Blog Ini

وَمِمَّنْ حَوْلَكُم مِّنَ الأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُواْ عَلَى النِّفَاقِ لاَ تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُم مَّرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ

Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar (Al Qur’an, S. At Taubah[9]: 101)

________________________

Kita tidak mengingkari bahwasanya sahabat Nabi saw adalah orang-orang yang mulia yang membela Islam dan Nabinya, yang mengikhlaskan harta dan nyawanya dalam membela Islam dan Nabinya… akan tetapi apakah semua sahabat berpredikat seperti itu? apakah hanya dengan bertemu dan bergaul dengan Nabi saw menjadikan mereka  semua secara otomatis menjadi manusia-manusia “foto-copy” dari Nabi saw? apakah nash-nash agama, Al-Qur’an, Hadis begitu juga sejarah membuktikan itu? apakah nash-nash agama tidak membedakan mereka dan mengkwalifikasikan mereka, bahwa diantara mereka ada manusia-manusia teladan dan terpuji atau “Adil” menurut istilah para ulama,  atau  ada pula yang sebaliknya yakni  berperangai buruk, fasiq, munafiq dsb.? Blog ini akan mengkaji masalah itu khususnya sisi lain perbuatan sahabat yang terkesan ditutup-tupi (“Semua apa yang terjadi di antara sahabat hendaknya kita diam” -Kullu Maa Jara Baina as- Sohabah Naskutu-) akibat adanya “Konsep Keadilan Sahabat”

Keadilan sahabat adalah satu doktrin (akidah) khususnya  dalam ilmu hadis, yang meyakini bahwa semua yang dikategorikan sebagai “Sahabat Nabi saw” diyakini ke-adilan-nya, adapun orang yang “Adil” menurut mereka adalah “orang yang memiliki sifat -adalah- yaitu kejujuran, ketulusan, keikhlasan dan kebaikan prilaku bukan orang fasiq atau zalim”.

Kemudian tidak lengkap jika tidak kita sebutkan  difinisi “Sahabat” menurut para ulama. Dan nantinya setiap kata “Sahabat” yang tersebut dalam blog ini akan selalu merujuk kepengertian definisi-definisi ini:

Sahabat menurut Imam Bukhari:

Sahabat adalah seorang muslim yang pernah bersama Nabi saw. atau pernah melihatnya (Fathul-Bari, Ibnu Hajar, III/hal. 2)

Sahabat menurut Imam Ahmad bin Hanbal:

Sahabat Rasulullah saw. adalah siapa saja yang pernah bergaul atau bersahabat dengan beliau saw. baik selama sebulan, sehari, sesaat, ataupun hanya pernah melihat beliau saw.

Sahabat menurut Imam an-Nawawi, beliau mengatakan;

“Yang benar menurut mayoritas adalah bahwa setiap muslim yang pernah melihat Nabi walau sesaat maka ia tergolong sahabat beliau”  (Syarh muslim oleh Imam an-Nawawi 16/85)

Sementara Ibnu Hajar Al Asqolani mendifinisikan “Sahabat” sebagai:

Orang yang berjumpa dengan Nabi saw. beriman kepadanya, dan meninggal dalam Islam. Mereka yang termasuk jumpa ini adalah, orang yang lama bergaul dengan Nabi saw, ataupun yang sebentar, yang meriwayatkan hadisnya atau tidak, yang berperang besertanya atau tidak, yang melihatnya tetapi tidak menghadiri majlisnya, atau yang tidak melihatnya seperti orang yang buta. (“Al Ishobah Fi Tamyiz Al Shahabah”, Ibnu Hajar Al Asqolani, I/hal. 10)

Demikian difinisi Sahabat menurut mayoritas ulama, Dan selanjutnya dalam dunia ahli hadis ada konsep/ilmu yang namanya “Al Jarah dan Ta’dil” yakni ilmu yang dipakai oleh para ahli hadis untuk mengecek keadaan pribadi perawi hadis misalnya apakah seorang perawi itu berprilaku  “Adil” atau sebaliknya yakni cacat (tidak jujur / berprilaku jelek), semua syarat-syarat ini diperlakukan kepada semua perawi kecuali “Sahabat” di kecualikan dari syarat-syarat ini karena semua Sahabat Nabi saw diyakini keadilannya. (Beberapa artikel membahas “Al Jarah dan Ta’dil” bisa dibaca disini, disini dan disini )

Keyakinan seperti itu boleh dibilang dianut oleh mayoritas ahli hadis, dan mereka bersikap ekstim terhadap mereka yang menolak konsep ini, karena itu siapapun yang  berani menilai sahabat atau berani mengkritisi pribadi dan perlakuaan mereka atau menilai buruk mereka maka para ulama hadis tidak akan segan-segan menvonisnya sebagai Zindîq (orang yang lepas dari ikatan agama dan norma-norma langit), ahli bid’ah, menyimpang dari kebenaran ataupun kecaman-kecaman lainnya yang tidak kalah seramnya.

Imam Abu Zur’ah seorang tokoh besar ahli hadis dan guru Imam Muslim berkata:

Jika engkau menyaksikan seorang mencela-cela seorang dari sahabat Rasulullah saw. maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang zindîq, sebab sesungguhnya Rasulullah saw. itu haq, Al Qur’an itu haq, apa yang dibawa Nabi itu haq, dan yang menyampaikan itu semua kepada kita adalah para sahabat. Maka siapa yang mencacat mereka sesungguhnya ia sedang berusaha membatalkan Al Qur’an dan Sunnah, karenanya mencacat mereka lebih tepat dan menvonis mereka sebagai zindîq, sesat, berdusta dan kerusakan adalah lebih lurus dan lebih berhak. (“Ash Shawâiq al Muhriqah”; Ibnu Hajar al Haitami, Penutup:211. Juga dalam “Al Ishobah” karya Ibnu Hajar Al Asqolani, I/hal. 18)

Doktrin seperti ini menurut kami tidak dapat dibenarkan dan bertentangan dengan nash-nash agama, Al Qur’an maupun Hadis Nabi saw begitu juga realita sejarah tidak membenarkan keyakinan (doktrin) tersebut. Untuk sementara Blog ini akan mengumpulkan bukti-bukti tersebut dari berbagai sumber tulisan/artikel.

Advertisements
%d bloggers like this: