Akidah Keadilan Sahabat Dan Kasus Pembunuhan Khalifa Utsman ra.

Akidah Keadilan Sahabat Dan Kasus Pembunuhan Khalifa Utsman ra.

.

Apakah Ali bin Abi Thalib terlibat pembunuhan Khalifa Usman bin Affan? atau beliau sengaja melindungi para pembunuh Usman?

Alqur’an penuh dengan kisah-kisah, dan apa yg terjadi dalam sejarah adalah pelajaran yang paling berharga, maka dari itu membahas kehidupan para sahabat Nabi saw. bukanlah sesuatu yang dilarang, bukan sesuatu yang tabu karena ada tuntunannya didalam Alqur’an. sebagai contoh tentang putra-putra Nabi Ya’kub, istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth yang membangkang kepada suami-suami mereka as., istri Fir’aun yang beriman kepada Nabi Musa as. dll

Lalu bagaimana dengan syair Imam Ahmad bin Ruslam Shahibul Zubat: “Jika ada perselisihan antara para sahabat berdiamlah”. syair itu benar untuk orang awam yang tidak mengetahui kronologi perselisihan tersebut karena dikhawatirkan bersikap membenci para sahabat dengan jalan yang batil, namun tidak berlaku untuk para peneliti yang jujur yang berdasarkan fakta dan bisa menahan emosinya. buktinya para pakar dan sejarawan serta para ahli riwayat tetap saja menyajikan kepada kita bukti-bukti yang mereka temukan.

Lalu bagaimana jika seandainya dari bukti-bukti yang ada tersebut terbukti bahwa para sahabat tersebut telah melakukan kesalahan, bahkan kesalahan yang fatal, seperti membunuh dll.

apakah hal itu tdk akan merusak citra para sahabat? apakah hal itu tidak berarti Nabi saw. gagal mendidik mereka? Jawabannya adalah: 

1. Para sahabat tersebut adalah manusia biasa yang telah memperoleh keistimewaan bersahabat dengan Nabi saw., namun tidak akan keluar dari status manusia biasa yang bisa kebal kesalahan alias maksum (bebas dosa) seperti para Nabi dan Rasul as.

2. Kalau para sahabat tersebut telah melakukan kesalahan, lalu dinisbatkan hal itu sebagai kegagalan Nabi saw. dalam mendidik mereka maka itu adalah logika yang semberono tanpa mau berfikir yang panjang. karena sama saja dengan menuduh Nabi Nuh as. gagal mendidik anak dan istrinya demikian juga dengan Nabi Luth as. gagal mendidik istrinya dan anggapan yang demikian juga bisa mengarah kepada Nabi saw. gagal mendidik pamannya yang kafir yaitu Abu Lahab yang tidak mau menerima dakwa beliau saw.

Tulisan dibawah ini tidak ada tendensi kebencian sama sekali kepada siapa pun dan hanya demi penelitian berdasarkan sejarah yang ada dengan kaidah ilmiah, tulisan ini dimaksud untuk membuktikan bahwa keyakinan “semua sahabat adalah adil” dan alasan pemberontakan yang dilakukan oleh Aisyah ra. terhadap Ali ra. karena menuntut darah kematian Utsman adalah mengada-ada dan sebuah kekeliruan.

Hal ini berdasarkan dari fakta yang memimpin pengepungan dan yang membunuh Utsman bin Affan ra. Berdasarkan dari sumber-sumber kitab Sunni sendiri, bahwa yang membunuh Utsman bin Affan ra. salah satunya adalah sahabat Nabi.

Ibnu Katsir (penulis Tafsir Ibnu Katsir) dalam kitab Al Bidayah Wan Nihayah 7/208 berkata dalam Bab Peristiwa Terbunuhnya Usman bin Affan ra.

.

.
وروى ابن عساكر عن ابن عون أن كنانة بن بشر ضرب جبينه ومقدم رأسه بعمود حديد فخر لجنبيه وضربه سودان بن حمران المرادي بعد ما خر لجنبه فقتله وأما عمروبن الحمق فوثب على عثمان فجلس على صدره وبه رمق فطعنه تسع طعنات وقال أما ثلاث منهن فلله وست لما كان في صدري عليه

.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Aun bahwa Kinanah bin Bisyr memukul rusuk dan ubun-ubun Utsman dengan besi sehingga Beliau tersungkur disebelahnya. Lalu Saudan bin Humran Al Murady memukul lagi hingga beliau al kherbunuh. Kemudian Amru bin al Hamq melompat ke dada Utsman dan pada saat itu beliau menghembuskan nafas yang terakhir lalu ia menikam Utsman dengan sembilan tikaman seraya berkata “Adapun tiga tikaman karena Allah dan enam tikaman karena dendam di dalam dadaku”.

.

Dari penjelasan Ibnu Katsir ini dapat diketahui bahwa salah satu dari pembunuh Utsman ra adalah Amru bin al Hamq dimana mengenai dia Ibnu Katsir dalam Al Bidayah Wan Nihayah 8/48 berkata:

.
عمرو بن الحمق بن الكاهن الخزاعى أسلم قبل الفتح وهاجر وقيل إنه إنما أسلم عام حجة الوداع وورد فى حديث أن رسول الله دعا له أن يمتعه الله بشبابه فبقى ثمانين سنة لا يرى فى لحيته شعرة بيضاء ومع هذا كان أحد الأربعة الذين دخلوا على عثمان
.

Amru bin al Hamq bin al Kahin Al Khuza’i memeluk islam sebelum Fathul Makkah dan peristiwa Hijrah dan ada pula yang mengatakan kalau ia memeluk islam pada Haji wada. Diceritakan dalam suatu hadis bahwa Rasulullah saw berdoa untuknya “semoga Allah memberimu usia yang baik” Ia hidup sampai berumur 80 tahun dan tidak ada sehelaipun uban di janggutnya. Ia adalah salah satu dari empat orang yang menerobos rumah Utsman.

.
Jika melihat sekilas apa yang dikatakan oleh Ibnu Katsir ternyata Amru bin al Hamq adalah salah seorang yang masuk menerobos rumah Usman ketika terjadi pengepungan terhadap Utsman. Secara tersirat Amru dikatakan oleh Ibnu Katsir adalah seorang sahabat Nabi. Berikut penjelasan yang lebih tegas bahwa Amru bin al Hamq adalah seorang sahabat Nabi.

Amru bin al Hamq Al Khuza’i adalah salah seorang dari Sahabat Nabi saw. Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Al Isabah 4/623 no 5822, At Tahdzib juz 8 no 37 dan At Taqrib 1/733 bahwa dia adalah seorang sahabat Nabi dan hadisnya diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Majah dan Sunan An Nasa’i. Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 4146 berkata “Amru bin al Hamq Al Khuza’i seorang sahabat Nabi”.

Ibnu Abi Hatim berkata dalam Al Jarh Wat Ta’dil juz 6 no 1248

عمرو بن الحمق له صحبة

Amru bin al Hamq seorang Sahabat Nabi

.

Jadi dapat disimpulkan bahwa salah seorang dari mereka yang mengepung Utsman dan menerobos rumah Utsman serta diriwayatkan ikut serta dalam membunuh Utsman adalah seorang Sahabat Nabi yaitu Amru bin al Hamq Al Khuza’i.

Hal ini sesuai dengan ucapan Ali bin Abi Thalib ra. dibawah ini…

“Umat ini meminta pertanggung jawabanku terhadap kematian Utsman. Mereka mengira akulah yg membunuhnya. Sekarang Aisyah dan Muawiyah memerangi dan memprovokasi masyarakat agar memusuhiku. Pada suatu saat nanti kalian akan dengar mereka mengatakan, ‘Baik yang terbunuh dan pembunuh berada dalam surga (maksudnya konsep ijtihad yang benar dapat dua pahala dan yang salah dapat satu pahala)’.

Apakah mereka lupa akan ayat Allah?

‘Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka didalamnya (At-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi dan luka-luka pun ada qisasnya.’ (QS. Al-Maidah 45)

‘Dan barangsiapa yang membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia didalamnya…’ (QS. An-Nisa’ 93)

Dikutip dari khotbah panjang Ali bin Abi Thalib ra yg dikenal dengan Khotbah Al-Bayan.

.

Dari fakta diatas bahwa yang membunuh Utsman bin Affan salah satunya adalah sahabat Nabi. Lalu bagaimana dengan keyakinan bahwa “Semua Sahabat adalah Adil” dalam keyakinan mazhab Sunni?

Kemudian alasan Aisyah ra. dan Muawiyah dalam melakukan bughot/memberontak terhadap Ali ra. adalah disebabkan karena menuntut darah Utsman kepada Ali ra. untuk menyerahkan pembunuhnya, nah pertanyaannya kalau “Semua Sahabat adalah Adil”, lantas bagaimana dengan sahabat diatas yang membunuh Utsman bin Affan ra.?

Bukankah dengan adanya keyakinan semua sahabat adalah adil, maka sahabat tidak berhak disalahkan dan tidak bisa dituntut oleh Aisyah dan Muawiyah?

Kalau alasan bahwa Aisyah ra. dan Muawiyah memerangi Ali ra karena ijtihad mereka berdua dan tetap mendapatkan pahala walaupun ijtihadnya salah, maka mengapa pembunuh Utsman yang juga merupakan sahabat Nabi disalahkan? 

Bukankah sahabat Nabi pembunuh Utsman ra juga melakukan ijtihad dalam melakukan pembunuhan terhadap Utsman ra? Bukankah seharusnya dia mendapat satu pahala juga karena ijtihadnya salah?

Lalu dimanakah letak keadilan disini?

Aisyah dan Muawiyah yang mengobarkan perang sesama kaum muslimin dalam pemberontakannya terhadap Ali bin Abi Thalib ra, hingga menyebabkan tewasnya 50.000 kaum muslimin dari dua peperangan tersebut, dihukumi mendapatkan satu pahala, sementara Sahabat Nabi yang hanya membunuh satu orang yakni Utsman bin Affan, dituntut untuk diserahkan sebagai balas ganti penuntutan darah Utsman bin Affan?

Coba diperhatikan kesemrawutan dalam sejarah diatas dalam hubungannya dengan konsep “ijtihad” dan “semua sahabat adalah adil”.

Ini satu contoh kasus saja dan masih ada ratusan kasus lain yang mirip.

Tolong direnungkan dengan sebaik-baiknya, semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua dalam mencari kebenaran.

SUMBER: Kiriman email dari seorang teman

_________________

ARTIKEL TERKAIT

  1. Menengok Sahabat Nabi
  2. Sahabat Nabi saw Dalam Kacamata Al Qur’an dan Sejarah
  3. MAKALA: KEADILAN SAHABAT Menurut Mazhab Dalam Islam
  4. Siapakah Sesungguhnya Sahabat Nabi?
  5. Studi Kritis Hadis Larangan Mencela Sahabat Nabi SAW
Advertisements
%d bloggers like this: