Siapa Bilang Kaum Munafik Bukan Sahabat Nabi Saw.?!

Siapa Bilang Kaum Munafik Bukan Sahabat Nabi Saw.?!

SUMBER: jakfari.wordpress.com

Oleh Ibnu Jakfari

Sekali lagi Anda saya ajak melihat dari dekat kerancuan konsep keadilan seluruh sahabat yang menjadi andalan Mazhab Sunni dalam mempertahankan berbagai doktrinnya di samping kerancuan dan celah yang sudah saya sebutkan dalam beberapa artikel sebelumnya.

Apabila ada peneliti yang menyajikan data-data penyimpangan, pelanggaran, pembangkangan para sahabat mereka (ulama Sunni dan tentunya juga kaum awamnya) segera mengatakan mereka yang disebutkan dalam data-data dan nash (Al Quran dan Sunnah) adalah kaum munafik! Dan kaum munafik bukan termasuk sahabat Nabi saw! Jangan masukan munafik ke dalam daftar sahabat Nabi Saw.! Munafik ya munafik!

Demikianlah kurang lebih pembelaan yang mereka lontarkan.

Tetapi benarkan kaum munafik itu bukan sahabat Nabi Saw.? Baa Selanjutnya

Advertisements

Sahabat Nabi Yang Dikatakan Munafik Dalam Shahih Muslim?

Sahabat Nabi Yang Dikatakan Munafik Dalam Shahih Muslim?

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

Oleh J Algar

Judul yang sensasional, mungkin ya tapi silakan dibaca dulu dengan seksama dan berikan penilaian yang objektif. Pembicaraan seputar sahabat Nabi memang sangat sensitif, setidaknya bagi kalangan tertentu. Kenapa? Karena sahabat Nabi lebih dikenal sebagai orang-orang yang mulia, suri tauladan yang agung dan orang yang berjasa besar bagi umat Islam. Saya tidak menyangkal hal itu, tetapi seperti biasa cara berpikir fallacyus ala generalisasi yang menjangkiti sebagian orang terkadang mengundang tanda tanya bagi orang  yang mau menggunakan akalnya. Mereka beranggapan bahwa sahabat Nabi tidak boleh dikritik, barang siapa yang berani mengkritik sahabat Nabi maka tak peduli kritikannya benar atau tidak, ia akan dianggap telah mencela sahabat Nabi. . Baca Selanjutnya

Nabi Saw Mengusir Sahabat Munafiq Dari Masjidnya

Nabi Saw Mengusir Sahabat Munafiq Dari Masjidnya

SUMBER: jakfari.wordpress.com

Oleh Ibnu Jakfari

.

Demi Kemantapan Akidahmu, Jangan Baca Hadis Ini!

Seorang santri aktif nun lugu datang menemui sang Kyai dengan perasaan gundah bingung dan diliputi perasaan ingin tau… ia datang tidak seperti biasanya… setelah mencium tangan penuh berkah sang Kyai, ia pun duduk bersimpuh di hadapannya seakan di atas kepalanya ada seokor burung…. Sang Kyai bertanya, anakku, gerangan apa yang sedang kamu alami, sepertinya ada yang mengguncang jiwamu? Coba jelaskan, pasti Kyaimu ini akan menenagkan kegaduhan jiwamu itu!

Benar, Kyai, ada sesuatu yang benar-benar telah membuat jiwaku guncang, pikiranku gaduh dan yang lebih mengerikan lagi, tambahanya, akidahku yang telah Romo Kyai tanamkan seakan hendak tercabut sampai ke akar-akarnya! Baca Selanjutnya

Sahabat Nabi Yang Dikatakan Fasiq Dalam Al Qur’anul Karim

Sahabat Nabi Yang Dikatakan Fasiq Dalam Al Qur’anul Karim

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

Dengan dalih konsep “Keadilan Sahabat” Seorang sahabat yang jelas-jelas berdusta kepada Nabi SAW dan di cap Fasiq oleh Allah SWT, maka riwayatnya pun tetap diandalkan oleh para ulama ahli hadis (Ahlussunnah) salah satu contoh adalah al Walid bin Uqbah (Admin: Keadilan Sahabat)

Oleh J Algar

Allah SWT telah mengingatkan Umat Islam agar berhati-hati terhadap setiap kabar yang disampaikan oleh orang Fasik dan harus diteliti terlebih dahulu kebenarannya. Karena barangsiapa mengambil keputusan berdasarkan keterangan orang fasik tersebut dimana pada saat itu orang fasik tersebut telah berdusta atau keliru maka itu berarti telah mengikuti jalan kerusakan. Padahal Allah SWT telah melarang kita umat islam untuk mengikuti jalan kerusakan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al Hujurat 6-8. Continue reading

Imam Tsiqat Ikut Membunuh Utsman Atau Sahabat Nabi Yang Masuk Neraka?

