>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Imam al Baihaqi</strong> meriwayatkan dalam kitab Dalâil-nya dari Urwah ia berkata, “Rasulullah saw. puulang dari tabuk menuju kota Madinah, sesampainya di sebagian jalan, <span style="color:#0000ff;">sekelompok orang dari sahabat beliau berbuat makar<strong>.</strong> Mereka bersekongkol untuk menjatuhkan beliau saw. dari atas tebing di jalan itu</span>. Sesampainya mereka di ujung tebing itu, mereka bermaksud berjalan di sana bersama-sama Nabi saw. ketika telah bergabung, Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabat, ‘Siapa yang ingin menempuh jalan lewat perut lembah silahkan, ia lebih lebar untuk kalian!’ Sementara Rasulullah saw. melewati jalan tebing itu. Para sahabat melewati perut lembah kecuali beberapa orang yang berencana berbuat makar terhadap Rasulullah saw. Ketika beliau mendengar pengumuman itu mereka bersiap-siap dan mengenakan penutup wajah dan berencana melakukan makar besar. Rasulullah saw. memerintahkan <span style="color:#0000ff;">Hudzaifah bin al Yamân ra</span>. Dan <span style="color:#0000ff;">Ammâr bin Yâsir ra</span>.. Keduanya berjalan bersama beliau, Ammâr diperintah untuk memegang kendali kendran beliau, sementra Hudzaifah diminta untuk menuntunnya. Ketika mereka sedang berjalan, mereka mendengar suara suara langkah-langkah mereka (yang bermakar itu). Mereka berusa menerobos rombongan Nabi saw. Beliau marah dan memerintahkan Hudzaifah untuk menghalau mereka. Hudzaifah melihat marah  Rasulullah saw.. Hudzaifah kembali ke belakang dengan membawa tongkat kecil untuk menghalau mereka. Hudzaifah menghadap wajah-wajah kendaraan mereka dan memukulnya dengan tongkat itu. Hudzaifah melihat mereka dalam keadaan mengenakan penutup wajah seperti kebiasaan sebagian kaum musafir. Allah menanamkan rasa takut dalam hati mereka ketika mereka melihat Hudzaifah ra. dan mereka mengira bahwa Hudzaifah mengetahui rencana jahat mereka terbongkar. Mereka bercepat-cepat lari dan bergabung dengan orang-orang lain. Hudzaifah ra. kembali kepada Rasulullah saw., setelah sampai, beliau memerintahnya dan Ammâr agar bercepat-cepat menuntun kendaraan beliau sehingga sampai di puncak tebing itu dan setelahnya mereka keluar darinya sambil menanti rombongan lain yang menempuh jalan perut lembah.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><em>Nabi saw. berkata Hudzaifah, ‘Hai Hudzaifah, akapah engkau mengenal seorang dari mereka itu?</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><em>Hudzaifah menjawab, <span style="color:#ff0000;">‘Aku mengenali kendaraan-kendaraan itu milik si fulan dan si fulan.</span> Gelapnya malam menutupi wajah mereka di samping itu mereka mengenakan penutup wajah.”</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><em>Nabi saw. bersabda, “Tahukan kamu apa mau mereka?”</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><em>Tidak. Demi Allah. Jawab Hudzaifah.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#000080;">Nabi saw. menjelaskan,</span> <span style="color:#ff0000;">“Mereka berencana jahat membunuhku. <span style="color:#000080;">Mereka ikut berjalan bersamaku sehingga ketika sampai di atas tebing mereka akan melemparkanku dari aatasnya.”</span></span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><em>Hudzaifah berkata, “Mengapakah tidak Anda perintahkan saja agar kami penggal leher-leher mereka?!”</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><em>Nabi saw. <span style="color:#800000;">“Aku tidak suka nanti orang-orang berkata Muhammad membunuh sahabatnya sendiri.”</span></em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><em>Kemudian Nabi saw. menyebutkan nama-nama mereka untuk Hudzaifah dan Ammâr dan meminta keduanya merahasiakan</em></span>.<a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/04/ulama-ahlusunnah-menuduh-para-sahabat-berencana-membunuh-nabi-muhammad-saw/#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat-riwayat senada juga telah disebutkan oleh para ulama seperti<strong><em> Syeikh Jalaluddin as Suyuthi</em></strong> dalam tafsirnya dan lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di bawah ini saya sebutkan teks asli riwayat tanpa terjemahan sekedar untuk melengkapi.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>
<h2 style="text-align:right;">و أخرج البيهقي في الدلائل عن ابن اسحق نحوه و زاد بعد قوله لحذيفة هل عرفت من القوم أحدا فقال لا   فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ان الله قد أخبرني بأسمائهم و أسماء آبائهم و سأخبرك بهم ان شاء الله عند وجه الصبح فلما أصبح سماهم له عبد الله بن أبى سعد و سعد بن أبى سرح و أبا حاصر الاعرابى و عامر و أبا عامر و الجلاس بن سويد بن الصامت و مجمع بن حارثة و مليحا التيمي و حصين بن نمير و طعمة بن أبيرق و عبد الله بن عيينة و مرة بن ربيع فهم اثنا عشر رجلا حاربوا الله و رسوله و أرادوا قتله فاطلع الله نبيه صلى الله عليه و سلم على ذلك و ذلك قوله عز و جل وَ هَمُّوا بِما لَمْ يَنالُوا و كان أبو عامر رأسهم و له بنوا مسجد الضرار و هو أبو حنظلة غسيل الملائكة</h2>
</li>
<li>
<h2 style="text-align:right;">و أخرج ابن سعد عن نافع بن جبير بن مطعم قال لم يخبر رسول الله صلى الله عليه و سلم بأسماء المنافقين الذين تحسوه ليلة العقبة بتبوك غير حذيفة رضى الله عنه وهم اثنا عشر رجلا ليس فيهم قريشي و كلهم من الأنصار و من حلفائهم‏</h2>
</li>
<li>
<h2 style="text-align:right;">و أخرج البيهقي في الدلائل عن حذيفة بن اليمان رضى الله عنه قال كنت آخذ بخطام ناقة رسول الله صلى الله عليه و سلم أقود به و عمار يسوقه أو أنا أسوقه و عمار يقوده حتى إذا كنا بالعقبة فإذا أنا باثني عشر راكبا قد اعترضوا فيها قال فأنبهت رسول الله صلى الله عليه و سلم فصرخ بهم فولوا مدبرين فقال لنا رسول الله صلى الله عليه و سلم هل عرفتم القوم قلنا لا يا رسول الله كانوا متلثمين و لكنا عرفنا الركاب قال هؤلاء المنافقون إلى يوم القيامة هل تدرون ما أرادوا قلنا لا قال أرادوا ان يزحموا رسول الله صلى الله عليه و سلم في العقبة فيلقوه منها قلنا يا رسول الله الله الا تبعث إلى عشائرهم حتى يبعث إليك كل قوم برأس صاحبهم قال لا انى أكره ان تحدث العرب بينها ان محمدا قاتل بقوم حتى إذا أظهره الله بهم أقبل عليهم يقتلهم ثم قال اللهم ارمهم بالدبيلة قلنا يا رسول الله و ما الدبيلة قال شهاب من نار يوضع على نياط قلب أحدهم فيهلك‏</h2>
</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Jakfari Berkata:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kami tidak mengerti bagaimana<span style="color:#800000;"> sahabat yang berencana membunuh Nabi Muhammad saw. juga <em>diyakini keadilannya</em>?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Dan karena kita tidak mengenali nama-nama mereka maka bukankah merisaukan jika kita mengambil agama dari sembarang sahabat?</span> Jangan-jangan mereka yang kita banggakan dan kita jadikan rujukan dan panutan dalam agama termasuk dari mereka yang bermakar terhadap Nabi kita saw.?</p>
<p style="text-align:justify;">Siapa tahu?</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Apa yang menjamin kita bahwa yang selama ini kita banggakan ternyata bukan mereka yang bermakar jahat terhadap Nabi penutup, kekasih Allah Muhammad ssaw.?</span></p>
<div style="text-align:justify;">
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/04/ulama-ahlusunnah-menuduh-para-sahabat-berencana-membunuh-nabi-muhammad-saw/#_ftnref1">[1]</a> Tafsir ad Durrul Mantsûr,3358.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">***********************</span></p>
<p>.</p>
<p><strong>ARTIKEL TERKAT SAHABAT NABI SAW YANG MUNAFIQ<br />
</strong></p>
<ol>
<li><a href="../2011/10/07/2011/08/28/nabi-saw-mengusir-sahabat-munafiq-dari-masjidnya/" target="_blank">Nabi Saw Mengusir Sahabat Munafiq Dari Masjidnya</a></li>
<li><a href="../2011/10/07/2011/08/29/sahabat-nabi-yang-dikatakan-munafik-dalam-shahih-muslim/" target="_blank">Sahabat Nabi Yang Dikatakan Munafik Dalam Shahih Muslim?</a></li>
<li><a href="http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/10/07/siapa-bilang-kaum-munafik-bukan-sahabat-nabi-saw/" target="_blank">Siapa Bilang Kaum Munafik Bukan Sahabat Nabi Saw.?!</a></li>
<li><a href="http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/10/07/sahabat-nabi-yang-ingin-membunuh-beliau-saw/" target="_blank">Sahabat Nabi Yang Ingin Membunuh Beliau saw.</a></li>
</ol>
<p style="text-align:center;">____________________________________________________________________</p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#800000;">Untuk berkomentar dan berinteraksi dengan penulis silahkan</span> <a href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/04/ulama-ahlusunnah-menuduh-para-sahabat-berencana-membunuh-nabi-muhammad-saw/" target="_blank"> KLIK DISINI</a></strong></p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/jarah-tadil/'>Jarah &amp; Ta'dil</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/kajian-hadis/'>Kajian Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/kajian-keadilan-sahabat/'>Kajian Keadilan Sahabat</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/sahabat-munafiq/'>Sahabat Munafiq</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/sahabat-yang-kejam-dan-sadis/'>Sahabat Yang Kejam dan Sadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/sisi-lain-sahabat-nabi-saw/'>Sisi Lain Sahabat Nabi Saw</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/keadilansahabat.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/keadilansahabat.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/keadilansahabat.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/keadilansahabat.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/keadilansahabat.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/keadilansahabat.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/keadilansahabat.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/keadilansahabat.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/keadilansahabat.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/keadilansahabat.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/keadilansahabat.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/keadilansahabat.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/keadilansahabat.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/keadilansahabat.wordpress.com/244/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keadilansahabat.wordpress.com&amp;blog=22466259&amp;post=244&amp;subd=keadilansahabat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/10/07/sahabat-nabi-yang-ingin-membunuh-beliau-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a69d94340a8a0712ab444967fe7a9106?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">keadilansahabat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Siapa Bilang Kaum Munafik Bukan Sahabat Nabi Saw.?!</title>
		<link>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/10/07/siapa-bilang-kaum-munafik-bukan-sahabat-nabi-saw/</link>
		<comments>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/10/07/siapa-bilang-kaum-munafik-bukan-sahabat-nabi-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2011 14:25:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>keadilansahabat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jarah & Ta'dil]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Perawi Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Munafiq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keadilansahabat.wordpress.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[Siapa Bilang Kaum Munafik Bukan Sahabat Nabi Saw.?! SUMBER: jakfari.wordpress.com Oleh Ibnu Jakfari Sekali lagi Anda saya ajak melihat dari dekat kerancuan konsep keadilan seluruh sahabat yang menjadi andalan Mazhab Sunni dalam mempertahankan berbagai doktrinnya di samping kerancuan dan celah yang sudah saya sebutkan dalam beberapa artikel sebelumnya. Apabila ada peneliti yang menyajikan data-data penyimpangan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keadilansahabat.wordpress.com&amp;blog=22466259&amp;post=255&amp;subd=keadilansahabat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><strong>Siapa Bilang Kaum Munafik Bukan Sahabat Nabi Saw.?!</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span><a href="http://jakfari.wordpress.com/2010/01/26/siapa-bilang-kaum-munafik-bukan-sahabat-nabi-saw/" target="_blank"> jakfari.wordpress.com</a></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>Oleh Ibnu Jakfari</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi Anda saya ajak melihat dari dekat <span style="color:#0000ff;"><em>kerancuan konsep keadilan seluruh sahabat</em></span> yang menjadi andalan Mazhab Sunni dalam mempertahankan berbagai doktrinnya di samping kerancuan dan celah yang sudah saya sebutkan dalam beberapa artikel sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Apabila ada peneliti yang menyajikan data-data penyimpangan, pelanggaran, pembangkangan para sahabat mereka (ulama Sunni dan tentunya juga kaum awamnya) segera mengatakan mereka yang disebutkan dalam data-data dan nash (Al Quran dan Sunnah) adalah kaum munafik! Dan kaum munafik bukan termasuk sahabat Nabi saw! Jangan masukan munafik ke dalam daftar sahabat Nabi Saw.! Munafik ya munafik!</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah kurang lebih pembelaan yang mereka lontarkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi benarkan kaum munafik itu bukan sahabat Nabi Saw.? <span id="more-255"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sepertinya seluruh data bertolak belakang dengan pembelaan yang mereka katakan. Sebab kenyataannya ialah bahwa <span style="color:#0000ff;"><em>kaum munafik adalah mereka yang menyatakan (mengikrarkan) syahâdatain dengan lisan mereka, kendati hati mereka tidak menerimanya</em></span>. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa umat manusia di hadapan da’wah Nabi saw. Terkelompkkan menjadii tiga kelompok:</p>
<p style="text-align:justify;">1) Mereka yang menerima da’wah dan beriman kepada kenabian beliau dengan tulus. Mereka adalah kaum Mu’min.</p>
<p style="text-align:justify;">2) Kedua kaum yang menginkari kebenaran da’wah dan menolak kenabian beliau. Mereka itu adalah kaum kafir. Kaum kafir yang ingkar ini terbagi menjadi dua kelompok: A) Mereka yang berterus terang dalam kekafiran dan menentangannya. Mereka disebut kafir dan</p>
<p style="text-align:justify;">3) B) Mereka yang tidak berterus terang dalam kekafiiran dan pengingkarannya. Mereka menampakkan keimanan sementara pada hakikatnya mereka adalah kafir! Mereka ini disebut sebagai kaum munafik!</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, jelaslah sekarang siapa sebenarnya kaum munafik itu? Mereka yang secara lahiriyah muslim akan tetepi pada hakikatnya mereka itu kafir!</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka yang menampakkan keislaman dan keimanan itu pastilah akan diberlakukan atas mereka hukum Islam. Nabi saw. Akan mempperlakukan mereka sebagai orang-orang Muslim dan memberlakukan atas mereka hukum-hukum Islam sebagaimana diberlakukan atas yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah sejarah mencatat. Kaum munafik itu bergabung bersama kaum muslim lainnya di zaman Nabi saw.’ Mereka shalat berjama’ah bersama Nabi saw., menunaikan haji bersama beliau bahkan berjihad melawan musuh-musuh Islam bersama Nabi saw. Dan kaum Muslim lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Jika demikian kenyataannya, apa alasan kita mengatakan bahwa kaum munafik itu bukan sahabat Nabi saw.?!</span></p>
<p style="text-align:justify;">Bukankah mereka yang berikrar dengan <em>syahâdatain</em> di hadapan Nabi saw. atau di zaman beliau saw lalu bergabung dengan jama’ah kaum muslim lainnnya sudah cukup syarat untuk disebut sebagai sahabat Nabi saw.?</p>
<p style="text-align:justify;">Selain kenyataan di atas banyak data di mana Nabi saw. Menyebut kaum munafik sebagai sahabat beliau! Dalam kesempatan ini saya hanya ingin mengajak Anda melihat dari dekat data tersebut dan merenungkannya baik-baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Para mufassir Sunni ketika menerangkan atas-ayat surah al Munâfqûn demikian juga para sejarawan Islam ketika mereka menyebutkan perang Muraisi’ atau nama lainnya perang bani Mushthaliq pasti menyebutkan sebuah pristiwa percek-cokan antara dua orang sahabat; satu dari kalangan Anshar dan yang satu dari kalangan Muhajrin dalam urusan perebutan yang kemudian berakhir dengan luapan kemaraham Abdullah ibn Ubay ibn Salûl (yang kata data-data Sunni disebut sebagai gembong kaum Munafik) yang ia tuang dalam kata-kata busuk yang mengejek-ejek dan mengancam untuk mengusir Nabi saw. dan kaum Muslim dari kota Madinah. Kemdian setelah ucapannya yang menjelaskan kekentalan kemunafikannya itu dilaporkan kepada Nabi saw. dan beliau pun menegurnya lalu Abdullah ibn Ubay pun mengelak dengan mengatakan bahwa ia tidak pernah mengatakan apa-apa seperti yang dilaporkan kepada beliau.</p>
<p style="text-align:justify;">Menyikapi kekejian kata-kata Abdullah ibn Ubay ibn Salûl sebagai sahabat lainnya (khususnya Umar ibn al Khaththâb) meminta (atau mengusulkan) agar Nabi saw. memerintah untuk membunuh saja Abdullah ibn Ubay si gembong munafik itu. Tetapi mereka (dan saya yakin, kaum awam Sunni yang selama ini menjadi korban pembutaan)  benar-benar dikejutkan dengan jawaban Nabi saw.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa jawaban Nabi saw. terhadap Umar yang mengusulkan agar Abdullah ibn Ubay dibunuh saja?</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan keterangan yang diabadikan para ulama Islam di bawah ini;</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Jarir ath Thabari, al Baghawi, al Khâzin, Ibnu Katsîr, as Suyûthi, asy Syaukâni dll menyebutkan banyak riwayat: bahwa ketika Umar berkata kepada Nabi, ‘Wahai Nabi, perintahkan Mu’âdz ibn Jabal agar memenggal kepala si munafik itu!’ Maka Nabi saw. menjawab:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>لا يتَحَدَّثُ الناسُ أَنَّ مُحمدًا يَقْتُلُ أَصْحابَهُ.</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong><em>“Jangan sampai orang-orang berbicara bahwa Muhammad mebunuh para sahabatnya.”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat di atas dengan berbagai jalur dan perincian pristiwanya dapat Anda baca dalam :</p>
<p style="text-align:justify;">1)      Tafsir ath Thabari, ayat 8 surah al Munâqûn,28/112-115.</p>
<p style="text-align:justify;">2)      Tafsir al Baghwi,7/99.</p>
<p style="text-align:justify;">3)      Tafsir al Khizin,7/99.</p>
<p style="text-align:justify;">4)      Tafsir Ibnu Katsîr,4/370.</p>
<p style="text-align:justify;">5)      Tafsir asy Syaukâni,5/233.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan banyal lainnya.<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Ibnu Jakfari berkata:</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Nah, kini jelaslah bagi kita bahwa kaum munafik juga disebut Nabi saw. sebagai Sahabat beliau!</span></p>
<p>_______________</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">ARTIKEL TERKAT SAHABAT NABI SAW YANG MUNAFIQ</span><br />
</strong></p>
<ol>
<li><a href="../2011/08/28/nabi-saw-mengusir-sahabat-munafiq-dari-masjidnya/" target="_blank">Nabi Saw Mengusir Sahabat Munafiq Dari Masjidnya</a></li>
<li><a href="../2011/08/29/sahabat-nabi-yang-dikatakan-munafik-dalam-shahih-muslim/" target="_blank">Sahabat Nabi Yang Dikatakan Munafik Dalam Shahih Muslim?</a></li>
</ol>
<p style="text-align:center;">____________________________________________________________________</p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#800080;">UNTUK BERKOMENTAR DAN BERINTERAKSI DENGAN PENULIS SILAHKAN</span><a href="http://jakfari.wordpress.com/2010/01/26/siapa-bilang-kaum-munafik-bukan-sahabat-nabi-saw/" target="_blank"> KLIK DISINI</a></strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/jarah-tadil/'>Jarah &amp; Ta'dil</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/kajian-hadis/'>Kajian Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/kajian-keadilan-sahabat/'>Kajian Keadilan Sahabat</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/perawi-hadis/'>Perawi Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/sahabat-munafiq/'>Sahabat Munafiq</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/keadilansahabat.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/keadilansahabat.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/keadilansahabat.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/keadilansahabat.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/keadilansahabat.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/keadilansahabat.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/keadilansahabat.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/keadilansahabat.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/keadilansahabat.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/keadilansahabat.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/keadilansahabat.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/keadilansahabat.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/keadilansahabat.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/keadilansahabat.wordpress.com/255/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keadilansahabat.wordpress.com&amp;blog=22466259&amp;post=255&amp;subd=keadilansahabat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/10/07/siapa-bilang-kaum-munafik-bukan-sahabat-nabi-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a69d94340a8a0712ab444967fe7a9106?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">keadilansahabat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sahabat Nabi Yang Dikatakan Munafik Dalam Shahih Muslim?</title>
		<link>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/29/sahabat-nabi-yang-dikatakan-munafik-dalam-shahih-muslim/</link>
		<comments>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/29/sahabat-nabi-yang-dikatakan-munafik-dalam-shahih-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2011 16:23:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>keadilansahabat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Jarah & Ta'dil]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Perawi Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Munafiq]]></category>
		<category><![CDATA[Sisi Lain Sahabat Nabi Saw]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keadilansahabat.wordpress.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat Nabi Yang Dikatakan Munafik Dalam Shahih Muslim? SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran Oleh J Algar Judul yang sensasional, mungkin ya tapi silakan dibaca dulu dengan seksama dan berikan penilaian yang objektif. Pembicaraan seputar sahabat Nabi memang sangat sensitif, setidaknya bagi kalangan tertentu. Kenapa? Karena sahabat Nabi lebih dikenal sebagai orang-orang yang mulia, suri tauladan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keadilansahabat.wordpress.com&amp;blog=22466259&amp;post=223&amp;subd=keadilansahabat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Sahabat Nabi Yang Dikatakan Munafik Dalam Shahih Muslim?</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><strong>SUMBER</strong>:</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/01/sahabat-nabi-yang-dikatakan-munafik-dalam-shahih-muslim/" target="_blank"><strong>Blog Analisis Pencari Kebenaran</strong></a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><strong>Oleh J Algar</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Judul yang sensasional, mungkin ya tapi silakan dibaca dulu dengan seksama dan berikan penilaian yang objektif. Pembicaraan seputar sahabat Nabi memang sangat sensitif, setidaknya bagi kalangan tertentu. Kenapa? Karena sahabat Nabi lebih dikenal sebagai orang-orang yang mulia, suri tauladan yang agung dan orang yang berjasa besar bagi umat Islam. Saya tidak menyangkal hal itu, tetapi seperti biasa <em>cara berpikir fallacyus ala generalisasi yang menjangkiti sebagian orang</em> terkadang mengundang tanda tanya bagi <em>orang  yang mau menggunakan akalnya</em>. Mereka beranggapan bahwa <em>sahabat Nabi tidak boleh dikritik, barang siapa yang berani mengkritik sahabat Nabi maka tak peduli kritikannya benar atau tidak, ia akan dianggap telah mencela sahabat</em> Nabi. .<span id="more-223"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Singkat cerita mencela sahabat Nabi akan dianggap zindiq minimal sesat. Apa jadinya jika mereka menemukan dalam kitab-kitab shahih terdapat kritikan terhadap Sahabat Nabi?. Mereka akan menolak, menakwilkan, berdalih atau apapun, intinya <em>anda salah mereka benar dan Sahabat Nabi selalu mulia. </em>Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa <em>diantara Sahabat Nabi terdapat orang-orang munafik?</em>. Oooh sudah pasti orang tersebut pasti akan mendapat cap sesat dhalalah bin dhalalah.<br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitab <em>Shahih Muslim </em>4/2143 no 2779 (9) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi disebutkan bahwa diantara sahabat Nabi terdapat orang munafik</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أسود بن عامر حدثنا شعبة بن الحجاج عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس قال قلت لعمار أرأيتم صنيعكم هذا الذي صنعتم في أمر علي أرأيا رأيتموه أو شيئا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة ولكن حذيفة أخبرني عن النبي صلى الله عليه و سلم قال قال النبي صلى الله عليه و سلم في أصحابي اثنا عشر منافقا فيهم ثمانية لا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة وأربعة لم أحفظ ما قال شعبة فيهم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Hajjaj dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais yang berkata “saya pernah bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang terhadap Ali? Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami suatu pesan yang tidak Beliau sampaikan juga kepada orang-orang”. Saya diberitahu oleh Huzaifah dari Nabi SAW yang bersabda “<strong>Di antara SahabatKu</strong> <strong>ada dua belas orang munafik.</strong> Di antara mereka ada delapan orang yang tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum”. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah, sedangkan empat lainnya aku tidak hafal yang dikatakan Syu’bah tentang mereka.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Matan hadis <em>Shahih Muslim</em> di atas menyatakan bahwa <em>Rasulullah SAW sendiri yang menyebutkan ada sahabat Beliau yang munafik. </em>Sudah menjadi kenyataan bahwa dalil sejelas apapun selalu bisa dicari-cari penolakannya. Mereka yang menolak <em>ada sahabat Nabi munafik</em> mengatakan bahwa hadis <em>Shahih Muslim</em> di atas menceritakan <em>bahwa ada dua belas orang munafik dari Umat Nabi SAW dan mereka bukanlah sahabat Nabi SAW</em>. Mereka berdalih dengan hadis berikutnya dalam<em> Shahih Muslim</em> 4/2143 no 2779 (10) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا محمد بن المثنى ومحمد بن بشار ( واللفظ لابن المثنى ) قالا حدثنا محمد بن جعفر حدثنا شعبة عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس بن عباد قال قلنا لعمار أرأيت قتالكم أرأيا رأيتموه ؟ فإن الرأي يخطئ ويصيب أو عهدا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة وقال إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال إن في أمتي قال شعبة وأحسبه قال حدثني حذيفة وقال غندر أراه قال في أمتي اثنا عشر منافقا لا يدخلون الجنة ولا يجدون ريحها حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة سراج من النار يظهر في أكتافهم حتى ينجم من صدورهم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Bisyr (lafaz ini lafaz Al Mutsanna) yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais bin Abad yang berkata “saya bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang yang kamu lakukan? Karena pendapat itu bisa benar dan bisa salah. Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “ Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami yang tidak Beliau sampaikan pula kepada orang-orang. Ammar berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “bahwa diantara umatku”. Syu’bah berkata Ammar berkata telah diberitahu Huzaifah dan Ghundar berkata “saya melihat Rasulullah SAW bersabda “<strong>Diantara umatKu</strong> <strong>ada dua belas orang munafik </strong>yang tidak akan masuk surga bahkan mereka tidak mencium bau surga hingga unta masuk ke lubang jarum. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah yaitu api yang menyengat punggung mereka hingga tembus ke dada.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kedua hadis <em>Shahih Muslim </em>diatas adalah Shahih, tetapi dalih sebagian orang <em>bahwa dua belas orang munafik itu bukan sahabat Nabi tetapi Umat Nabi </em>tidak bisa diterima begitu saja. Justru jika kita menerima keshahihan kedua hadis ini maka tidak ada pertentangan antara hadis yang satu dengan yang lain hingga kita harus menolak salah satunya</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Hadis yang satu menyatakan<em> Di antara SahabatKu ada dua belas orang munafik</em></li>
<li>Hadis yang lain menyatakan <em>Diantara UmatKu ada dua belas orang munafik</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Coba pikirkan dengan baik, mengapa harus dikatakan <em>bahwa orang munafik itu ada di antara Umat Nabi tetapi bukan Sahabat Nabi. </em>Apakah sahabat Nabi bukan termasuk Umat Nabi?. Kalau bukan lantas umat siapa, kalau iya maka penyelesaiannya mudah. Hadis yang menyebutkan kata <strong><em>SahabatKu </em></strong>adalah penjelasan yang mengkhususkan dari hadis dengan kata <strong><em>UmatKu</em></strong>. Sehingga makna hadis tersebut adalah <strong><em>diantara Umat Nabi SAW yaitu dari kalangan Sahabat Nabi ada dua belas orang munafik. </em></strong>Makna ini sesuai dengan kedua hadis di atas dan tidak menolak atau menyangkal salah satu hadis. Berbeda dengan penakwilan <em>bahwa dua belas orang munafik itu diantara Umat Nabi tetapi bukan sahabat Nabi</em>, karena penakwilan ini dengan terpaksa telah menentang hadis yang shahih dan jelas yaitu hadis dengan lafaz <em>SahabatKu</em>. Begitulah adanya, dan silakan direnungkan.</p>
<p style="text-align:justify;">_______________</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>ARTIKEL TERKAT</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/28/nabi-saw-mengusir-sahabat-munafiq-dari-masjidnya/" target="_blank">Nabi Saw Mengusir Sahabat Munafiq Dari Masjidnya</a></p>
<p style="text-align:justify;">____________________________________________________________________</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800000;">UNTUK BERKOMENTAR DAN BERINTERAKSI DENGAN PENULIS SILAHKAN</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/01/sahabat-nabi-yang-dikatakan-munafik-dalam-shahih-muslim/" target="_blank">KLIK DISINI</a></strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/ilmu-hadis/'>Ilmu Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/jarah-tadil/'>Jarah &amp; Ta'dil</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/kajian-hadis/'>Kajian Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/kajian-keadilan-sahabat/'>Kajian Keadilan Sahabat</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/perawi-hadis/'>Perawi Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/sahabat-munafiq/'>Sahabat Munafiq</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/sisi-lain-sahabat-nabi-saw/'>Sisi Lain Sahabat Nabi Saw</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/keadilansahabat.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/keadilansahabat.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/keadilansahabat.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/keadilansahabat.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/keadilansahabat.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/keadilansahabat.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/keadilansahabat.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/keadilansahabat.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/keadilansahabat.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/keadilansahabat.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/keadilansahabat.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/keadilansahabat.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/keadilansahabat.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/keadilansahabat.wordpress.com/223/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keadilansahabat.wordpress.com&amp;blog=22466259&amp;post=223&amp;subd=keadilansahabat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/29/sahabat-nabi-yang-dikatakan-munafik-dalam-shahih-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a69d94340a8a0712ab444967fe7a9106?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">keadilansahabat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nabi Saw Mengusir Sahabat Munafiq Dari Masjidnya</title>
		<link>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/28/nabi-saw-mengusir-sahabat-munafiq-dari-masjidnya/</link>
		<comments>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/28/nabi-saw-mengusir-sahabat-munafiq-dari-masjidnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Aug 2011 15:25:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>keadilansahabat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Jarah & Ta'dil]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Perawi Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Munafiq]]></category>
		<category><![CDATA[Sisi Lain Sahabat Nabi Saw]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keadilansahabat.wordpress.com/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[Nabi Saw Mengusir Sahabat Munafiq Dari Masjidnya SUMBER: jakfari.wordpress.com Oleh Ibnu Jakfari . Demi Kemantapan Akidahmu, Jangan Baca Hadis Ini! Seorang santri aktif nun lugu datang menemui sang Kyai dengan perasaan gundah bingung dan diliputi perasaan ingin tau… ia datang tidak seperti biasanya… setelah mencium tangan penuh berkah sang Kyai, ia pun duduk bersimpuh di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keadilansahabat.wordpress.com&amp;blog=22466259&amp;post=177&amp;subd=keadilansahabat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800080;"><strong>Nabi Saw Mengusir Sahabat Munafiq Dari Masjidnya</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span><a href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/01/demi-kemantapan-akidahmu-jangan-baca-hadis-ini/" target="_blank"> jakfari.wordpress.com</a></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><strong>Oleh Ibnu Jakfari</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Demi Kemantapan Akidahmu, Jangan Baca Hadis Ini!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seorang santri aktif nun lugu datang menemui sang Kyai dengan perasaan gundah bingung dan diliputi perasaan ingin tau… ia datang tidak seperti biasanya… setelah mencium tangan penuh berkah sang Kyai, ia pun duduk bersimpuh di hadapannya seakan di atas kepalanya ada seokor burung…. Sang Kyai bertanya, anakku, gerangan apa yang sedang kamu alami, sepertinya ada yang mengguncang jiwamu? Coba jelaskan, pasti Kyaimu ini akan menenagkan kegaduhan jiwamu itu!</p>
<p style="text-align:justify;">Benar, Kyai, ada sesuatu yang benar-benar telah membuat jiwaku guncang, pikiranku gaduh dan yang lebih mengerikan lagi, tambahanya, akidahku yang telah Romo Kyai tanamkan seakan hendak tercabut sampai ke akar-akarnya! <span id="more-177"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sepontan sang Kyai duduk tegak mendengarnya! Ada apa ini <em>le</em>?! Bukankah akidah yang telah kita warisi dari Para Salafus Shaleh, dari para imam Ahli hadis, seperti Imam Ahmad dll. dan para ahli tafsir seperti Imam ath Thabari, Imam Ibnu Katsir dkk. sudah cukup mantap?! Lalu apakah yang harus kau risaukan? Mantapkan akidahmu dengan menjadikan mereka sebagai panutan! Jangan dengan bisikan setan-setan jahat dan para dedemit perampok agama! <em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Le</em>, usirlah bisikan setan itu dengan memperbanyak <em>istighfar</em> dan <em>isti’adzah</em>!</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, Kyai… belum juga selesai melanjutkan omongannya, sang Kyai memotong dan berkata, Tapi, tapi apa?! Tapi Kyai, itu <em>lho</em>, para imam besar kita yang selama ini Romo Kyia anjurkan saya untuk membacanya… justeru mereka mulai merusak akidah saya!</p>
<p style="text-align:justify;">Apa? Tidak! Tidak mungkin… Coba, apa yang kamu baca?!</p>
<p style="text-align:justify;">Itu Kyai, hadis-hadis shahih yang diriwayatkan para ulama dan imam kita itu sepertinya kurang <em>ASWAJA</em>… padahal sejak dulu Pak Kyai kan menanamkan kepada kami bahwa semua sabahat itu ‘<em>udûl</em>/baik dan shaleh… tidak ada yang munafik… jiwa mereka semua, <em>ajma’în</em> telah menyatu dengan sunnah dan didikan Nabi saw.! Mana mungkin ada yang munafik?! <em>Lah wong</em> mereka itu langsung  dididik kanjeng Nabi Muhammad! Semua mereka itu <em>radhiallah ‘anhum wa radhû ‘anhum!</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ya, benar! Mereka semua tidak ada yang munafik! Mereka semua<em> radhiallah ‘anhum wa radhû ‘anhum!</em> Dan jangan pernah ragu mengambil ajaran agama dari mereka! Mereka penyambung lidah suci Kanjeng Nabi saw.!</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, coba baca aja apa yang kamu temukan itu!<em></em></p>
<p style="text-align:justify;">Sang santri mulai membacanya, <em>Bismillahir rahmanir rahim, qala kyai mushannif–rahimahullah-</em> lalu ia mulailah membacakan beberapa hadis koleksi para Imam agung Ahlusunnah seperti di bawah ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Jakfari berpesan:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dan demi kemantapan akidah ASWAJA kamu, jangan baca hadis-hadis shahih di bawah ini! Itu saran saya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Terkait dengan tafsir ayat 101 surah at Taubah:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;">وَ مِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرابِ مُنافِقُونَ وَ مِنْ أَهْلِ الْمَدينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفاقِ لا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلى‏ عَذابٍ عَظيمٍ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan) juga (di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu) Muhammad (tidak mengetahui mereka,) tetapi (Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Imam ath Thabari</em></span> meriwayatkan sebuah hadis dari sahabat Ibnu Abbas –<em>radhiyallah ‘anhu</em>- bahwa Rasulullah saw. berpidato pada hari Jum’at lalu di antaranya beliau bersabda:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>“Hai fulan, bangun dan keluarlah kamu dari masjid! Kamu munafik! Hai fulan, bangun dan keluarlah kamu dari masjid! Kamu munafik!</em> Beliau mengusir banyak orang dari kalangan kaum munafik dan mempermalukan mereka. Ketika mereka keluar dari masjid, mereka kepergok Umar, melihat mereka,<em> Umar pun bersembunyi, ia malu karena mbolos tidak hadir shalat Jum’at.</em> Umar mengira bahwa orang-orang sudah usai shalat Jum’at… sementara mereka pun bersembunyi, mereka menyangka Umar sudah tau urusan mereka… .”<a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/01/demi-kemantapan-akidahmu-jangan-baca-hadis-ini/#_ftn1">[1]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Imam Ibnu Katsir</em> meriwayatkan sebuah hadis dari riwayat Imam Ahmad dari sahabat Uqbah bin Âmir, ia berkata,</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">“Rasulullah saw. berpidato di hadapan kami dengan sebuah khuthbah, beliau memuji Allah kemudian berkata, “Sesungguhnya di antara kalian banyak orang munafik! Maka siapa yang aku sebutkan namanya hendaknya ia berdiri! Lalu beliau bersabda, <span style="color:#0000ff;"><em>“Berdiri hai fulan! Berdiri hai fulan! Sehingga Nabi saw. mengusir tiga puluh enam orang…</em></span> .<a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/01/demi-kemantapan-akidahmu-jangan-baca-hadis-ini/#_ftn2">[2]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hadis serupa juga telah dikoleksi oleh Imam ath Thabari dalam<em> al Mu’jam al Ausath</em>-nya,1/242. Ibnu Hazm juga mengabadikannya dalam kitab<em> al Muhallâ</em>-nya,11/221.</p>
<p style="text-align:justify;">Romo Kyai, bukankah hadis-hadis ini bertentangan dengan akidah ASWAJA kita yang selama ini <em>Panjenengan</em> sampaikan?!</p>
<p style="text-align:justify;">Apanya yang bertentangan? Tidak ada! Semua beres tidak ada masalah!</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Lho</em> itu, Romo. Orang-orang munafik yang diusir Kanjeng Nabi dari masjidnya… mereka itu kan orang-orang munafik! Malah “<em>nemen”</em> (baca keterlaluan) dalam kemunafikan mereka, sampai-sampai Kanjeng Nabi saw. mengusir mereka dan mempermalukan di hadapan umum… di hadapan para sahabat lain!</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Tole</em> anakku, <em>kowe kudhu</em> ngerti nak, <em>seng</em> diusir itu bukan sahabat… tapi orang-orang munafik! Bantah sang Kyai.</p>
<p style="text-align:justify;">Penasaran mendengar jawaban sang Kyia, santri berbalik bertanya, ‘Kalau begitu, sahabat Nabi saw. itu siapa dan yang bagaimana?</p>
<p style="text-align:justify;">Sahabat itu ya yang <em>ndak</em> munafik! Yang munafik itu ya bukan sahabat! Mana mungkin ada sahabat yang munafik! Iku kan omongannya kaum <em>zindiq</em> yang mau meruntuhkan agama kita dengan menuduh Nabi saw. punya sahabat munafik! Hati-hati <em>lho kuwe,</em> itu bisikan setan seperti itu! Begitu tegas sang Kyai.</p>
<p style="text-align:justify;">Mendengar jawaban itu sang santri menjadi bingung  tidak ketulung. Benar juga ya apa yang di  sampaikan Romo Kyai… mana mungkin sabahat ada yang munafik dan mana mungkin kaum munafik itu termasuk sahabat Nabi saw.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi <em>yen</em> dipikir-pikir, orang-orang munafik itu juga Muslim dan mengucapkan dua kalimat syahadat, ikut shalat di belakang Nabi saw. di masjidnya. Lalu apa yang membedakan sahabat yang munafik dari sahabat yang tidak munafik? Bingung juga ya! Pikiran sang santri mulai<em> mudeng </em>bingung<em> orah karuan</em>…!</p>
<p style="text-align:justify;">Romo, ma’af, saya masih bingung atas keterangan yang Romo sampaikan tadi. Bolehkah saya bertanya untuk mengusir kebingungan pikiran saya?</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Monggo</em>, silahkan tanya aja… nanti Romo jawab… pasti mantap jawabannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Romo, bagaimana caranya membedakan orang-orang yang munafik di zaman Nabi saw. dengan sahabat terpuji Nabi saw.? Biar kita tidak salah pilih dan salah puji?! Tanya santri</p>
<p style="text-align:justify;">Oh, itu yang ingin <em>kowe</em> tanyakan?  <em>Yo</em> <em>gampang</em> <em>le</em>! Pokoknya yang diusir Nabi saw. dari masjid berarti dia yang munafik! Gampang kan? Gitu aja kok repot!</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka itu siapa Kyai? <span style="color:#0000ff;">Siapa nama-nama ketiga puluh enam orang munafik yang diusir Nabi itu, biar kita tidak keliru!</span> Jangan-jangan nanti kita <em>sû’udzdzan</em>, yang baik kita anggap munafik! Atau sebaliknya, yang munafik kita percayai sebagai penyambung lidah Nabi saw,? Yang bahaya Romo?!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Itulah masalahnya, mengapa dahulu para imam kita tidak menyebutkan nama-nama mereka yang diusir Nabi saw., biar kita bisa mengetahuninya!</span> Tapi sudahlah jangan terlalu dirisaukan, yakini dan jalani aja yang sudah ada! <em>Manut</em> aja kepada para salaf kang shaleh, biar selamat! Lanjut Romo Kyai.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi… belum usai sang santri bicara, Pak Kyai memotongnya lagi…</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi apa <em>le</em>? Kamu bingung gara-gara baca hadis-hadis tadi? Makanya jangan suka baca yang begituan… buat bingung… Romo sendiri ya bingung… tapi sudah lah jalankan yang ada saja!</p>
<p style="text-align:justify;">Mendengar omangan sang Romo Kyai, santri itu menggerundal dalam hatinya… <span style="color:#0000ff;"><em>kalau mereka yang munafik itu belum ketahuan nama-nama mereka, lalu bagaimana kalau ternyata di antara mereka itu termasuk yang selama ini kita anggap sahabat baik dan mulai Nabi saw. atau yang dikenal dekat persahabatannya dengan Nabi saw.!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu, sepertinya, Romo Kyai mungkin belum membaca hadis riwayat Imam Muslim,8/122 dari sahabat Ammar bin Yasir –<em>radhiallah ‘anhu</em>-  bahwa Nabi saw. bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;">في أصحابي إثنا عشر منافقا…</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Di antara para sahabatku ada dua belas orang munafik …”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Romo, Tanya sang santri, dalam hadis Imam Muslim di atas, Nabi saw. justeru mengatakan bahwa orang-orang munafik itu dari golongan sahabat beliau! Tapi Romo <em>kok</em> bilang, kaum munafik bukan dari golongan sahabat Nabi?!</p>
<p style="text-align:justify;">Anakku, Romo sudah baca hadis shahih Imam Muslim yang kamu baca tadi… tapi pokoknya, kaum munafik itu bukan sahabat Nabi saw. (TITIK!). Kamu, jangan sering baca hadis-hadis seperti itu! Tidak baik. Nanti dapat merusak akidahmu! Pesan sang Romo Kyai.</p>
<p style="text-align:justify;">Bukankan akidah kita harus dibangun di atas nash-nash shahihah, Romo?! Tegas sang santri.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, benar, <em>le</em>. Tapi kalau ada hadis shahih yang merusak akidah, ya harus dita’wil… kalau repot, ya jangan dihiraukan… tutup saja.. jangan dibacakan kepada umum! Itu harus tetap disimpan rapat sebagai rahasia dapur kita… nanti kalau kamu sudah menjadi Kyai seperti Romo ini, kamu pasti ngerti betapa pentingnya merahasiakan sebagian  hadis shahih demi kemantapan akidah kita!</p>
<p style="text-align:justify;">Mendengar apa yang disampaikan sang Kyai, santri itu teringat ayat Al Qur’an yang berbunyi:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>يا أَهْلَ الْكِتابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْباطِلِ وَ تَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَ أَنْتُمْ تَعْلَمُونَ </strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang hak dengan yang batil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui.” </em>(QS. Âlu Imran;71)</p>
<p style="text-align:justify;">Romo, bukankah Al Qur’an telah mengecam ulama yang menyembunyikan kebenaran/<em>al haq</em>!</p>
<p style="text-align:justify;">Anakku, ayat itu untuk para pendeta Yahudi dan Nashrani, bukan untuk kami. Kami ini ulama pawaris para nabi as.! Jadi jangan sembarangan menuduh Romo!</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, kalau ulama Islam merahasiakan kebenaran dan menjual <em>al haq</em> dengan <em>al bathil</em> boleh, Romo?</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Hus</em>, diam kamu, mengapa kamu menjadi cerewet sekarang!</p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<div style="text-align:justify;">
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/01/demi-kemantapan-akidahmu-jangan-baca-hadis-ini/#_ftnref1">[1]</a> Tafsir Jâmi’ al Bayân; ath Thabari,11/10. Hadis di atas juga dapat Anda baca dalam tafsir Ibnu Katsir, 2/399.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/01/demi-kemantapan-akidahmu-jangan-baca-hadis-ini/#_ftnref2">[2]</a> Tafsir Ibnu Katsir,2/399.</p>
<p>_______________________________________________________________________________</p>
<p><strong><span style="color:#800000;">UNTUK BERKOMENTAR DAN BERINTERAKSI DENGAN PENULIS SILAHKAN</span> <a href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/01/demi-kemantapan-akidahmu-jangan-baca-hadis-ini/" target="_blank">KLIK DISINI</a></strong></p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/ilmu-hadis/'>Ilmu Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/jarah-tadil/'>Jarah &amp; Ta'dil</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/kajian-keadilan-sahabat/'>Kajian Keadilan Sahabat</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/perawi-hadis/'>Perawi Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/sahabat-munafiq/'>Sahabat Munafiq</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/sisi-lain-sahabat-nabi-saw/'>Sisi Lain Sahabat Nabi Saw</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/keadilansahabat.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/keadilansahabat.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/keadilansahabat.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/keadilansahabat.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/keadilansahabat.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/keadilansahabat.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/keadilansahabat.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/keadilansahabat.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/keadilansahabat.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/keadilansahabat.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/keadilansahabat.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/keadilansahabat.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/keadilansahabat.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/keadilansahabat.wordpress.com/177/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keadilansahabat.wordpress.com&amp;blog=22466259&amp;post=177&amp;subd=keadilansahabat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/28/nabi-saw-mengusir-sahabat-munafiq-dari-masjidnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a69d94340a8a0712ab444967fe7a9106?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">keadilansahabat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sahabat Nabi Yang Dikatakan Fasiq Dalam Al Qur’anul Karim</title>
		<link>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/28/sahabat-nabi-yang-dikatakan-fasiq-dalam-al-qur%e2%80%99anul-karim/</link>
		<comments>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/28/sahabat-nabi-yang-dikatakan-fasiq-dalam-al-qur%e2%80%99anul-karim/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Aug 2011 14:49:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>keadilansahabat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Jarah & Ta'dil]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Perawi Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Yang Fasiq]]></category>
		<category><![CDATA[Sisi Lain Sahabat Nabi Saw]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keadilansahabat.wordpress.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat Nabi Yang Dikatakan Fasiq Dalam Al Qur’anul Karim SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran Dengan dalih konsep “Keadilan Sahabat” Seorang sahabat yang jelas-jelas berdusta kepada Nabi SAW dan di cap Fasiq oleh Allah SWT, maka riwayatnya pun tetap diandalkan oleh para ulama ahli hadis (Ahlussunnah) salah satu contoh adalah al Walid bin Uqbah (Admin: Keadilan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keadilansahabat.wordpress.com&amp;blog=22466259&amp;post=169&amp;subd=keadilansahabat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><strong>Sahabat Nabi Yang Dikatakan Fasiq Dalam Al Qur’anul Karim</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>SUMBER</strong>:</span><a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/06/27/sahabat-nabi-yang-dikatakan-fasiq-dalam-al-qur%E2%80%99anul-karim/" target="_blank"> <strong>Blog Analisis Pencari Kebenaran</strong></a></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dengan dalih konsep “Keadilan Sahabat” Seorang sahabat yang jelas-jelas berdusta kepada Nabi SAW dan di cap Fasiq oleh Allah SWT, maka riwayatnya pun tetap diandalkan oleh para ulama ahli hadis (Ahlussunnah) salah satu contoh adalah al Walid bin Uqbah <span style="color:#ff00ff;"><em>(Admin: Keadilan Sahabat</em>)</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><strong>Oleh J Algar</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Allah SWT telah mengingatkan Umat Islam agar berhati-hati terhadap setiap kabar yang disampaikan oleh orang Fasik dan harus diteliti terlebih dahulu kebenarannya. Karena barangsiapa mengambil keputusan berdasarkan keterangan orang fasik tersebut dimana pada saat itu orang fasik tersebut telah berdusta atau keliru maka itu berarti telah mengikuti jalan kerusakan. Padahal Allah SWT telah melarang kita umat islam untuk mengikuti jalan kerusakan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al Hujurat 6-8. <span id="more-169"></span></p>
<h2 style="text-align:right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ  وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ  فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Dan ketahulilah olehmu bahwa diantaramu ada Rasulullah. Kalau Ia menuruti (kemauan)mu dalam beberapa urusan maka benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikanmu cinta pada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikanmu benci pada kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus sebagai karunia dan nikmat dari Allah dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana. </em></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak ahli tafsir menyebutkan bahwa <span style="color:#0000ff;">ayat ini turun berkenaan dengan <em>Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith</em></span> <em>yang diutus Rasulullah SAW untuk mengambil sedekah atau zakat dari bani Musthaliq. </em>Walid bin Uqbah adalah orang fasik yang dimaksud dalam ayat di atas. Hal ini telah diriwayatkan dengan sanad yang jayyid dalam <em>Musnad Ahmad</em> 4/279</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن سابق ثنا عيسى بن دينار ثنا أبي انه سمع الحرث بن ضرار الخزاعي قال  قدمت على رسول الله صلى الله عليه و سلم فدعاني إلى الإسلام فدخلت فيه وأقررت به فدعاني إلى الزكاة فأقررت بها وقلت يا رسول الله أرجع إلي قومي فأدعوهم إلى الإسلام وأداء الزكاة فمن استجاب لي جمعت زكاته فيرسل إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم رسولا لإبان كذا وكذا ليأتيك ما جمعت من الزكاة فلما جمع الحرث الزكاة ممن استجاب له وبلغ الإبان الذي أراد رسول الله صلى الله عليه و سلم ان يبعث إليه احتبس عليه الرسول فلم يأته فظن الحرث أنه قد حدث فيه سخطة من الله عز و جل ورسوله فدعا بسروات قومه فقال لهم إن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان وقت لي وقتا يرسل إلى رسوله ليقبض ما كان عندي من الزكاة وليس من رسول الله صلى الله عليه و سلم الخلف ولا أرى حبس رسوله الا من سخطة كانت فانطلقوا فنأتي رسول الله صلى الله عليه و سلم وبعث رسول الله صلى الله عليه و سلم الوليد بن عقبة إلى الحرث ليقبض ما كان عنده مما جمع من الزكاة فلما أن سار الوليد حتى بلغ بعض الطريق فرق فرجع فأتى رسول الله صلى الله عليه و سلم وقال يا رسول الله إن الحرث منعني الزكاة وأراد قتلي فضرب رسول الله صلى الله عليه و سلم البعث إلى الحرث فأقبل الحرث بأصحابه إذ استقبل البعث وفصل من المدينة لقيهم الحرث فقالوا هذا الحرث فلما غشيهم قال لهم إلى من بعثتم قالوا إليك قال ولم قالوا إن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان بعث إليك الوليد بن عقبة فزعم أنك منعته الزكاة وأردت قتله قال لا والذي بعث محمدا بالحق ما رأيته بتة ولا أتاني فلما دخل الحرث على رسول الله صلى الله عليه و سلم قال منعت الزكاة وأردت قتل رسولي قال لا والذي بعثك بالحق ما رأيته ولا أتاني وما أقبلت إلا حين احتبس علي رسول رسول الله صلى الله عليه و سلم خشيت أن تكون كانت سخطة من الله عز و جل ورسوله قال فنزلت الحجرات { يا أيها الذين آمنوا إن جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على ما فعلتم نادمين } إلى هذا المكان { فضلا من الله ونعمة والله عليم حكيم }</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sabiq yang berkata telah menceritakan kepada kami Isa bin Dinar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku bahwa ia pernah mendengar Al Harits bin Dhirar Al Khuza’i bercerita “Aku pernah datang menemui Rasulullah SAW , Beliau mengajakku masuk islam maka aku memeluk islam dan mengikrarkannya. Kemudian Beliau mengajakku mengeluarkan zakat, aku menunaikannya dan berkata “Ya Rasulullah aku akan pulang kepada kaumku dan akan kuajak mereka memeluk islam dan mengumpulkan zakat. Siapa saja yang mengikuti seruanku maka akan kuambil zakatnya dan kirimkanlah Utusan kepadaku Ya Rasulullah pada waktu begini dan begini untuk membawa zakat yang telah kukumpulkan itu. Setelah Al Harits mengumpulkan zakat dari kaumnya yang mengikutinya dan telah sampai masa datangnya utusan Rasulullah SAW ternyata utusan tersebut tertahan di jalan dan tidak  datang menemuinya. Al Harits mengira bahwa telah turun kemurkaan Allah dan RasulNya kepada dirinya. Ia pun mengumpulkan pembesar kaumnya dan berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW menetapkan waktu kepadaku dimana Beliau akan mengirim utusan untuk mengambil zakat yang aku kumpulkan, sungguh tidak pernah Rasulullah SAW menyalahi janji dan aku takut ini karena murka Allah. Oleh karena itu marilah kita pergi bersama-sama menemui Rasulullah. <strong>Adapun Rasulullah SAW telah mengutus Walid bin Uqbah menemui Al Harits untuk mengambil zakat yang dikumpulkannya. Ketika Walid berangkat di tengah perjalanan ia merasa takut dan kembali pulang lalu menemui Rasulullah SAW seraya berkata “Ya Rasulullah sesungguhnya Al Harits menolak memberikan zakat kepadaku bahkan ia bermaksud membunuhku”. </strong>Maka Rasulullah SAW mengirim utusan lain kepada Al Harits dan Al Harits berserta sahabatnya juga berangkat. Ketika utusan Rasul keluar kota Madinah dan bertemu Al Harits , mereka berkata “inilah Al Harits”. Al Harits menghampiri dan berkata “kepada siapa kalian diutus?”. Mereka menjawab “kepadamu”. “Untuk apa kalian diutus kepadaku?” Tanya Al Harits. <strong>Mereka menjawab “Sesungguhnya Rasulullah telah mengutus Walid bin Uqbah kepadamu dan ia mengaku bahwa kau menolak membayar zakat bahkan mau membunuhnya”. Al Harits berkata “Tidak benar, demi Rabb yang telah mengutus Muhammad dengan kebenaran, aku sama sekali tidak melihatnya dan tidak juga ia mendatangiku”. </strong>Setelah Al Harits menghadap Rasulullah SAW, Beliau bertanya “Apakah kau menolak membayar zakat dan hendak membunuh utusanKu?”. <strong>Ia menjawab “Tidak, demi Rabb yang telah mengutusMu dengan kebenaran, aku sama sekali tidak melihatnya dan tidak pula ia mendatangiku dan aku tidak datang kepadaMu melainkan ketika utusanMu tidak datang aku takut datangnya kemarahan Allah dan RasulNya</strong>. Pada saat itulah turun ayat Al Hujurat {Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.} sampai {sebagai karunia dan nikmat dari Allah dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.}</em><br />
<strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedudukan Hadis</strong><br />
Hadis ini memiliki <strong>sanad yang jayyid (baik)</strong>. Al Hafiz As Suyuthi dalam <em>Lubabun Nuqul Fi Asbabun Nuzul</em> surah Al Hujurat ayat 6 berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">أخرج أحمد وغيره بسند جيد عن الحرث بن ضرار الخزامي</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dikeluarkan oleh Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang jayyid dari Harits bin Dhirar Al Khuza’i.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Al Hafiz Suyuthi menyebutkan riwayat tersebut setelah itu ia berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">رجال إسناده تقات<em> </em></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Para perawi sanad ini tsiqat</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Al Haitsami</span> dalam <span style="color:#0000ff;"><em>Majma’ Az Zawaid</em></span> 7/238 hadis no 11352 juga membawakan hadis ini dan mengatakan bahwa <em>para perawi Ahmad tsiqat.</em> <span style="color:#0000ff;">Ibnu Katsir</span> dalam <em>Tafsir Ibnu Katsir</em> 7/370 ketika menafsirkan Al Hujurat ayat 6 telah membawakan hadis ini dan beliau menyatakan <em>bahwa hadis ini hasan.</em> Dalam <em>Musnad Ahmad Tahqiq <span style="color:#0000ff;">Syaikh Ahmad Syakir</span> dan <span style="color:#0000ff;">Hamzah Zain</span></em> hadis no 18371 disebutkan bahwa <em>“sanadnya shahih”.</em> Pentahqiq kitab <em>Lubabun Nuqul </em><span style="color:#0000ff;">Abdurrazaq Mahdi</span> juga mengakui <em>bahwa sanad hadis ini jayyid </em>dalam keterangannya terhadap riwayat no 1014.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita melihat kitab-kitab biografi para perawi hadis maka dapat diketahui bahwa <em><span style="color:#0000ff;">Walid bin Uqbah</span> ini adalah seorang sahabat Nabi</em>, Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib </em>2/287 menyebutkan bahwa <em>Walid bin Uqbah adalah sahabat Nabi.</em> Padahal telah jelas disebutkan di atas bahwa <em><span style="color:#0000ff;">Walid bin Uqbah adalah orang fasik yang dimaksud dalam Al Hujurat ayat 6</span>.</em> Dan dalam riwayat di atas kita lihat bahwa <span style="text-decoration:underline;"><strong><em>Walid bin Uqbah salah seorang sahabat Nabi</em> </strong></span><em><strong><span style="text-decoration:underline;">telah berkata dusta kepada Rasulullah SAW</span>.</strong> Apakah ini berarti seorang Sahabat Nabi bisa saja dikatakan fasik dan bisa saja ia berdusta kepada Rasulullah SAW?. </em>Silakan direnungkan</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salam Damai</strong></p>
<p style="text-align:justify;">_______________</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><strong>ARTIKEL TERKAIT</strong></span></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><a href="../2011/08/28/potret-sahabat-nabi-saw-al-walid-bin-%E2%80%98uqbah/" target="_blank">Potret Sahabat Nabi saw al Walîd bin ‘Uqbah</a></li>
<li><a href="http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/28/imam-tsiqat-ikut-membunuh-utsman-atau-sahabat-nabi-yang-masuk-neraka/" target="_blank">Imam Tsiqat Ikut Membunuh Utsman Atau Sahabat Nabi Yang Masuk Neraka?</a></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">____________________________________________________________________</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800000;">UNTUK BERKOMENTAR DAN BERINTERAKSI DENGAN PENULIS SILAHKAN</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/06/27/sahabat-nabi-yang-dikatakan-fasiq-dalam-al-qur%E2%80%99anul-karim/" target="_blank">KLIK DISINI</a></strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/ilmu-hadis/'>Ilmu Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/jarah-tadil/'>Jarah &amp; Ta'dil</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/kajian-hadis/'>Kajian Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/kajian-keadilan-sahabat/'>Kajian Keadilan Sahabat</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/perawi-hadis/'>Perawi Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/sahabat-yang-fasiq/'>Sahabat Yang Fasiq</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/sisi-lain-sahabat-nabi-saw/'>Sisi Lain Sahabat Nabi Saw</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/keadilansahabat.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/keadilansahabat.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/keadilansahabat.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/keadilansahabat.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/keadilansahabat.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/keadilansahabat.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/keadilansahabat.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/keadilansahabat.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/keadilansahabat.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/keadilansahabat.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/keadilansahabat.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/keadilansahabat.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/keadilansahabat.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/keadilansahabat.wordpress.com/169/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keadilansahabat.wordpress.com&amp;blog=22466259&amp;post=169&amp;subd=keadilansahabat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/28/sahabat-nabi-yang-dikatakan-fasiq-dalam-al-qur%e2%80%99anul-karim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a69d94340a8a0712ab444967fe7a9106?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">keadilansahabat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam Tsiqat Ikut Membunuh Utsman Atau Sahabat Nabi Yang Masuk Neraka?</title>
		<link>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/28/imam-tsiqat-ikut-membunuh-utsman-atau-sahabat-nabi-yang-masuk-neraka/</link>
		<comments>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/28/imam-tsiqat-ikut-membunuh-utsman-atau-sahabat-nabi-yang-masuk-neraka/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Aug 2011 13:58:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>keadilansahabat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Jarah & Ta'dil]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Perawi Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Yang Masuk neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Sisi Lain Sahabat Nabi Saw]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keadilansahabat.wordpress.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[Imam Tsiqat Ikut Membunuh Utsman Atau Sahabat Nabi Yang Masuk Neraka? SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran Oleh J Algar Judulnya memang agak bombastis tetapi judul tersebut adalah cerminan dari hadis shahih yang rasanya agak jarang dikutip oleh salafiyun. Hadis tersebut mengabarkan tentang perselisihan antara seorang mukhadhramun yang dikenal tsiqat dengan seorang sahabat Nabi. Mereka saling [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keadilansahabat.wordpress.com&amp;blog=22466259&amp;post=162&amp;subd=keadilansahabat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"><strong>Imam Tsiqat Ikut Membunuh Utsman Atau Sahabat Nabi Yang Masuk Neraka?</strong></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>SUMBER</strong>:</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2011/06/29/imam-tsiqat-ikut-membunuh-utsman-atau-sahabat-nabi-yang-masuk-neraka/" target="_blank"><strong>Blog Analisis Pencari Kebenaran</strong></a></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Oleh J Algar</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Judulnya memang agak bombastis tetapi judul tersebut adalah cerminan dari <span style="color:#0000ff;"><em>hadis shahih yang rasanya agak jarang dikutip oleh salafiyun.</em></span> Hadis tersebut mengabarkan tentang perselisihan antara seorang mukhadhramun yang dikenal tsiqat dengan seorang sahabat Nabi. Mereka saling mengungkap keburukan masing-masing, salah satu menuduh yang lain sebagai salah seorang pembunuh Utsman dan sebaliknya orang tertuduh membawakan hadis Nabi kalau si penuduh itu masuk neraka. Kalau tidak percaya, silakan perhatikan hadis berikut. <span id="more-162"></span></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا علي بن الحسين الرقي قال ثنا عبد الله بن جعفر الرقي قال أخبرني عبيد الله بن عمرو عن زيد بن أبي أنيسة عن عمرو بن مرة عن إبراهيم قال أراد الضحاك بن قيس أن يستعمل مسروقا فقال له عمارة بن عقبة أخو الوليد بن عقبة – أتستعمل رجلا من بقايا قتلة عثمان ؟ فقال له مسروق حدثنا عبد الله بن مسعود وكان في أنفسنا موثوق الحديث أن النبي صلى الله عليه و سلم لما أراد قتل أبيك قال من للصبية ؟ قال ” النار ” فقد رضيت لك ما رضي لك رسول الله صلى الله عليه و سلم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Ali bin Husain Ar Raqiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ja’far Ar Raqiy yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ubaidillah bin ‘Amru dari Zaid bin Abi Unaisah dari ‘Amru bin Murrah dari Ibrahim yang berkata Dhahhak bin Qais berkeinginan mengangkat Masruq? Maka ‘Umaarah bin Uqbah saudara dari Walid bin Uqbah berkata kepadanya “engkau mengangkat <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">laki-laki yang tersisa dari pembunuh Utsman”</span>?. Maka Masruq berkata kepadanya “telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Mas’ud dan ia di sisi kami seorang yang terpercaya dalam hadisnya, bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] ketika akan membunuh ayahmu, maka [ayahmu] berkata “siapa yang menanggung anak-anakku”?. <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab “neraka”.</span> Maka aku ridha untukmu apa yang Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ridha untukmu <strong>[Sunan Abu Dawud 2/66 no 2686]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadis di atas sanadnya hasan</strong>. Ali bin Husain Ar Raqiy adalah syaikh [guru] Abu Dawud seorang yang shaduq dan dalam periwayatannya dari ‘Abdullah bin Ja’far Ar Raqiy ia memiliki banyak mutaba’ah sehingga <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">secara keseluruhan hadis di atas shahih</span>.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#0000ff;">Ali bin Husain Ar Raqiy</span> adalah syaikh [guru] Abu Dawud. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 7 no 524]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 1/692]</li>
<li><span style="color:#0000ff;">‘Abdullah bin Ja’far Ar Raqiy</span> adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Abu Hatim berkata “tsiqat dan ia lebih aku sukai dari Ali bin Ma’bad”. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya sebelum hafalannya berubah”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 5 no 296]. Adz Dzahabi berkata “tsiqat hafizh” [Al Kasyf no 2667].</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Ubaidillah bin ‘Amru bin Abi Walid Al Asdi</span>y adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in dan Nasa’i menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “shalih al hadits tsiqat shaduq tidak dikenal memiliki hadis mungkar, ia lebih aku sukai daripada Zuhair bin Muhammad”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli dan Ibnu Numair menyatakan tsiqat. [At Tahdzib juz 7 no 74]</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Zaid bin Abi Unaisah</span> adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Malik meriwayatkan darinya [itu berarti ia tsiqat menurut Malik]. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Al Ijli, Yaqub bin Sufyan dan Abu Dawud menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 3 no 729]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat [At Taqrib 1/326]</li>
<li><span style="color:#0000ff;">‘Amru bin Murrah Abu Abdullah Al Kufiy</span> adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Abu Hatim menyatakan tsiqat shaduq. A’masy sangat memuji ‘Amru bin Murrah. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Numair dan Yaqub bin Sufyan menyatakan tsiqat. [At Tahdzib juz 8 no 163]. Ibnu Hajar berkata “ia ahli ibadah yang tsiqat” [At Taqrib 1/745]</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Ibrahim bin Yazid bin Qais An Nakha’iy</span> adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Hajar menyatakan ia seorang faqih yang tsiqat [At Taqrib 1/69]. Ia dikenal meriwayatkan dari Masruq.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Riwayat Ali bin Husain Ar Raqiy  ini juga diriwayatkan oleh <span style="color:#0000ff;">Baihaqi</span> dalam Dala’il An Nubuwah 6/397 dengan jalan sanad Abu Dawud di atas. Ali bin Husain Ar Raqiy dalam periwayatannya dari Abdullah bin Ja’far Ar Raqiy memiliki mutaba’ah yaitu</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#0000ff;">Hilal bin Al A’la Ar Raqiy</span> sebagaimana yang disebutkan Al Hakim dalam Mustadrak juz 2 no 2572 dan Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 9/65 no 17806. Hilal bin Al A’la Ar Raqiy seorang yang shaduq [At Taqrib 2/273]</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Salamah bin Syabib</span> sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam Al Ahad Wal Matsani 1/406 no 565. Salamah bin Syabib seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/377].</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Fadhl bin Ya’qub Ar Rukhamiy</span> sebagaimana yang disebutkan oleh Al Bazzar dalam Musnad Al Bazzar 5/345 no 1712. Fadhl bin Ya’qub seorang yang tsiqat hafizh [At Taqrib 2/13]</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Ahmad bin Zuhair bin Harb</span> sebagaimana yang disebutkan dalam Musnad Asy Syaasyiy no 387. Ahmad bin Zuhair bin Harb seorang yang shaduq [Al Jarh Wat Ta’dil 2/52 no 57]</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Abu Umayyah Muhammad bin Ibrahim bin Muslim</span> sebagaimana yang disebutkan Ath Thahawi dalam Musykil Al Atsar no 3910. Abu Umayyah seorang yang shaduq [At Taqrib 2/51]</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Abdullah bin Ja’far dalam periwayatannya dari Ubaidillah bin ‘Amru memiliki mutaba’ah yaitu dari Shalih bin Malik sebagaimana yang disebutkan Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Awsath 3/213 no 2949 dan Ibnu Adiy dalam Al Kamil 1/157-158. Shalih bin Malik Al Khawarizmiy dimasukkan oleh Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat dan berkata “mustaqim al hadits” [Ats Tsiqat juz 8 no 13647]. Al Khatib berkata “shaduq” [Tarikh Baghdad 10/431 no 4805]</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan mengumpulkan jalan-jalannya maka tidak diragukan kalau hadis ini sanadnya shahih. Dalam Atsar di atas Ibrahim mengabarkan perselisihan antara Masruq dengan ‘Umaarah bin Uqbah anak dari Uqbah bin Abi Muith dan saudara Walid bin Uqbah. Siapakah kedua orang tersebut.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#0000ff;">Masruq bin Al Ajda’</span> adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat mukhadhramun. Al Ijli menyatakan ia tsiqat. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat memiliki hadis-hadis shalih”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 10 no 206]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat faqih ahli ibadah mukhadhramun” [At Taqrib 2/175]. Adz Dzahabi menyebutnya Imam Qudwah [teladan] dan Alim [As Siyar 4/63 no 17]</li>
<li>‘<span style="color:#0000ff;">Umaarah bin Uqbah bin Abi Muith</span> adalah saudara Walid bin Uqbah termasuk salah seorang sahabat Nabi. Ia memeluk islam pada saat Fathul Makkah, Ibnu Hajar menyebutkannya dalam Al Ishabah [Al Ishabah 4/585 no 5728]. Ibnu Abi Ashim juga memasukkannya sebagai sahabat Nabi [Al Ahad Wal Matsani 1/406].</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">Dari matan hadis tersebut maka dapat diketahui beberapa hal yang <span style="text-decoration:underline;">bisa dibilang meruntuhkan sebagian keyakinan salafiyun</span>.</span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Berdasarkan kesaksian <span style="color:#0000ff;">‘Umaarah bin Uqbah</span> [sahabat Nabi] maka ternyata salah satu yang ikut mengepung dan membunuh Utsman bin ‘Affan adalah<span style="color:#0000ff;"> Masruq bin Al Ajdaa’</span> seorang imam mukhadhramun yang tsiqat dimana hadis-hadisnya dijadikan hujjah dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim. Bukankah <span style="color:#0000ff;"><em>salafy berkeyakinan kalau yang mengepung dan membunuh Utsman adalah kaum munafik maka itu berarti salafy menuduh Bukhari dan Muslim berhujjah dengan hadis orang munafik.</em></span></li>
<li>Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Masruq dari Ibnu Mas’ud maka diketahui bahwa ada <span style="text-decoration:underline;"><em><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">sahabat Nabi yang dicap masuk “neraka” yaitu anak-anak Uqbah bin Abi Mu’ith</span></em></span> yang ketika itu kafir bersama ayahnya diantaranya ‘Umaarah bin Uqbah yang berselisih dengan Masruq di atas. Dan itu berlaku juga buat saudaranya yaitu <span style="color:#0000ff;">Walid bin Uqbah</span> sahabat Nabi <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;"><em>yang divonis fasik oleh Allah SWT.</em></span></span></li>
<li>Dari hadis ini juga bisa dilihat bahwa <span style="color:#0000ff;">Masruq</span> <span style="text-decoration:underline;color:#800000;">sepertinya tidak berkeyakinan kalau “semua sahabat adalah adil”.</span> Tampak dalam riwayat di atas Masruq berselisih dengan salah seorang sahabat Nabi dan tidak ragu untuk menyatakan keburukannya berdasarkan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang ia dengar dari Ibnu Mas’ud.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Fakta-fakta ini sangat menyakitkan bagi salafiyun, pastinya mereka akan mencari segala cara untuk berdalih membela diri. Tetapi sayang sekali pedang yang sekarang mereka hadapi itu bermata dua, walaupun mereka bisa selamat dari mulut buaya tetap saja mereka akan langsung masuk ke mulut harimau. Maju kena, mundur kena, apalagi diam ya babak belur dan untuk para muqallid salafy atau troll yang cuma bisa cuap cuap teriak menghina maka kita katakan “matilah dengan kemarahanmu”.</p>
<p style="text-align:justify;">_______________</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><strong>ARTIKEL TERKAIT</strong></span></p>
<ul>
<li><a href="http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/28/potret-sahabat-nabi-saw-al-walid-bin-%E2%80%98uqbah/" target="_blank">Potret Sahabat Nabi saw al Walîd bin ‘Uqbah</a></li>
</ul>
<p>____________________________________________________________________</p>
<p><strong><span style="color:#800000;">UNTUK BERKOMENTAR DAN BERINTERAKSI DENGAN PENULIS SILAHKAN</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2011/06/29/imam-tsiqat-ikut-membunuh-utsman-atau-sahabat-nabi-yang-masuk-neraka/" target="_blank">KLIK DISINI</a></strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/ilmu-hadis/'>Ilmu Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/jarah-tadil/'>Jarah &amp; Ta'dil</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/kajian-keadilan-sahabat/'>Kajian Keadilan Sahabat</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/perawi-hadis/'>Perawi Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/sahabat-yang-masuk-neraka/'>Sahabat Yang Masuk neraka</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/sisi-lain-sahabat-nabi-saw/'>Sisi Lain Sahabat Nabi Saw</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/keadilansahabat.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/keadilansahabat.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/keadilansahabat.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/keadilansahabat.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/keadilansahabat.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/keadilansahabat.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/keadilansahabat.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/keadilansahabat.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/keadilansahabat.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/keadilansahabat.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/keadilansahabat.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/keadilansahabat.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/keadilansahabat.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/keadilansahabat.wordpress.com/162/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keadilansahabat.wordpress.com&amp;blog=22466259&amp;post=162&amp;subd=keadilansahabat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/28/imam-tsiqat-ikut-membunuh-utsman-atau-sahabat-nabi-yang-masuk-neraka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a69d94340a8a0712ab444967fe7a9106?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">keadilansahabat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Potret Sahabat Nabi saw al Walîd bin ‘Uqbah</title>
		<link>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/28/potret-sahabat-nabi-saw-al-walid-bin-%e2%80%98uqbah/</link>
		<comments>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/28/potret-sahabat-nabi-saw-al-walid-bin-%e2%80%98uqbah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Aug 2011 11:45:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>keadilansahabat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Jarah & Ta'dil]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Perawi Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Yang Fasiq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keadilansahabat.wordpress.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Potret Sahabat Nabi saw al Walîd bin ‘Uqbah SUMBER:jakfari.wordpress.com Dengan dalih konsep &#8220;Keadilan Sahabat&#8221; Seorang sahabat yang jelas-jelas berdusta kepada Nabi SAW dan di cap Fasiq oleh Allah SWT, maka riwayatnya pun tetap diandalkan oleh para ulama ahli hadis (Ahlussunnah) salah satu contoh adalah al Walid bin Uqbah -Admin: Keadilan Sahabat- Oleh Ibnu Jakfari Sahabat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keadilansahabat.wordpress.com&amp;blog=22466259&amp;post=159&amp;subd=keadilansahabat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"><strong>Potret Sahabat Nabi saw al Walîd bin ‘Uqbah</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span><a href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/" target="_blank">jakfari.wordpress.com</a></strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dengan dalih konsep &#8220;Keadilan Sahabat&#8221; Seorang sahabat yang jelas-jelas berdusta kepada Nabi SAW dan di cap Fasiq oleh Allah SWT, maka riwayatnya pun tetap diandalkan oleh para ulama ahli hadis (Ahlussunnah) salah satu contoh adalah al Walid bin Uqbah <span style="color:#800080;"><em>-Admin: Keadilan Sahabat-</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><strong>Oleh Ibnu Jakfari</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sahabat agung  -&#8221;<em>jalîl&#8221;-</em> lain kebanggaan Ahlusunnnah adalah<span style="color:#0000ff;"><em> al Walîd bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith</em></span> saudara seibu <span style="color:#0000ff;"><em>Khalifah Utsman bin Affân</em></span> yang hingga masa kekhalifahaannya ia percayai untuk menjabat sebagai Gubenur <span style="text-decoration:underline;">kendati ia fasik</span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentang siapa dan bagaimana sepak-terjangnya yang mungkin dapat “menjadi teladan” bagi para pemuda  Salafy/Sunni penuh semangat, simak uraian di bawah ini!</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ibnun Hajar al Asqallâni</em> memperkenalkan kepada kita tentang siapa sejatinya <em>al Walîd bin ‘Uqbah,</em> ia berkata, <em>“Al Walîd bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith … al Umawi, saudara seibu Ustman bin Affân ibu mereka bernama Arwâ binti Karîz bin Rabî’ah…</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ayahnya (‘Uqbah) dipancung setelah selesai parang Badr. Ia (‘Uqbah) sangat membenci dan ganas terhadap kaum Muslimin, banyak mengganggu Rasulullah saw. ia ditawan dalam perang Badr lalu <span style="color:#800000;">Nabi saw. memerintahkan agar ia dibunuh. Ia barkata, ‘Hai Muhammad (jika engkau bunuh aku) siapa yang akan mengurus anak-anakku?’ Nabi saw. berkata, <em>‘Anak-anakmu untuk neraka!</em>’</span> . <span id="more-159"></span><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Dikatakan bahwa untuknyalah ayat <em>“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang yang fasik membawa berita maka periksalah dengan teliti….” </em>(QS. Al Hujurât [49];6) turun, Ibnu <span style="color:#0000ff;">Abdil Barr</span> berkata,<em> ‘Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama ahli tafsir Al Qur’an bahwa ayat ini turun untukknya</em>.’<a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn1">[1]</a> (Lalu ia menyebutkan kisah seperti nanti akan saya sebutkan dari riwayat para ulama)</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Hajar</em></span> melanjutkan,</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#800000;">“Dan kisahnya ketika memimpin shalat shubuh empat rakaat dalam keadaan mabok adalah sangat masyhur</span> dan diriwayatkan dengan banyak jalur. Demikian juga kisah dicopotnya ia dari jabatan sebagai Gubenur wilayah Kufah setelah terbukti mabok juga masyhur dan diriwayatkan dengan banyak sanad dalam kitab Shahîhain (Bukhari dan Muslim)…. setelah kematian Utsman, al Walîd mengucilkan diri dari dunia politik, tidak ikut terlibat dalam fitnah, tidak bersama Ali tidak juga bersama lawan-lawannya. Akan tetapi ia membakar semangat Mu’awiyah agar memberontak terhadap Ali. Ia menulis surat dan menggubah bait-bait syair untuk tujuan itu dan ia kirimkan juga di antara nya    kepada Mu’awiyah!</em> <a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn2">[2]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Abdil Barr</em></span> menegaskan kepada kita hahwa semasa menjabat sebagai Gubenur Kufah, bau busuk sepak terjang terkutuk <em>al Walîd</em> sangat mengganggu penciuman penduduk kota Kufah! Ia berkata, ‘<em>Dan al Walîd memiliki banyak kejadian buruk selama di kota Kufah yang membuktikan kejelekan keadaannya dan keburukan tindakannya…</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Al Ashmu’i, Abu Ubaid dan <span style="color:#0000ff;">al Kalbi</span></em> serta ulama lainnya mengatakan bahwa <em><span style="text-decoration:underline;color:#800000;">al Walîd adalah pecandu berat khamer</span>.</em>.. kabar tentang pesta khamer yang biasa ia gelar bersama <span style="color:#0000ff;"><em>Abu Yazîd ath Thâi</em></span> adalah sangat terkenal dan banyak. <em>Kami jijik menyebutnya di sini.</em> Kami hanya akan menyebutkan sekelumit saja apa yang disebutkan oleh  <em><span style="color:#0000ff;">Umar bin Syubbah</span>,</em><span style="color:#800000;"><em> “&#8230;al Walîd memimpin shalat shubuh empat raka’at dalam keadaan mabok berat, lalu ia menoleh kepada para makmum dan berkata, ‘Apa mau saya tambah lagi?!’ dan berita al Walîd yang shalat shubuh empat raka’at adalah sangat masyhur dari riwayat para perawi jujur terpercaya/tsiqât dari penukilan ahli hadis dan ahli sejarah….</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Karena perbuataannya itu ia dihukum dera/cambuk sebanyak empat puluh kali cambukan setelah para saksi bersaksi. Pelaksana hukuman itu adalah Abdullah bin Ja’far (anak saudara Imam Ali as.)</em>.<a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dalam banyak riwayat bahwa<span style="text-decoration:underline;color:#800000;"> ia mabok hingga muntah-muntah di mihrab</span> ketika memimpin shalat shubuh tersebut!</em><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kegemaran Mabok-mabokan Yang Mendarah Daging!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Rupanya ketergantungan terhadap khamer begitu dalam dalam kehidupan sang Sahabat &#8220;Panutan ulama Ahlusunnah yang <em>Jalîl</em> ini&#8221;. Sebab apa yang Anda baca di atas bukan satu-satunya kasus yang terpantau dan dicatat sejarah… banyak kasus serupa yang dicatat para ulama dan ahli sejarah. <span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu ‘Asâkir</em></span> dalam <span style="color:#0000ff;"><em>Târîkh Damasqus</em></span>-nya berkata, <span style="color:#800000;"><em>“Al Walîd bin ‘Uqbah adalah pejabat Utsman pertama yang berbuat kerusakan. Ia mengundang tukang sihir [ke dalam masjid], menenggak khamer dan teman minumnya adalah Abu Zaid seorang nashrani yang sangat dia istimewakan.</em>”</span><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Imam adz Dzahabi</em></span> (ulama kebanggaan dan andalan Ahlnsunnah) dalam<span style="color:#0000ff;"><em> Siyar al A’lâm</em></span>,<span style="color:#0000ff;"><em> Ibnu Qudâmah</em></span> dalam kitab <span style="color:#0000ff;"><em>al Mughni</em></span> dan <span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu ‘Asâkir</em></span> melaporkan dari<span style="color:#0000ff;"> ‘Alqamah</span>, <em>“Kami bergabung dalam satu pasukan dalam peperangan melawan Romawi bersama kami Hudzaifah, pemimpin kami saat itu adalah al Walîd, lalu ia minum khamer (setelah terbukti berdasarkan kesaksian) kami bermaksud menegakkan hukuman atasnya, Hudzaifah berkata, ‘Apakah kalian akan menyambuk Amir kalian sekarang, sedangkan kalian sudah dekat dengan musuh kalian, maka jika kalian lakukan, maka mereka menjadi berani menyerang kita.’ Lalu sampailah ucapan Hudzaifah kepada  al Walîd maka ia menggubah baik syair yang berbunyi:</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Aku akan terus meminumnya kendati ia haram hukumnya*** </em></p>
<p style="text-align:center;"><em>dan aku tetap akan meminumnya betapapun orang-orang murka atasku.<a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn6"><strong>[6]</strong></a> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Bait syair<em> al Walîd</em> di atas jelas menunjukkan betapa benar-benar melecehkan agama dan umat Islam… tetapi jika <em>al Walîd</em> bersikap demikian maka hal itu pantas-pantas saja sebab dia adalah seorang fasik yang telah diabadikan kefasikannya oleh Allah SWT dalam Al Qur’an…. Mungkinkah seorang fasik jiwanya akan muncul dari dirinya keshalehan sejati?</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang Allah firmankan (seperti akan kami buktikan nanti) adalah bukti mu’jizat Al Qur’an… betapa <span style="color:#800000;">seorang yang ditegaskan sebagai fasik tidak mungkin berubah menjadi tidak fasik…</span> tentunya semuanya dengan sepenuh ikhtiyar hamba! Persis ketika Allah SWT memastikan bahwa Abu Lahab akan mati dalam keadaan kafir dan masuk neraka! Benar bahwa hingga mati, Abu Lahab tidak bertobat dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi, apa yang dinyatakan al Walîd adalah bukti betapa ia benar-benar tidak menghormati norma agama!</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah sekilas sejarah sahabat Agung nun mulia &#8220;kebanggaan Ahlusunnah&#8221;! Dan untuk lebih lengkapnya dan demi memantapkan keyakinan Anda akan kesalehan dan keteladanan &#8220;sahabat unggulan&#8221; yang satu ini ikuti ulasan berikut! Semoga Anda puas! <em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Allah SWT Menyebut al Walîd Dengan Gelar Si Fâsiq!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sebuah ayat, <em>Allah SWT dengan tegas menggelari al Walîd bin ‘Uqbah sebagai si fasiq.</em> Allah SWT berfirman:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>يَا أَيُّها الذينَ آمَنُوا إِنْ جاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيّنُوا …</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“</em><em>Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu or</em><em>a</em><em>ng yang fasik membawa berita </em><em>m</em><em>aka periksalah dengan teliti….</em><em>” </em>(QS. Al Hujurât [49];6)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keterangan Para Ulama Ahlusunnah<em></em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kendati nama <span style="color:#0000ff;"><em>al Walîd bin ‘Uqbah</em></span> tidak disebut dalam ayat di atas (seperti kebiasaan al Qur’an dalam menyebut peristiwa atau kasus yang terjadi di masa turunnya) namun demikian <span style="text-decoration:underline;color:#800000;">seluruh riwayat tentang sebab turunnya ayat di atas telah sepakat bahwa ia turun untuk</span><span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em> al Walîd bin ‘Uqbah</em></span> terkait sebuah kisah yang panjang, seperti juga telah Anda baca keterangan <em>Imam Ibnu Abdil Barr al Mâliki</em>.<a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Al Walîd bin ‘Uqbah</em></span>  diutus sebagai ‘<em>âmil</em> zakat untuk mengumpulkan harta zakat dan shadaqah dari bani al Mushthaliq yang telah memeluk Islam, mendengar kabar bahwa utusan Rasulullah saw. akan datang, mereka menyambutnya keluar ke perbatasan desa mereka, namun menyaksikan itu<em> al Walîd bin ‘Uqbah  justeru malah kembali pulang dan kemudian membuat-buat berita palsu bahwa mereka telah murtad dan kembali kafir. Mereka menolak menyerahkan harta zakat mereka dan hampir-hampir mereka membunuhku, kata al Walîd</em>. Mendengar berita itu Rasulullah saw. memerintahkan sekelompok sabahat beliau untuk memastikan kabar berita itu, ternyata tidak benar dan<span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em> al Walîd berbohong kepada Rasululah saw.</em></span> karena, kata sebagian riwayat itu, antara dia dan kaum itu terdapat permusuhan di masa jahiliyah, dan ia ingin melampiaskan demdamnya atas mereka. Maka turunlah ayat tersebut di atas sebagai peringatan bagi kaum Mukmin agar berhati-hati dalam menerima kabar berita dari seorang yang fasik, supaya tidak bertindak keliru.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Para ulama dan ahli tafsir Ahlusunnah telah bersepakat</em> berdasarkan riwayat-riwayat yang kuat bahwa <em>yang dimaksud dengan “si fasik” yang berbohong kepada Nabi saw. dalam urusan yang penting ini adalah al Walîd bin ‘Uqbah</em> saudara seibu Utsman bin Affân.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dibawah ini akan saya sebutkan komentar sebagian ulama tentangnya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Ibnu Katsir, ia berkata</strong>:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>و قد ذكر كثير من المفسرين أن هذه الآية نزلت في الوليد بن عقبة بن أبي معيط،</strong><strong> </strong><strong>حين بعثه رسول اللّه صلى اللّه عليه و سلم على صدقات بني المصطلق، و قد روي ذلك من طرق‏ و من أحسنها ما رواه الإمام أحمد في مسنده من رواية ملك بني المصطلق، و هو الحارث بن ضرار والد جويرية بنت الحارث أم المؤمنين رضي اللّه عنها</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"> <em>“Dan banyak dari para mufassir menyebutkan bahwa<span style="color:#800000;"> ayat ini turun untuk</span> <span style="color:#0000ff;">Al Walîd ibn ‘Uqbah ibn Abi Mu’aith</span> ketika diutus untuk memungut shadagah bani Mushthaliq, kisah itu telah diriwayatkan dari banyak jalur, jalur paling bagus adalah apa yang diriyawatkan Imam Ahmad dari jalur raja/pemimpin bani Mushthaliq yaitu Hârits bin Dhirâr ayah Juwairiyah istri Nabi ra.”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian ia menyebutkan beberapa riwayat tentangnya dari riwayat<em> Imam Ahmad</em>,<em> Ibnu Jarîr ath Thabari.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ia juga mengatakan:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;">و <strong>كذا ذكر غير واحد من السلف‏</strong><strong> </strong><strong>منهم ابن أبي ليلى و يزيد بن رومان و الضحاك، و مقاتل بن حيان، و غيرهم في هذه الآية أنها أنزلت في الوليد بن عقبة، و اللّه أعلم</strong><strong>. </strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Tidak sedikit dari kalangan ulama Salaf di antara mereka ialah Ibnu Abi Lailâ, Yazid ibn Rûmân, al Dhahhâk dan Muqâtil ibn Hayyân yang menyebutkan bahwa<span style="color:#800000;"> ayat ini untu</span>k <span style="color:#0000ff;">Al Wlîd bin ‘Uqbah</span>,.”</em><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn8">[8]</a><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Al Qurthubi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tafsirnya, setelah mengatakan bahwa ayat ini turun untuk <em>al Walîd,</em> menukil riwayat dari Qatadah……. lalu Allah menurunkan ayat ini.</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>وسمي الوليد فاسقا أي كاذبا. قال‏</strong> <strong>ابن زيد و- مقاتل و- سهل بن عبد الله: الفاسق الكذاب‏</strong> <strong>. و- قال أبو الحسن  الوراق: هو المعلن بالذنب. و- قال ابن طاهر: الذي لا يستحي من الله.</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;color:#800000;">“Dan <span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">al Walîd</span> dinamai fasik artinya si pembohong</span>. Ibnu Zaid berkata, fasik artinya al kadzdzâb, pembohong besar. Abu al Hasan  al Warrâq berkata, fasik artinya yang terang-terangan dalam menampakkan dosa.. Ibnu Thahir berkata, yang tidak malu terhadap Allah…</em><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn9">[9]</a><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. A</strong><strong>n </strong><strong>Nasafi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Menegaskan, para ulama telah sepakat bahwa <span style="color:#800000;">ayat ini turun untuk</span> <span style="color:#0000ff;"><em>Al-Walîd ibn ‘Uqbah</em>.</span> Beliau juga menyimpulkan bahwa disebutkannya kata <em>f</em><em>â</em><em>siqun </em>dalam bentuk <em>nakirah</em> (tanpa <em>alif</em> dan <em>l</em><em>â</em><em>m</em>) untuk tujuan keuumuman, siapapun dari orang yang fasik tanpa melihat golongannya, jika membawa kabar harus diuji kebenarannya terlebih dahulu… jangan kamu bersandar kepada ucapan si fasik, sebab seeorang yang tidak menjaga diri dari jenis kefasikan tertentu ia pasti tidak menjaga diri dari berbohong yang mana ia adalah bagian dari kefasikan itu…<a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn10">[10]</a><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. Al</strong><strong> </strong><strong>Kh</strong><strong>â</strong><strong>zin</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berkata:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>الآية نزلت في الوليد بن عقبة بن أبي معيط</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“<span style="color:#800000;">Ayat ini turun untuk</span> <span style="color:#0000ff;">Al-Waliid ibn ‘Uqbah ibn Abi Mt’aith</span>.” Setelahnya, ia menyebutkan riwayat tentangnya.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><em>Walaupun kemudian ia berusaha membelanya dengan tanpa alasan</em></span>. Seperti akan Anda saksikan nanti! Dan sikap itu adalah aneh, khususnya ia sendiri memastikan bahwa yang dimaksud dengan si fasik dalam ayat itu adalah al Walîd.<a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn11">[11]</a><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5. Al</strong><strong> </strong><strong>Baghawi</strong> berkata:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong> </strong><strong>نزلت في الوليد بن عقبة بن أبي معيط</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“<span style="color:#800000;">Ayat ini turun untuk</span><span style="color:#0000ff;"> al Walîd</span> bin ‘Uqbah ibn Abi Mut’aith.”</em><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn12">[12]</a><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6. Syeikh al Alûsi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tafsir <em>Rûh al Ma’âni</em>-nya<em> </em>menyebutkan riwayat <em>Imam Ahmad, Ibnu Abi al Dunya, al Thabarâni, Ibnu Mandah</em> dan <em>Ibnu Mardawaih</em> dengan sanad, yang ia sifati dengan <em>jayyid</em> (bagus) dari <em>al Harits ibn Abi Dhirâr al Khuza’i</em>. Sebagaimana ia juga menyebut riwayat dari Abduh ibn Humaid dari al Hasan.<a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn13">[13]</a> Setelahnya ia menerangkan makna kata <em>fâsiq</em>. Ia berkata:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>و الفاسق الخارج عن حجر الشرع من قولهم: فسق الرطب إذا خرج عن قشرة، قال الراغب: و الفسق أعم من الكفر و يقع بالقليل من الذنوب و الكثير لكن تعورف فيما كانت كثيرة، و أكثر ما يقال الفاسق لمن التزم حكم الشرع و أقر به ثم أخل بجميع أحكامه أو ببعضها</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan fasik itu adalah orang yang keluar dari ikatan syari’at, di ambil dari ucapan orang Arab, fasaqa ar rathbu artinya daging kurma setengah matang itu keluar dari kulitnya. Ar Râghib (al Isfahâni), ‘Kata fasik lebih umum dari kekafiran, dan kefasikan itu bisa terjadi diakibatkan sedikit dosa atau juga banyak, tetapi ia lebih identik digunakan untuk pelaku  tindakan dosa yang banyak. Yang terbanyak digunakan kata fasik itu untuk orang yang telah menerima secara formal syari’at kemudian ia menyalahinya dengan menyalahi seluruh atau sebagian hukumnya.” </em> <strong></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>7. Asy Syaukâni </strong>berkata:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>قال المفسرون: إن هذه الآية نزلت في الوليد بن عقبة بن أبي معيط كما سيأتي بيانه إن شاء اللّه‏</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Para ahli tafsir berkata ayat ini turun untuk <span style="color:#800000;">al Walîd bin ‘Uqbah ibn Abi Mu’aith</span> seperti akan kami terangkan nanti…”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian ia menyebutkan riwayat tentangnya dari riwayat Ahmad, Ibnu Abi Hatim, al Thabarâni, Ibnu Mandah dan Ibnu Mardawaih, al Suyûthi dan ia mengatakan bahwa sanadnya bagus dari al Hârits…</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian ia mengutip<em> Ibnu Katsir:</em></p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>قال ابن كثير: هذا من أحسن ما روي في سبب نزول الآية. و قد رويت روايات كثيرة متفقة على أنه سبب نزول الآية، و أنه المراد بها و إن اختلفت القصص</strong><strong>.</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>‘Dan ini adalah paling bagusnya riwayat tentang sebab turun ayat ini. Dan telah diriwayatkan banyak riwayat yang sepakat bahwa ia adalah sebab turunnya ayat tersebut, walaupun ada perbedaan dalam kisahnya</em>.’<a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn14">[14]</a><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>8. Al</strong><strong> </strong><strong>Q</strong><strong>â</strong><strong>simi</strong> dalam tafsir ayat ini menukil riwayat-riwayat tentang sebab turunnya ayat ini, dari Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Ia berkata:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>قال ابن كثير: ذكر كثير من المفسرين أن هذه الآية نزلت في الوليد بن عقبة بن أبي معيط، حين بعثه رسول اللّه صلّى اللّه عليه و سلّم على صدقات بني المصطلق. و قد روي ذلك من طرق. و من أحسنها ماعن ابن المصطلق، و هو الحارث بن ضرار والد جويرية أم المؤمنين رضي اللّه عنها</strong><strong>.</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Ibnu Katsîr berkata: “Dan banyak dari para mufassir menyebutkan bahwa ayat ini turun untuk Al Walîd ibn ‘Uqbah ibn Abi Mu’aith ketika diutus untuk memungut shadagah bani Mushthaliq, kisah itu telah diriwayatkan dari banyak jalur, jalur paling bagus adalah apa yang diriyawatkan Imam Ahmad dari jalur raja/pemimpin bani Mushthaliq yaitu Hârits bin Dhirâr ayah Juwairiyah istri Nabi ra.“</em></p>
<p style="text-align:left;" dir="rtl">Kemudian ia memperkenalkan kepada kita siapa sejatinya al Walîd itu, ia berkata: <span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Qutaibah</em></span> berkata dalam <span style="color:#0000ff;"><em>al-Ma’arif</em></span>:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>الوليد بن عقبة بن أبي معيط بن أبي عمرو بن أمية ابن عبد شمس، و هو أخو عثمان لأمه، أروى بنت كريز. أسلم يوم فتح مكة، و بعثه رسول اللّه صلّى اللّه عليه و سلّم مصدقا إلى بني المصطلق، فأتاه فقال: منعوني الصدقة! و كان كاذبا</strong><strong> </strong><strong>. </strong><strong>فأنزل اللّه هذه الآية. و ولّاه عمر على صدقات بني تغلب، و ولّاه عثمان الكوفة بعد سعد بن أبي وقاص، فصلى بأهلها صلاة الفجر، و هو سكران، أربعا، و قال: أزيدكم؟! فشهدوا عليه بشرب الخمر عند عثمان، فعزله و حدّه. و لم يزل بالمدينة حتى بويع عليّ، فخرج إلى الرقّة فنزلها، و اعتزل عليّا و معاوية. و مات بناحية الرّقة</strong><strong>.</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“<span style="color:#0000ff;">Al Walîd bin ‘Uqbah ibn Abi Mu’aith bin Abi bin Umayyah ibn Abdi Syams</span>, ia adalah saudara seibu dengan Utsman yaitu ibu Arwâ binti Karîz.<span style="color:#800000;"> Ia (al Walîd) masuk Islam pada saat penaklukan kota Makkah</span>, ia diutus Rasulullah saw. sebagai pemungut zakat kepada bani al Mushthaliq, ia kembali kepada beliau saw. dan berkata, mereka menolak menyerahkan zakat kepadaku! <span style="text-decoration:underline;"><strong>Dan ia adalah pembohong</strong></span>. Maka Allah menurunkan ayat ini. Umar mengangkatnya sebagai pemungut shadaqah bani Taghlib. <span style="text-decoration:underline;color:#800000;">Utsman mengangkatnya sebagai Gubernur kota Kufah</span> setelah dicopotnya <span style="color:#0000ff;">Sa’ad ibn Abi Waqqâsh,</span> ia ( al Walîd) <span style="text-decoration:underline;color:#800000;">memimpin salat shubuh dalam keadaan mabuk</span>, ia salat empat raka’at, dan (setelah salam) mengatakan, ‘Apakah mau saya tambah?!’ Penduduk kota Kufah juga memberikan kesaksian di hadapan Utsman bahwa ia mabuk, maka ia mencopot dan memberikan sanksi (cambuk) kepadanya</em><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn15">[15]</a>, <em>setelah itu ia tinggal di kota Madinah hingga Ali dibaiat, maka ia keluar menuju daerah al Riqqah dan tinggal di sana, ia menjauhkan diri dalam komflik antara Ali dan Mu’awiyah, ia mati di daerah al Riqqah…. “</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>9. Al Qasimi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Juga menukil kesimpulan yang dibuat <span style="color:#0000ff;"><em>al Suyuthi</em>,</span> ‘Dalam ayat ini terdapat (kesimpulan) bahwa <span style="text-decoration:underline;color:#800000;">berita orang fasik harus ditolak</span>…’.<a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn16">[16]</a></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>10. Jalaluddin as Suyûthi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tafsir <em>ad Durr al Mantsur-</em>nya menyebutkan sepuluh riwayat yang menegaskan bahwa ayat ini untuk <span style="color:#0000ff;"><em>al Walîd bin ‘Uqbah</em></span>;</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Riwayat pertama dari Ahmad, Ibnu Abi Hatim, ath Thabarâni, Ibnu Mandah dan Ibnu Mardawaih, dengan sanad yang bagus dari sahabat al Hârits.</li>
<li>Riwayat kedua dari ath Thabarâni, Ibnu Mandah dan Ibnu Mardawaih dari sahabat Alqamah ibn Nahiyah.</li>
<li>Ketiga, dari riwayat ath Thabarâni dari sahabat Jabir ibn Abdillah.</li>
<li>Riwayat keempat, dari riwayat Ibnu Rahawaih, Ibnu Jarir, ath Thabari dan Ibnu Mardawaih dari Ummu Salamah- istri Nabi saw.</li>
<li>Riwayat kelima, dari riwayat Ibnu Jarir ath Thabari, Ibnu Mardawaih dan al—Baihaqi dalam Sunannya dan Ibnu Asakir dari sahabat Ibnu Abbas ra.</li>
<li>Riwayat keenam, dari riwayat, Adam, Abdu ibn Humaid, Ibnu Jarir ath Thabari, Ibnu al Mundzir dan al Baihaqi dari Mujahid,</li>
<li>Riwayat ketujuh, dari riwayat Ibnu Mardawaih dari sahabat Jabir ibn Abdillah,</li>
<li>Riwayat kedelapan, dari riwayat Abdu ibn Humaid dari al Hasan,</li>
<li>Riwayat kesembilan dari riwayat Abdu ibn Humaid dari Ikrimah,</li>
<li>dan riwayat kesepuluh, dari riwayat Abdu ibn Humaid dan Ibnu Jarir dari Qatadah.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dalam <em>Lub</em><em>â</em><em>b a</em><em>n </em><em>Nuq</em><em>û</em><em>l</em>, as Suyûthi kembali menyebutkan riwayat yang menegaskan bahwa ayat ini turun untuk al Walîd.<a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn17">[17]</a></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>11. Imam al Wâhidi</strong> dalam kitab <em>Asbâb an Nuzûl</em>-nya menegeskan bahwa ayat ini turun untuk <span style="color:#0000ff;"><em>al Walîd bin ‘Uqbah ibn Abi Mu’aith</em></span>. Kemudian ia menyebutkan kisah tentangnya dan juga menukil riwayat panjang dari Imam al Hakim.<a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn18">[18]</a></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>12. Syeikh Ibnu Âsyûr</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tafsir <em>at Tahhîr wa an Nanwîr-</em>nya menegaskan bahwa riwayat yang menyebutkan turunnya ayat tersebut untuk <em>al Walîd</em> sangat banyak sekali. Ia berkata:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>و قد تضافرت الروايات عند المفسرين عن أم سلمة و ابن عباس و الحارث بن ضرارة الخزاعي أن هذه الآية نزلت عن سبب قضية حدثت. ذلك أن النبي‏ء صلى اللّه عليه و سلّم بعث الويد بن عقبة بن أبي معيط إلى بني المصطلق من خزاعة ليأتي بصدقاتهم‏</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan telah banyak riwayat di kalangan para ahli tafsir dari Ummmu Salamah, Ibnu Abbas dan al Hârits bin Dhirâr bahwa ayat ini turun terkait dengan sebuah peristiwa yang menjadi sebab turunnya yaitu Nabi saw. mengutus a<span style="color:#0000ff;">l Walîd bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith</span> kepada bani Mushthalaq dari suku Khuzâ’ah untuk mengumpulkan zakat mereka.</em>”<a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn19">[19]</a></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Jakfari berkata:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Inilah beberapa kutipan dari para ulama sengaja saya hadirkan dari berbagai kitab tafsir Ahlusunnah agar menjadi jelas bahwa hal ini telah diaklamasikan oleh para ulama dan bukan yang hanya diriwayatkan dalam satu atau dua riwayat yang belum pasti kesahihannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan sepak terjang al Walîd seperti juga telah disinggung, tidak berubah, ia tatap fasik dengan tidak henti-hentinya berlaku zalim dalam kekuasaannya, tanpa ada kontrol dari pemerintahan pusat; Khalifah Utsman bin Affân ketika itu. Dan rupanya predikat sebagai orang fasik tidak hanya ditegaskan Allah dalam ayat di atas semata, tetapi <em><span style="text-decoration:underline;color:#800000;">ada ayat lain yang juga menyebut al Walîd dengan gelar fasik</span>.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak riwayat menyebutkan bahwa terjadi konflik antara Imam Ali as. dan al-Waliid, lalu Imam Ali as. mengecamnya dengan mengatakan, hai orang fasik, diam kamu. Maka Allah SWT. menururnkan sebuah ayat yang membenarkan kecaman dan mentalitas fasik al-Waliid.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Allah SWT. berfirman:</strong></p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>أَ فَمَنْ كانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كان فَاسِقًا لا يَسْتَوُوْنَ * فَأَمَّا الذينَ آمَنُوا و عَمِلُوا الصالِحاتِ فَلَهُمْ جَناتُ المَأْوَى نُزُلاً بِما كَانوا يَعْمَلُوْنَ * وَ أَمَّا الذيْنَ فَسَقُوا فَمَأْواهُمْ النارُ, كُلَّما أَرادُوا أَنْ يَخْرُحُوا مِنْها أُعِيْدُوا فِيْها,</strong><strong> </strong><strong>وَ قِيْلَ لَهُمْ ذُوْقُوا عَذابَ النارِ الذيْ كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُوْنَ.</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Maka apakah oranmg yang beriman seperti orang yang fasik (kafir)? Mereka tidak sama * Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sale</em><em>h</em><em>, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan* Dan adapun orang-ornag yang fasik (kafir), maka tempat mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikataan kepada mereka:” Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya”. (SQ:32;17-19)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kesempatan ini saya tidak hendak menyebutkan data-data yang menguatkan hal ini, karena saya khawatir pembahahasan kita semakin menjauh, namun saya persilahkan Anda merujuk ke berbagai kitab-kitab tafsir standar, seperti <em>Fath al</em><em> </em><em>Qad</em><em>î</em><em>r</em> dan <em>Syaw</em><em>â</em><em>hid a</em><em>t </em><em>Tanz</em><em>î</em><em>il</em> karya <em>al Hâkim al Hiskân</em>i,<a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn20">[20]</a> pasti Anda menemukan kebenaran apa yang saya katakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam ayat-ayat di atas, setelah menegaskan bahwa tidak akan sama antara orang yang mukmin dan orang yang fasik (yang dalam tafsiran para ulama maksudnya adalah orang kafir), Allah SWT. menyebutkan kesudahan dan nasib kedua model manusia itu, orang-orang yang fasik itu di pastikan neraka sebagai tempat tinggal mereka di akhirat nanti.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Namun <span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;">anehnya para ulama Ahlusunnah mengatakan, al Walîd adalah sahabat yang ‘adil (baik/shaleh, mulia)</span></em><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"> <em>bukan seorang yang fasik!</em></span> dan surga penuh kenikmatan, dan bukan neraka sebagai tempat tinggalnya kelak!! Manakah yang harus kita dengar, firman dan ketetapan Allah atau pendapat para ulama itu?! Jawabnya saya serahkan kepada kejernihan pikiran Anda.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> Para Ulama Ahlusunnah Membela Mati-matian Kehormatan al </strong><strong>Wal</strong><strong>î</strong><strong>d</strong><strong>!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kendati telah nyata bukti-bukti pasti dari riwayat-riwayat shahih serta kenyataan sejarah hidup <span style="color:#0000ff;"><em>al Walîd</em></span> yang fasik, dan kendati Allah telah menegaskan bahwa al Walîd adalah orang yang fasik yang berani mengada-ngada kepalsuan membahayakan terhadap Nabi saw…. Namun demikian para <span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em>ulama Ahlusunnah tidak suka hati jika ada yang menyebut al Walîd sebagai si fasik!</em></span> Seakan mereka memprotes Allah SWT yang menyebut sahabat kebanggaan mereka dengan gelar fasik! Sikap itu, memang aneh dan sungguh aneh. Betapa tidak?! Mereka menyaksikan dan menshahihkan riwayat-riwayat tentang sebab turunnya ayat tersebut untuk al Walîd yang Allah sebut sebagai fasik, tetapi mereka menolak menetapkan gelar itu untuk <span style="color:#0000ff;"><em>al Walîd</em></span>!</p>