Imam Tsiqat Ikut Membunuh Utsman Atau Sahabat Nabi Yang Masuk Neraka?

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

Oleh J Algar

Judulnya memang agak bombastis tetapi judul tersebut adalah cerminan dari hadis shahih yang rasanya agak jarang dikutip oleh salafiyun. Hadis tersebut mengabarkan tentang perselisihan antara seorang mukhadhramun yang dikenal tsiqat dengan seorang sahabat Nabi. Mereka saling mengungkap keburukan masing-masing, salah satu menuduh yang lain sebagai salah seorang pembunuh Utsman dan sebaliknya orang tertuduh membawakan hadis Nabi kalau si penuduh itu masuk neraka. Kalau tidak percaya, silakan perhatikan hadis berikut. Continue reading

Potret Sahabat Nabi saw al Walîd bin ‘Uqbah

Potret Sahabat Nabi saw al Walîd bin ‘Uqbah

SUMBER:jakfari.wordpress.com

Dengan dalih konsep “Keadilan Sahabat” Seorang sahabat yang jelas-jelas berdusta kepada Nabi SAW dan di cap Fasiq oleh Allah SWT, maka riwayatnya pun tetap diandalkan oleh para ulama ahli hadis (Ahlussunnah) salah satu contoh adalah al Walid bin Uqbah -Admin: Keadilan Sahabat-

Oleh Ibnu Jakfari

Sahabat agung  -“jalîl”- lain kebanggaan Ahlusunnnah adalah al Walîd bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith saudara seibu Khalifah Utsman bin Affân yang hingga masa kekhalifahaannya ia percayai untuk menjabat sebagai Gubenur kendati ia fasik.

Tentang siapa dan bagaimana sepak-terjangnya yang mungkin dapat “menjadi teladan” bagi para pemuda  Salafy/Sunni penuh semangat, simak uraian di bawah ini!

Ibnun Hajar al Asqallâni memperkenalkan kepada kita tentang siapa sejatinya al Walîd bin ‘Uqbah, ia berkata, “Al Walîd bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith … al Umawi, saudara seibu Ustman bin Affân ibu mereka bernama Arwâ binti Karîz bin Rabî’ah…

Ayahnya (‘Uqbah) dipancung setelah selesai parang Badr. Ia (‘Uqbah) sangat membenci dan ganas terhadap kaum Muslimin, banyak mengganggu Rasulullah saw. ia ditawan dalam perang Badr lalu Nabi saw. memerintahkan agar ia dibunuh. Ia barkata, ‘Hai Muhammad (jika engkau bunuh aku) siapa yang akan mengurus anak-anakku?’ Nabi saw. berkata, ‘Anak-anakmu untuk neraka!Baca Selanjutnya

Orang Yang Dilaknat Allah dan Rasul-Nya Tetap Diambil Hadisnya?

Orang Yang Dilaknat Allah dan Rasul-Nya Tetap Diambil Hadisnya?

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

Oleh J Algar

Salah satu masalah besar dalam ilmu hadis adalah inkonsistensi terkait dengan jarh [celaan] dan ta’dil [pujian]. Bagi orang awam ilmu hadis terkesan begitu ilmiah dimana setiap perawi yang menyampaikan hadis mesti dinilai kredibilitasnya tetapi mereka tidak memperhatikan kalau penilaian kredibilitas perawi bersifat “apa adanya” dan “tidak bisa diverifikasi”. Jika seorang perawi dikatakan tsiqat oleh ulama maka tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menerima atau jika mau menolak maka harus merujuk pada ulama lain pula. Tidak ada suatu metode yang bisa digunakan untuk memastikan apakah penilaian seorang ulama terhadap suatu perawi adalah benar atau keliru. Baca Selanjutnya