<p style="text-align:justify;">Sunnguh mengherankan sikap sebagian ulama Ahlusunnah seperti<span style="color:#0000ff;"><em> ar Râzi, ash Shâwi</em></span> –dalam komentarnya atas tafsir Jalalain-, <span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Âsyûr</em></span> dan beberapa lainnya… <span style="color:#800000;"><em>keberatan itu benar-benar tanpa alasan selain bahwa karena al Walîd adalah sahabat agung, jalîl, maka tidak pantas kita berprasangka demikian terhadap sahabat</em></span>. Karena, kami; ulama Ahlusunnah telah bersepakat bahwa seluruh sahabat itu <em>‘adil</em>/baik, jujur terpercaya, panutan … persetan dengan siapa pun yang berani menyebut <span style="color:#0000ff;">al Walîd</span>; sahabat kebanggaan dan teladan kami sebagai fasik! Zindiqlah kalian yang menyebutnya fasik!!</p>
<p style="text-align:justify;">Persetan dengan Sayyidina Hasan cucu tercinta Nabi saw. yang berani menghina sahabat agung panutan kami; Ahlusunnnah dengan menggelarinya si fasik –seperti yang digelarkan Allah untuknya- seperti dalam riwayat shahih yang telah diabadikan para ulama sejarah.<em><span style="color:#0000ff;"> Imam Hasan as</span>.</em> Berkata kepada <em>al Walîd,</em></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">“… <em>Demi Allah aku tidak mencelamu atas kebencianmu kepada Ali karena Ali telah menderamu sebanyak delapan puluh kali karena kamu menenggak khamr (miras)… <span style="text-decoration:underline;color:#800000;">engkau adalah orang yang telah dinamai Allah dengan FASIQ dan Allah menamai Ali MUKMIN.</span></em>”<a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn21">[21]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Persetan dengan “mulut busuk” siapa pun yang berani menyebut <em><span style="color:#0000ff;">al Walîd bin ‘Uqbah</span></em>, pujaan kami; Ahluusunnah dengan gelar yang ditetapkan Allah atasnya! Kami siap berperang dan menghukumi sebagai Ahli Bid’ah dan Zindiq/kafir atas Anda yang berani menyebut al Walîd bin ‘Uqbah; sahabat agung itu dengan gelar FASIQ!! Demikian kira-kira ancaman para ulama pengagung Para Salaf Shalihîn, seperti al Walîd bin ‘Uqbah, Mu’awiyah putra Abu Sufyân (gembong kaum kafir/musyrik), ‘Amr putra al Âsh (Penghina Nabi saw.), Samurah bin Jundub Cs.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em><span style="color:#800000;">Ketetapan Allah dan Rasul-Nya harus diabaikan! Demi menjaga kehormatan sahabat betapa pun ia seorang fasik, pemabuk dan pembohong besar, nash-nash keagamaan harus diperkosa!</span>!</em></span> Demikian kira-kira luapan semangat pembelaan yang ditampakkann ulama Ahlusunnah itu. Lebih jelasnya Anda baca tafsir <em><span style="color:#0000ff;">Ibnu Âsyur</span>,</em> <em>dia sangat berapi-api dalam usahanya memperkosa ayat dan riwayat-riwayat di atas!</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><em>Seakan persahabatan seorang dengan Nabi saw. akan membentenginya dari kemunafikan, kefasikan dan kebobrokan moral</em></span>. Dengan logika seperti itu bukankah kaum munafik juga bersahabat dengan Nabi saw., dan berjumpa serta menyatakan keimanan di hadapan Nabi saw., namun demikian mereka tetap disebut munafik dan tempat mereka adalah <em>al-darkil asfali minan nâr </em>(tempat paling bawah dan hina dalam api neraka).</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi keterheranan kita mungkin berakhir apabila kita mengerti bahwa bukan persahabatan dengan Nabi saw. yang menjadi titik fokus pembelaaan, akan tetapi sebenarnya adalah kecintaan kepada keluraga besar bani Umayyah dan koleganya yang mendorong mereka membela keluarga terkutuk itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang saya katakan ini tidak berlebihan atau tanpa dasar. <span style="color:#800000;"><em>Perhatikan betapa mereka menelantarkan sahabat-sahabat besar seperti <span style="color:#0000ff;">Ammâr, Abu Dzarr</span> dan tidak memberikan pembelaan yang semestinya dan dengan semangat yang seperti mereka tampakkan ketika membela Mu’awiyah, ‘<span style="color:#0000ff;">Amr ibn al-Ash, Abu Hurairah, al Mughirah bin Syu’bah, al Walîd</span> dan kawan-kawan</em></span>. Bahkan yang sangat mengeherankan, <span style="color:#800000;">mereka sama sekali tidak memberikan pembelaan ketika Bukhari melecehkan Imam Ali as. dengan menyebutnya menentang Nabi saw.</span> dan bersikap kepada beliau saw. seperti sikap orang kafir dengan mendebat dan membantah sehingga Nabi saw. berpaling dan membacakan sebuah ayat yang kata para ulama itu turun menggambarkan karakter buruk orang-orang kafir!</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi para pensyarah Bukhari yang terhormat tidak satu pun dari mereka yang mengatakan, misalnya, tidak layak kita berprasangka buruk terhadap sahabat… bahkan <em><span style="color:#0000ff;">Ibnu Katsir</span> (mufassir andalan Ahluusunnah) menyebutnya dalam tafsir ayat 54 surah al Kahfi dan menjadikan Imam Ali dan Fatimah putri Nabi as. sebagai yang dimaksud dengan ayat kecaman itu.!</em></p>
<p style="text-align:justify;">Mereka; <em>para ulama Ahlusunnah juga tetap saja menampakkan senyum ceria mereka ketika giliran Nabi Muhammad saw., nabi mereka dihina, dilecehkan dan difitnah habis-habsan oleh riwayat-riwayat yang mengatakan</em> misalnya, Nabi saw. kerjanya <a href="http://jakfari.wordpress.com/2010/04/10/potret-sang-nabi-mulia-dalam-hadis-bukhari-2/" target="_blank">hanya mengisi waktu-waktu malamnya dengan kegiatan sek menggilir sembilan atau sebelas istrinya </a>dan yang lebih konyol lagi kata ulama itu Nabi saw. tidak mandi jenabat melainkan hanya sekali saja!</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/2010/04/07/potret-sang-nabi-mulia-di-mata-hadis-bukhari-1/" target="_blank">Nabi saw. dihina dan difitnah membunuh dengan bengis dan tidak manusiawi </a>lawan-lawannya dengan menusuk mata-mata mereka dengan pedang panas mengangah dan setelahnya membiarkan mereka menggelepar-gelepar di atas padang pasir membakar hingga mati kehabisan darah!</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka diam seribu bahasa ketika <a href="http://jakfari.wordpress.com/2010/11/07/potret-sang-nabi-mulia-saw-dalam-hadis-bukhari-5-nabi-muhammad-saw-dan-awal-prosesi-pelantikan-kenabian-dalam-gambaran-bukhari/" target="_blank">Nabi Muhammad saw. dituduh mau bunuh</a> diri karena stres tidak didatangin wahyu… beliau lari ke puncak gunung dan bertekad melemparkan diri, namun untung Malaikat Jibril segera datang, jika tidak….? Jika tidak, para ulama Ahlusunnah tidak sempat punya nabi akhir zaman!!</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka <span style="color:#0000ff;"><em>menuduh Nabi saw. tidak mengetahui bahwa Allah SWT telah mengutusnya sebagai nab</em></span>i sehingga seorang pendeta  nashrani bernama <span style="color:#0000ff;"><em>Waraqah bin Naufal</em></span> menyadarkannya bahwa yang daatang kepadanya itu malaikat Jibril pembawa wahyu kudus… barulah Nabi saw. sadar dan yakin bahwa beliau benar-benar sebagai utunsan Allah… andai bukan karena jasa Waraqah bin Naufal pastilah ulama Ahlusunnah akan menyaksikan nabi mereka tepat dalam keraguan dan tidak pernah mau mentablighkan wahyu yang diterimanya!!</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak cukup sampai di sini, para ulama Ahlusunnah itu justeru menyerang setiap yang berusaha membela Nabi saw. dengan menepis semua fitnahan itu! Tetapi jika giliran data kefasikan al Walîd dibongkar, mereka bangkit bak singa kelaparan mencari mangsa dan meraung-raung menyerang musuh!</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah para ulama Ahlusunnah dengan segenap kekuatan yang mereka miliki membela sahabat kebanggaan mereka; al Walîd yang fasik itu! Karena Salaf kebanggaan mereka harus dibela… siapa pun yang menghinanya harus dilawan, ditentang dan dikecam habis-habisan betapa pun dia adalah Allah <em>Rabbul ‘Alâmin</em>! Sebab kehormatan “Sahabat Agung” kebanggaan mereka di atas segalanya!!</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat bagi Anda yang membanggakan memiliki Salaf Panutan Yang Fasik! Dan di sini <span style="color:#ff0000;"><em>saya meminta kepada Anda saudara Sunniku untuk mendatangkan bukti barang satu saja bahwa al Walîd tidak fasik!!</em></span> Dan data-data yang telah saya sebutkan di atas adalah palsu!!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Jakfari:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Nah sekarang permasalahnya ialah, apakah kita tetap bersikeras mengatakan bahwa orang yang telah ditegaskan Allah SWT. sebagai orang yang fasik, orang yang disebut Nabi saw. sebagai calon tetap penghuni neraka<a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftn22">[22]</a> apakah juga harus kita yakini keadilannya?</p>
<p style="text-align:justify;">Dan <span style="color:#800000;"><em><span style="text-decoration:underline;">apakah kita masih tentram menjadikan perantara dalam mengambil ajaran agama seorang yang berani berbohong kepada Nabi saw. justru dikala beliau saw. masih hidup?</span></em></span> Tidakkah ia lebih berani berbohong kepada kita; manusia biasa ini? Manakah yang lebih harus kita ambil, firman Allah tentang al Walîd bahwa ia fasik atau pendapat para ulama yang mengatakan al Walîd adalah sahabat yang adil dan saleh serta layak dijadikan perantaraan dalam menimba ajaran agama?</p>
<div style="text-align:justify;">
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref1">[1]</a> Al Ishâbah,3/637.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref2">[2]</a> Ibid.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref3">[3]</a> Istî’âb (dicetak dipinggir al Ishâbah),3/630-636.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref4">[4]</a> Ansâb al Asyrâf,6/144.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref5">[5]</a> Târîkh Damasqus,11/314 baca juga Tahdzîb al Kamâl,5/144.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref6">[6]</a> Târîkh Damasqus,239 Siyar al A’lâm,3/414 dan al Mughni,10/538.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref7">[7]</a>Ibid.3/632.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref8">[8]</a> Ibnu Katsir. Tafsir al-Qura’n al-Adziim. Vol.4,208-210. daar al-Ma’rifah – Beirut. Tahun1400 H/1980 M.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref9">[9]</a> Al-Qurthubi. Al-Jâmi’ li Ahkâm alqur’an. jilid. IIX, juz.16, hal.311-312.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref10">[10]</a> Tafsir Al-Nasafi. Jilid. Ii, juz4,hal.168. daar al-Kitaab al-’Arabi. Beirut. tt.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref11">[11]</a> Al Khâzin. Lubâb al Ta’wîl. Vol.6,222 dan Al Baghawi. Cet. Al-Bâbi al-Halabi-Mesir.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref12">[12]</a> Ma’âlim al al Tanzîl. Dicetak dipinggir al Khâzin.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref13">[13]</a> Rûh al Ma’âni. Jil.13, juz.26, hal.297-298. Dâr al Kutub al Ilmiyah. Beirut. Tahun.1994.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref14">[14]</a> Al-Syaukani. Fath al-Qadir. Vol.5,61-62. Daar al-Fikr. Beirut.tt.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref15">[15]</a>Dalam banyak dokumen sejarah bahwa Utsman melakukan itu setelah sebelumnya jusrtu berusaha memberikan sanksi kepada para saksi, akan tetapi Imam Ali as. turun tangan dan memaksa Utsman untuk menegakkan hukum Allah SWT. atas al Walîd, si pemabuk yang fasik itu. Dan akhirnya Utsman pun menghukumnya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref16">[16]</a> Al-Qasimi. Mahâsin al Ta’wîl. Vol.15,115-117. Dâr al Fikr. Tahun.1978.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref17">[17]</a> Lubâb an Nuqûl fi Asbbâb al-Nuzûl.196-197. Dâr Iyâ’ al-’Ulûm. Beirut. Tahun 1978.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref18">[18]</a> Asbbâb al-Nuzûl.261-263. Dâr al Fikr, Beirut. Cet. Tahun 1988.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref19">[19]</a> At Tahhîr wa an Nanwîr,26/190.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref20">[20]</a> Dalam Syawahidnya vol.1,445-453, al-Hiskani menyebutkan empat belas riwayat, riwayat610 hingga 623. Fath al-Qadir. Vol.4,255-256.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref21">[21]</a> Syarah Nahjul Balâghah; Ibu Abi al Hadîd al Mu’tazili,6/292.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#_ftnref22">[22]</a> Demikian disebutkan al Mas’ûdi dalam <em>Mur</em><em>û</em><em>j a</em><em>dz D</em><em>zahab</em>-nya,2/344.</p>
<p>.</p>
<p>____________________________________________________________________</p>
<p><strong><span style="color:#800000;">UNTUK BERKOMENTAR DAN BERINTERAKSI DENGAN PENULIS SILAHKAN</span> <a href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/" target="_blank">KLIK DISINI</a></strong></p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/ilmu-hadis/'>Ilmu Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/jarah-tadil/'>Jarah &amp; Ta'dil</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/kajian-hadis/'>Kajian Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/kajian-keadilan-sahabat/'>Kajian Keadilan Sahabat</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/perawi-hadis/'>Perawi Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/sahabat-yang-fasiq/'>Sahabat Yang Fasiq</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/keadilansahabat.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/keadilansahabat.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/keadilansahabat.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/keadilansahabat.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/keadilansahabat.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/keadilansahabat.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/keadilansahabat.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/keadilansahabat.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/keadilansahabat.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/keadilansahabat.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/keadilansahabat.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/keadilansahabat.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/keadilansahabat.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/keadilansahabat.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keadilansahabat.wordpress.com&amp;blog=22466259&amp;post=159&amp;subd=keadilansahabat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/28/potret-sahabat-nabi-saw-al-walid-bin-%e2%80%98uqbah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a69d94340a8a0712ab444967fe7a9106?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">keadilansahabat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Orang Yang Dilaknat Allah dan Rasul-Nya Tetap Diambil Hadisnya?</title>
		<link>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/25/orang-yang-dilaknat-allah-dan-rasul-nya-tetap-diambil-hadisnya/</link>
		<comments>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/25/orang-yang-dilaknat-allah-dan-rasul-nya-tetap-diambil-hadisnya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Aug 2011 14:22:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>keadilansahabat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Jarah & Ta'dil]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Perawi Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Yang di Laknat Nabi saw]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keadilansahabat.wordpress.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Orang Yang Dilaknat Allah dan Rasul-Nya Tetap Diambil Hadisnya? SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran Oleh J Algar Salah satu masalah besar dalam ilmu hadis adalah inkonsistensi terkait dengan jarh [celaan] dan ta’dil [pujian]. Bagi orang awam ilmu hadis terkesan begitu ilmiah dimana setiap perawi yang menyampaikan hadis mesti dinilai kredibilitasnya tetapi mereka tidak memperhatikan kalau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keadilansahabat.wordpress.com&amp;blog=22466259&amp;post=144&amp;subd=keadilansahabat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"><strong>Orang Yang Dilaknat Allah dan Rasul-Nya Tetap Diambil Hadisnya?</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>SUMBER</strong>:</span><a href="http://secondprince.wordpress.com/2010/08/06/orang-yang-dilaknat-allah-dan-rasul-nya-tetap-diambil-hadisnya/" target="_blank"> <strong>Blog Analisis Pencari Kebenaran</strong></a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>Oleh J Algar</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu masalah besar dalam ilmu hadis adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>inkonsistensi terkait dengan jarh [celaan] dan ta’dil [pujian]</em></span>. Bagi orang awam ilmu hadis terkesan begitu ilmiah dimana setiap perawi yang menyampaikan hadis mesti dinilai kredibilitasnya tetapi mereka tidak memperhatikan kalau penilaian kredibilitas perawi bersifat <em>“apa adanya”</em> dan <em>“tidak bisa diverifikasi”</em>. Jika seorang perawi dikatakan tsiqat oleh ulama maka tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menerima atau jika mau menolak maka harus merujuk pada ulama lain pula. Tidak ada suatu metode yang bisa digunakan untuk memastikan <span style="text-decoration:underline;"><em>apakah penilaian seorang ulama terhadap suatu perawi adalah benar atau keliru</em></span>. <span id="more-144"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Celah ini akan semakin nyata dengan adanya fakta bahwa terkadang <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>para ulama memberikan penilaian kepada perawi yang hidup jauh sebelum mereka</em>.</span> Bagaimana para ulama bisa mengetahui kredibilitas perawi yang tidak pernah mereka temui?. Bisa jadi dari guru-guru mereka atau bisa jadi dari penilaian mereka terhadap hadis perawi tersebut. Misalnya seorang perawi dari golongan tabiin meriwayatkan suatu hadis yang matannya tentang keutamaan Ahlul Bait dan menurut seorang ulama matan tersebut mungkar maka ulama tersebut akan mencacat perawi tabiin tersebut. Cara seperti ini memang terkesan agak subjektif dan itulah sebabnya mengapa terdapat perbedaan pendapat para ulama tentang kedudukan seorang perawi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan besar terkait tulisan ini adalah bagaimana jika <span style="color:#ff0000;"><em>seorang perawi tersebut ternyata telah di-jarh oleh Allah dan Rasul-Nya?</em></span>. Masihkah ia dijadikan hujjah hadis-hadisnya?. Kalau iya maka bagaimana sebenarnya kredibilitas yang dimaksud dalam ilmu hadis.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا أحمد بن منصور بن سيار ، قال : نا عبد الرزاق ، قال : أنا سفيان بن عيينة ، عن إسماعيل بن أبي خالد ، عن الشعبي ، قال : سمعت عبد الله بن الزبير ، يقول وهو مستند إلى الكعبة : « ورب هذا البيت لقد لعن الله الحكم وما ولد على لسان نبيه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur bin Sayaar yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Ismail bin ‘Abi Khalid dari Sya’bi yang berkata aku mendengar ‘Abdullah bin Zubair berkata ketika ia bersandar di dinding Ka’bah <span style="color:#0000ff;">“Demi Rabb yang memiliki bait [ka’bah] ini sungguh Allah SWT telah melaknat <span style="text-decoration:underline;">Al Hakam</span> dan<span style="text-decoration:underline;"> juga anaknya</span> melalui lisan Nabi-Nya</span> <strong>[Musnad Al Bazzar 6/177 no 1942]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا علي بن المنذر الكوفي قال ثنا ابن فضيل بن غزوان قال ثنا إسماعيل بن أبي خالد عن عامر عن عبد الله بن الزبير رضي الله عنهما قال وهو على المنبر ورب هذا البيت الحرام والبلد الحرام إن الحكم بن أبي العاص وولده ملعونون على لسان رسول الله صلى  الله عليه وسلم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Mundzir Al Kufi yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail bin Ghazwan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abi Khalid dari ‘Amir dari Abdullah bin Zubair radiallahu’anhum yang berkata ketika ia berada diatas mimbar “<span style="color:#0000ff;">Demi Rabb yang memiliki baitul haram dan tanah haram, <span style="text-decoration:underline;">Al Hakam bin ‘Abil Ash</span> dan <span style="text-decoration:underline;">anaknya</span> telah dilaknat melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”</span> <strong>[Akhbar Makkah Al Fakihi no 706]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadis ini kedudukannya shahih</strong> diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat. Diriwayatkan dari <em>Ismail bin Abi Khalid dari Amir Asy Sya’bi dari Ibnu Zubair</em> dan Ismail adalah orang yang paling tsabit mengenai riwayat dari Asy Sya’bi.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#0000ff;">Ahmad bin Mansur Ar Ramadi</span> adalah seorang hafizh yang tsiqat. Abu Hatim, Daruquthni, Maslamah bin Qasim, dan Al Khalili menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 143]. Ibnu Hajar menyatakan ia seorang hafizh yang tsiqat [At Taqrib 1/47]. Abdurrazaq bin Hammam adalah seorang hafizh yang tsiqat sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar [At Taqrib 1/599] dan Sufyan bin Uyainah  seorang hafizh tsiqat, faqih, Imam dan Hujjah [At Taqrib 1/371]</li>
<li><span style="color:#0000ff;">‘Ali bin Mundzir Al Kufi</span> adalah perawi Ibnu Majah, Tirmidzi dan Nasa’i yang tsiqat. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Numair berkata “tsiqat shaduq”. Nasa’i berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Daruquthni berkata “tidak ada masalah” [At Tahdzib juz 7 no 627]. Muhammad bin Fudhail bin Ghazwan adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Ali bin Madini, Al Ijli, Ibnu Syahin, Ibnu Sa’ad dan Yaqub bin Sufyan menyatakan tsiqat. Ahmad berkata “hasanul hadis”. Abu Zur’ah berkata “shaduq” [At Tahdzib juz 9 no 660]</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Ismail bin Abi Khalid</span> adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Telah meriwayatkan darinya Syu’bah dan Yahya yang berarti keduanya memandang Ismail tsiqat. Ahmad mengatakan orang yang paling shahih hadisnya dari Sya’bi adalah Ismail bin Abi Khalid. Ibnu Mahdi, Ibnu Ma’in, Nasa’i, Al Ijli, Yaqub bin Abi Syaibah, Abu Hatim, dan Yaqub bin Sufyan menyatakan tsiqat. [At Tahdzib juz 1 no 543]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit” [At Taqrib 1/93]. ‘Amir Asy Sya’bi adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat, faqih dan memiliki keutamaan [At Taqrib 1/461]</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Tidak diragukan lagi kalau hadis ini shahih dan dengan jelas menyatakan kalau <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>Al Hakam bin Abul Ash dan putranya yaitu Marwan bin Hakam adalah orang-orang yang dilaknat oleh Allah SWT dan Rasul-Nya</em>.</span> Al Hakam termasuk orang yang memeluk islam pada saat Fathul Makkah dan ia sudah jelas bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam [Al Ishabah Fi Tamyiz Ash Shahabah 2/104 no 1783] maka menurut definisi sahabat yang dikenal oleh para ulama hadis, Al Hakam termasuk sahabat Nabi. Hanya saja Al Hakam adalah sahabat yang mendapat predikat khusus laknatullah ‘alaih. Bagaimana bisa, bukankah semua sahabat itu adil?. Mau bagaimana lagi begitulah yang disebutkan dalam hadis shahih.</p>
<p style="text-align:justify;">Marwan bin Hakam adalah seorang tabiin, sebagian ulama mengatakan tidak tsabit sima’nya [pendengarannya] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Marwan termasuk orang yang dipercaya oleh Khalifah Utsman untuk memegang jabatan di pemerintahannya.<span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"> Para ulama tetap mengambil hadisnya dan menshahihkan hadisnya.</span> <span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;">Bukhari telah berhujjah dengan hadis-hadis Marwan dalam kitab Shahih-nya</span></span> [Shahih Bukhari no 730, no 3512, no 5793]. <span style="color:#0000ff;"><span style="color:#000000;">Hadis-hadis Marwan juga terdapat dalam kitab <span style="color:#0000ff;">Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah</span> dan <span style="color:#0000ff;">Sunan Nasa’i. Imam Tirmidzi</span> telah menshahihkan hadis Marwan dalam Sunan Tirmidzi 5/233 no 3014 begitu pula <span style="color:#0000ff;">Syaikh Al Albani</span> telah menshahihkan hadis Marwan bin Hakam dalam Shahih Sunan Tirmidzi no 301</span>4.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;">Sepertinya jarh [cacat] dari Allah SWT dan Rasul-Nya tidak cukup untuk membuat ulama menolak hadis-hadis Marwan</span>. Tetapi apakah ada cacat yang lebih jelek dari predikat <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;"><em>“dilaknat Allah SWT dan Rasul-Nya”</em>.</span></span> Kasus seperti ini memang cukup sulit dipahami oleh mereka yang bisa berpikir dengan baik. <strong>Salam Damai</strong></p>
<p>____________________________________________________________________</p>
<p><strong><span style="color:#800000;">UNTUK BERKOMENTAR DAN BERINTERAKSI DENGAN PENULIS SILAHKAN</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2010/08/06/orang-yang-dilaknat-allah-dan-rasul-nya-tetap-diambil-hadisnya/" target="_blank">KLIK DISINI</a></strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/ilmu-hadis/'>Ilmu Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/jarah-tadil/'>Jarah &amp; Ta'dil</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/kajian-hadis/'>Kajian Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/kajian-keadilan-sahabat/'>Kajian Keadilan Sahabat</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/perawi-hadis/'>Perawi Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/sahabat-yang-di-laknat-nabi-saw/'>Sahabat Yang di Laknat Nabi saw</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/keadilansahabat.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/keadilansahabat.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/keadilansahabat.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/keadilansahabat.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/keadilansahabat.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/keadilansahabat.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/keadilansahabat.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/keadilansahabat.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/keadilansahabat.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/keadilansahabat.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/keadilansahabat.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/keadilansahabat.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/keadilansahabat.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/keadilansahabat.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keadilansahabat.wordpress.com&amp;blog=22466259&amp;post=144&amp;subd=keadilansahabat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/25/orang-yang-dilaknat-allah-dan-rasul-nya-tetap-diambil-hadisnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a69d94340a8a0712ab444967fe7a9106?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">keadilansahabat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Riwayat Kezaliman Samurah bin Jundub : Contoh Keadilan Sahabat?</title>
		<link>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/17/riwayat-kezaliman-samurah-bin-jundub-contoh-keadilan-sahabat/</link>
		<comments>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/17/riwayat-kezaliman-samurah-bin-jundub-contoh-keadilan-sahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 14:56:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>keadilansahabat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Jarah & Ta'dil]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Perawi Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Yang Kejam dan Sadis]]></category>
		<category><![CDATA[Sisi Lain Sahabat Nabi Saw]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keadilansahabat.wordpress.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Riwayat Kezaliman Samurah bin Jundub : Contoh Keadilan Sahabat? SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran Oleh J Algar Ini ketiga kalinya kami menulis tentang sahabat Samurah bin Jundub. Pada tulisan pertama kami menunjukkan bahwa Samurah bin Jundub telah menjual khamar dan pada tulisan kedua kami menunjukkan hadis Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Samurah bin Jundub berada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keadilansahabat.wordpress.com&amp;blog=22466259&amp;post=150&amp;subd=keadilansahabat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"><strong>Riwayat Kezaliman Samurah bin Jundub : Contoh Keadilan Sahabat?</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span><a href="http://secondprince.wordpress.com/2011/08/07/riwayat-kezaliman-samurah-bin-jundub-contoh-keadilan-sahabat/" target="_blank"> Blog Analisis Pencari Kebenaran</a></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>Oleh J Algar</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ini ketiga kalinya kami menulis tentang sahabat Samurah bin Jundub. Pada tulisan pertama kami menunjukkan bahwa <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/06/11/sahabat-nabi-yang-menjual-khamr-dan-tahrif-imam-bukhari/" target="_blank">Samurah bin Jundub telah menjual khamar</a> dan pada tulisan kedua kami menunjukkan hadis Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa <a href="http://secondprince.wordpress.com/2010/08/07/hadis-sahabat-nabi-yang-masuk-neraka-samurah-bin-jundub/" target="_blank">Samurah bin Jundub berada di dalam neraka</a>. Pada tulisan kali ini kami hanya ingin menunjukkan salah satu kezaliman dari Samurah bin Jundub. <span id="more-150"></span></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثني عمر قال حدثني موسى بن إسماعيل قال حدثنا نوح بن قيس عن أشعث الحداني عن أبي سوار العدوي قال قتل سمرة من قومي في غداة سبعة وأربعين رجلا قد جمع القرآن</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepadaku Umar yang berkata telah menceritakan kepadaku Musa bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami Nuh bin Qais dari Asy’ats Al Hadaaniy dari Abi Sawwaar Al Adawiy yang berkata <span style="text-decoration:underline;color:#800000;">Samurah telah membunuh sekelompok orang dalam suatu pagi yaitu empat puluh tujuh orang yang mengumpulkan Al Qur’an</span> <strong>[Tarikh Ath Thabari 3/208].</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat di atas juga disebutkan oleh Al Baladzuri dengan jalan sanad dari Al Mada’iniy dari Nuh bin Qais dari Asy’ats Al Hadaaniy dari Abu Sawwaar Al ‘Adawiy [Ansab Al Asyraf 2/151]. Riwayat ini diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat sehingga kedudukannya shahih.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#0000ff;">Umar bin Syabbah</span> adalah perawi Ibnu Majah. Ibnu Abi Hatim berkata “aku telah menulis darinya bersama ayahku dan ia seorang yang shaduq”. Daruquthni berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “mustaqim al hadits [hadisnya lurus]”. Al Khatib berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 7 no 768]</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Musa bin Ismail Al Munqaariy</span> adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat ma’mun”. Abu Walid Ath Thayalisi berkata “tsiqat shaduq”. Abu Hatim berkata “tsiqat”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 10 no 585]</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Nuh bin Qais Al Azdiy</span> adalah perawi Muslim dan Ashabus Sunan. Ahmad dan Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Abu Dawud menyatakan tsiqat. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Syahin memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 10 no 877]</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Asy’ats bin ‘Abdullah Al Hadaaniy</span> adalah perawi Bukhari dalam At Ta’liq dan Ashabus Sunan. Syu’bah dan Yahya bin Sa’id meriwayatkan darinya , itu berarti keduanya menganggap ia tsiqat. Nasa’i berkata “tsiqat”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “syaikh”. Ahmad berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 648]</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Abu Sawwaar Al Adawiy</span> adalah perawi Bukhari, Muslim dan Nasa’i. Ia meriwayatkan dari Ali, Hasan bin Ali, ‘Imran bin Hushain dan Jundub bin ‘Abdullah. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat”. Abu Dawud berkata “termasuk orang yang paling tsiqat”. Nasa’i berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 12 no 568]</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Musa bin Ismail dalam periwayatannya dari Nuh bin Qais memiliki mutaba’ah dari Al Mada’iniy sebagaimana yang disebutkan Al Baladzuri. Al Mada’iniy disebutkan oleh Adz Dzahabi bahwa ia adalah ‘Allamah Al Hafizh shaduq. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat tsiqat tsiqat” [As Siyar 10/400-401 no 113]</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;">Walaupun telah mengetahui fakta ini para ulama tetap memakai hadis-hadis Samurah bin Jundub</span>. <span style="text-decoration:underline;color:#800000;">Sepertinya apapun keburukan atau maksiat yang dilakukan sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mereka tetap seorang yang adil</span>. Pasal satu : semua sahabat adil. Pasal dua : jika sahabat berbuat maksiat maka kembali ke pasal satu. Hukum keadilan sahabat termasuk kaidah emas yang sangat diagungkan dalam ilmu hadis. Percaya atau tidak percaya, memang begitulah adanya.</p>
<p style="text-align:justify;">____________________________________________________________________</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#ff6600;"><strong>ARTIKEL TERKAIT SAHABAT SAMURAH BIN JUNDUB</strong></span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><a href="../2011/08/17/2011/08/17/potret-sahabat-samurah-bin-jundub/" target="_blank">Potret Sahabat Samurah bin Jundub</a></li>
<li><a href="../2011/08/17/sahabat-nabi-yang-menjual-khamr-dan-tahrif-imam-bukhari/" target="_blank">Sahabat Nabi Yang Menjual Khamr  dan Tahrif Imam Bukhari?</a></li>
<li><a href="../2011/08/17/hadis-sahabat-nabi-yang-masuk-neraka-samurah-bin-jundub/" target="_blank">Hadis Sahabat Nabi Yang Masuk Neraka : Samurah bin Jundub?</a></li>
<li><a href="http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/17/riwayat-kezaliman-samurah-bin-jundub-contoh-keadilan-sahabat/" target="_blank">Riwayat Kezaliman Samurah bin Jundub : Contoh Keadilan Sahabat?</a></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">____________________________________________________________________</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800000;">UNTUK BERKOMENTAR DAN BERINTERAKSI DENGAN PENULIS SILAHKAN</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2011/08/07/riwayat-kezaliman-samurah-bin-jundub-contoh-keadilan-sahabat/" target="_blank">KLIK DISINI</a></strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/ilmu-hadis/'>Ilmu Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/jarah-tadil/'>Jarah &amp; Ta'dil</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/kajian-keadilan-sahabat/'>Kajian Keadilan Sahabat</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/perawi-hadis/'>Perawi Hadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/sahabat-yang-kejam-dan-sadis/'>Sahabat Yang Kejam dan Sadis</a>, <a href='http://keadilansahabat.wordpress.com/category/sisi-lain-sahabat-nabi-saw/'>Sisi Lain Sahabat Nabi Saw</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/keadilansahabat.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/keadilansahabat.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/keadilansahabat.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/keadilansahabat.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/keadilansahabat.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/keadilansahabat.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/keadilansahabat.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/keadilansahabat.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/keadilansahabat.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/keadilansahabat.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/keadilansahabat.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/keadilansahabat.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/keadilansahabat.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/keadilansahabat.wordpress.com/150/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keadilansahabat.wordpress.com&amp;blog=22466259&amp;post=150&amp;subd=keadilansahabat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keadilansahabat.wordpress.com/2011/08/17/riwayat-kezaliman-samurah-bin-jundub-contoh-keadilan-sahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a69d94340a8a0712ab444967fe7a9106?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">keadilansahabat</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
